*Oleh Hartatik Febriani, S.M.

Buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat karya Mark Manson merupakan buku pengembangan diri yang mengajak pembaca melihat kehidupan secara lebih realistis. Penulis menegaskan bahwa kunci untuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih bahagia, bukan dengan terus memaksa diri untuk selalu berpikir positif, melainkan dengan belajar menghadapi masalah dengan cara yang lebih jujur dan sehat.

Mark Manson, yang dikenal sebagai blogger populer, mengkritik kebiasaan manusia modern yang memiliki harapan berlebihan terhadap diri sendiri dan dunia. Ia menilai bahwa banyak orang terjebak pada tuntutan untuk selalu sukses, bahagia, dan luar biasa, padahal kenyataannya manusia memiliki keterbatasan. Menurutnya, tidak semua orang bisa menjadi istimewa, dan hal tersebut bukanlah sebuah kegagalan pribadi.

Dalam buku ini, Mark Manson menekankan pentingnya mengenali batasan diri dan menerimanya. Penerimaan terhadap keterbatasan justru menjadi sumber kekuatan sejati. Ketika seseorang berhenti melarikan diri dari rasa takut, kegagalan, dan ketidakpastian, lalu mulai menghadapinya dengan berani, maka pada saat itulah kepercayaan diri dan keteguhan hidup akan tumbuh.

Penulis juga menjelaskan bahwa manusia memiliki energi kepedulian yang terbatas. Oleh karena itu, seseorang harus bijaksana dalam menentukan hal-hal apa yang pantas untuk dipedulikan. Bersikap “bodo amat” dalam konteks buku ini bukan berarti tidak peduli sama sekali, melainkan tidak membuang energi untuk hal-hal yang tidak penting atau tidak sejalan dengan nilai hidup pribadi.

Buku ini disampaikan melalui cerita-cerita kehidupan, pengalaman pribadi penulis, serta humor yang tajam dan apa adanya. Gaya bahasa yang santai dan terkadang kasar digunakan untuk menggugah pembaca agar lebih jujur terhadap diri sendiri. Melalui pendekatan tersebut, Mark Manson mengajak pembaca untuk menjalani hidup dengan lebih sederhana, realistis, dan apa adanya, tanpa tekanan untuk selalu tampil sempurna.

Mark Manson menjelaskan bahwa terlalu keras berusaha untuk menjadi bahagia justru membuat seseorang semakin tertekan. Ia mengkritik budaya motivasi berlebihan dan mengajak pembaca untuk berhenti memaksakan diri. Kebahagiaan tidak datang dari kepura-puraan, tetapi dari penerimaan terhadap kenyataan hidup, termasuk kegagalan dan kekurangan diri. Mark Manson menegaskan bahwa hidup selalu dipenuhi masalah, dan kebahagiaan bukan berarti hidup tanpa masalah. Kebahagiaan justru muncul ketika seseorang mampu memilih masalah mana yang layak dihadapi dan diperjuangkan. Penulis mengajak pembaca untuk berhenti menghindari masalah dan mulai memecahkannya.

Penulis membongkar anggapan bahwa setiap orang harus menjadi luar biasa. Mark Manson menyampaikan bahwa tidak semua orang ditakdirkan menjadi istimewa, dan itu bukanlah hal yang salah. Dengan menerima bahwa diri kita biasa saja, seseorang justru bisa hidup lebih tenang dan realistis. Penulis membahas bahwa penderitaan adalah bagian penting dari kehidupan. Setiap orang pasti mengalami rasa sakit, kegagalan, dan kekecewaan. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang memaknai penderitaan tersebut. Nilai-nilai hidup yang tepat akan membantu seseorang bertahan dan berkembang melalui penderitaan.

Mark Manson menekankan bahwa setiap orang selalu memiliki pilihan, termasuk dalam merespons masalah dan tragedi. Meskipun seseorang tidak memilih apa yang terjadi padanya, ia tetap bisa memilih sikap dan tindakan. Bab ini juga membahas tanggung jawab pribadi dan bahaya sikap menyalahkan diri atau orang lain secara berlebihan. Mark Manson mengajak pembaca untuk menyadari bahwa keyakinan dan cara berpikir manusia sering kali keliru. Mark Manson menekankan pentingnya kerendahan hati dalam berpikir, tidak merasa paling benar, serta berani mempertanyakan apa yang selama ini dipercaya. Sikap terbuka akan membuat seseorang terus berkembang.

Kegagalan dipandang sebagai bagian penting dari proses menuju kesuksesan. Penulis menegaskan bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan pelajaran. Tanpa kegagalan, seseorang tidak akan belajar, tumbuh, dan menjadi lebih kuat. Penulis menyoroti pentingnya menetapkan batasan dalam hidup. Dengan berani berkata “tidak”, seseorang dapat menjaga energi, waktu, dan kesehatan mentalnya. Komitmen dan batasan yang jelas justru memberikan kebebasan sejati dalam hidup. Bab terakhir membahas kematian sebagai pengingat bahwa hidup itu terbatas. Kesadaran akan kematian membantu seseorang fokus pada hal-hal yang benar-benar penting. Dengan memahami keterbatasan hidup, pembaca diajak untuk menjalani hidup dengan lebih bermakna dan jujur pada diri sendiri.

Kesimpulan “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat”

Buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat memberikan pesan bahwa hidup tidak harus selalu sempurna dan bahagia. Dengan memilih hal-hal yang penting untuk dipedulikan dan menerima kenyataan hidup, seseorang dapat menjalani hidup dengan lebih tenang dan bermakna. Buku ini cocok dibaca oleh siapa saja yang sering merasa tertekan oleh tuntutan hidup, asalkan pembaca dapat memahami makna “bodo amat” secara bijak dan tidak berlebihan.

Kelebihan buku ini:

Bahasa yang digunakan santai, ringan, dan mudah dipahami oleh pembaca. Isi buku relevan dengan kehidupan sehari-hari, terutama tentang masalah, kegagalan, dan tekanan hidup. Mengajak pembaca berpikir realistis dan menerima diri apa adanya. Memberikan sudut pandang baru bahwa tidak semua hal harus dipikirkan secara berlebihan.

Kekurangan buku ini:

Menggunakan kata-kata kasar atau tidak sopan di beberapa bagian sehingga kurang cocok untuk semua pembaca. Gaya bahasa yang terlalu santai bisa terasa kurang formal bagi pembaca tertentu. Beberapa pembahasan terasa berulang dengan inti pesan yang hampir sama. Tidak semua pembaca bisa langsung menerima konsep “bodo amat” tanpa salah paham. (ykib/tatik).

Identitas buku

Judul buku          : Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat

Judul asli              : The Subtle Art of Not Giving a Fuck

Penulis                 : Mark Manson

Penerbit              : PT Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo)

Tahun terbit       : 2022

Halaman              : 256 halaman

ISBN                      : 978-602-05-2854-0

 

*Penulis resensi buku adalah Wakil Kepala Kampung Ilmu Purwosari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *