A Tribute To Others

*Oleh Husnun Mahidin, S.Pd.

Buku A Tribute to Others merupakan salah satu karya Jamil Azzaini yang menonjolkan kekhasan gaya menulisnya yaitu sederhana, penuh contoh konkret, namun sarat kebijaksanaan hidup. Jamil menghadirkan gagasan bahwa hidup yang bermakna bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi tentang bagaimana seseorang menghargai, meninggikan, dan mendukung manusia lainnya. Tema ini terasa sangat relevan di era modern, ketika banyak orang sibuk mengejar panggung pribadinya, popularitas, kenyamanan, dan validasi sosial, tetapi lupa bahwa kualitas hidup justru tercipta dari hubungan antarmanusia.

Buku ini tidak hanya memberikan teori tentang pentingnya berbuat baik atau membangun hubungan. Lebih dari itu, ia menunjukkan bagaimana seseorang dapat menjadi “pemberi panggung” bagi orang lain melalui langkah-langkah konkret, strategi kepemimpinan, pola pikir, dan kerendahan hati.

Bab 1 – Hidup Adalah Panggung

Bab ini membuka wawasan pembaca mengenai cara memaknai hidup sebagai sebuah “panggung” tempat manusia memainkan perannya. Panggung di sini bukan semata-mata tempat pertunjukan, melainkan simbol dari kesempatan hidup. Setiap orang berada di panggungnya masing-masing, tetapi nilai panggung itu bukan berasal dari gemerlapnya, melainkan dari siapa saja yang hadir di dalamnya.

Penulis memberikan contoh nyata dari kehidupan Robin Williams, seorang komedian legendaris yang mampu membuat jutaan orang tertawa, tetapi justru merasa kosong di dalam. Contoh ini menjadi pengingat bahwa popularitas tidak selalu sejalan dengan kebahagiaan. Seseorang dapat memiliki fans, sorotan kamera, dan penghargaan, namun tetap merasa sepi karena tidak ada relasi yang bermakna dalam hidupnya.

Bab 2 – Menjadi Terhormat Karena Menyiapkan Panggung

Dalam bab ini, Jamil menggeser fokus dari mencari panggung menjadi menyiapkan panggung bagi orang lain. Ia membawa gagasan bahwa seseorang akan mendapatkan kehormatan bukan karena ia berdiri paling depan, melainkan karena ia mempersiapkan tempat bagi orang lain untuk tampil lebih baik.

Ia mengangkat kisah Tenzing Norgay, pendaki yang membantu Sir Edmund Hillary mencapai puncak Everest. Meski bukan Tenzing yang terkenal, ia adalah sosok yang memampukan keberhasilan itu terjadi. Kisah ini menjadi ilustrasi bahwa:

Ada orang yang memilih tetap di belakang panggung.

Ada yang tidak mengejar sorotan, tetapi justru mengangkat orang lain.

Dan merekalah yang sesungguhnya memiliki hati pemimpin.

Bab 3 – Menaikkan Daya

Bab ketiga berisi penjelasan mengenai cara meningkatkan “daya” atau kapasitas diri melalui relasi. Jamil membagi peningkatan daya ini ke dalam tiga fokus utama:

  1. Orang yang Menjadi Tanggung Jawab Utama Kita

Setiap orang memiliki lingkar amanah: keluarga inti, pasangan, anak-anak, orang tua, dan beberapa orang kepercayaan. Keberhasilan dalam hidup sering muncul ketika seseorang memprioritaskan hubungan terdekat ini. Banyak orang justru meraih kegagalan karena mereka sukses di luar tetapi hancur di rumah.

  1. Adanya Hubungan Pekerjaan

Jamil menekankan bahwa hubungan profesional pun harus dijaga dengan kepercayaan, integritas, dan komunikasi yang sehat. Lingkungan kerja yang kondusif akan meningkatkan produktivitas.

  1. Menciptakan Panggung karena Panggilan Jiwa

Bekerja tanpa passion membuat seseorang mudah lelah. Ketika seseorang bekerja dengan panggilan jiwanya, ia tidak hanya bertahan tetapi bertumbuh.

Passion menghidupkan, relasi menguatkan, kontribusi memaknai.

Bab 4 – Syarat Menciptakan Panggung

Bab ini menjelaskan fondasi utama seseorang yang ingin memberi panggung bagi orang lain. Menurut Jamil, syarat utamanya meliputi:

* Mindset dan Heartset yang Tepat

Tidak cukup hanya mengubah pola pikir. Kita juga harus mengubah pola rasa. Sebuah panggung yang tulus membutuhkan hati yang lapang, ikhlas, dan tenang.

* Berorientasi Jangka Panjang

Panggung bukan tentang bantuan sesaat, melainkan dukungan berkelanjutan.

* Proyek Kebaikan

Kebaikan seharusnya bukan spontanitas belaka, tetapi dapat dirancang seperti proyek profesional:

ada visi ada strategi ada evaluasi ada keberlanjutan

Bab 5 – Star: Temukan Bintang

Bab ini berfokus pada potensi diri dan potensi orang lain. Jamil menyebut bahwa setiap manusia memiliki “bintang” yang bisa berkilau. Tugas kita adalah menemukan dan menumbuhkannya.

Bab ini memberikan panduan:

bagaimana mengenali kelebihan diri,

bagaimana mengenali bakat orang lain,

bagaimana memfasilitasi mereka untuk bersinar.

Bab 6 – Synchronize: Selaraskan

Bab ini membahas pentingnya keselarasan dalam kolaborasi.

Menurut Jamil, sebuah tim tidak akan berhasil jika bergerak dalam irama dan tujuan yang berbeda.

Ia membahas dua komponen:

  1. Komitmen Bersama

Tanpa komitmen yang sama, kerja sama hanya akan menjadi beban.

  1. Menentukan Apa yang Mau Digarap

Kolaborasi harus memiliki tujuan yang jelas. Pekerjaan yang kabur membuat energi tim terbuang sia-sia.

Bab ini sangat relevan bagi pemimpin, guru, pelatih, atau siapa pun yang bekerja dalam tim.

Pesannya tegas: selaras lebih penting daripada sekadar bersama.

Bab 7 – Strengthen: Menguatkan

Bab ketujuh membahas cara praktis menguatkan orang lain. Jamil membaginya menjadi empat langkah:

  1. Jadilah Pusat Gravitasi

Seseorang yang memiliki energi baik akan menjadi titik berkumpulnya orang lain. Ia tidak perlu memaksa, kehadirannya saja sudah menguatkan.

  1. Mengasah Diri Tanpa Henti

Agar bisa menguatkan orang lain, seseorang harus terus berkembang. Orang yang stagnan tidak mampu memberi energi kepada orang lain.

  1. Memberi Feedback

Umpan balik adalah bentuk kepedulian. Ketika disampaikan dengan tepat, feedback menjadi alat yang sangat kuat untuk memperbaiki perilaku dan meningkatkan kualitas seseorang.

  1. Mendoakan

Doa adalah dukungan spiritual yang sering dilupakan. Jamil menekankan bahwa doa bisa menjadi cara paling tulus untuk menguatkan seseorang, bahkan tanpa ia tahu.

Bab 8 – Support: Mendukung Sang Bintang

Ini adalah bab tentang bagaimana menjadi pendukung sejati. Banyak orang ingin jadi bintang, tetapi sedikit yang mau jadi support system bagi bintang lain. Dukungan dapat berbentuk: kehadiran, perhatian, masukan, fasilitas, kesempatan, bahkan perlindungan dari bahaya. Buku ini menekankan bahwa nilai seorang manusia terlihat dari seberapa ia mendukung orang lain tumbuh.

Bab 9 – Strategi Skala Prioritas

Bab ini merupakan bagian yang lebih strategis dan teknis. Jamil membahas beberapa pendekatan konkret untuk menerapkan konsep kontribusi sosial dalam dunia nyata.

Sub bagian meliputi:

* Say per Do

Keteladanan adalah prioritas utama. Seseorang yang hanya berbicara tanpa bertindak menciptakan kegagalan moral.

* Akademi Trainer

Penulis menjelaskan visi besarnya mencetak trainer yang mampu “mengubah dunia dengan kata-kata”.

Ia ingin dunia pelatihan bukan hanya berisi motivator, tetapi pendidik yang memiliki integritas tinggi.

* Tahfidz for Leader & Entrepreneur

Program pembentukan pemimpin yang menggabungkan nilai spiritual dan keterampilan kepemimpinan.

* Support Brand Lokal

Menumbuhkan ekonomi bangsa dimulai dari menghargai karya sendiri. Jamil mengajak pembaca mencintai dan mendukung produk lokal.

Bab 10 – Ramai-Ramai Yok!

Bab penutup ini menjadi klimaks dari gagasan buku: kerjasama adalah puncak kehidupan manusia. Melalui metafora “jangan gendong monyet”, penulis menjelaskan bahwa: manusia tidak bisa mengerjakan semua hal sendirian, kita harus belajar berbagi tugas, dan kita harus berani meminta bantuan. Pekerjaan besar, mimpi besar, dan perubahan besar hanya bisa terwujud dengan gotong royong. Bab ini mengajak pembaca bergerak bersama: keluarga, sahabat, rekan kerja, komunitas, dan lingkar sosial lainnya.

Kesimpulan

A Tribute to Others adalah buku yang sarat nilai kemanusiaan. Jamil Azzaini membawa pembaca memahami bahwa:

Hidup bukan tentang panggung pribadi, tetapi panggung yang kita bagikan.

Kesuksesan sejati bukan pada diri kita bersinar, tetapi ketika kita menjadi penuntun, penopang, dan penyemangat orang lain untuk bersinar.

Kebahagiaan berasal dari relasi, kontribusi, dan kebersamaan.

Buku ini sangat cocok bagi:

Pemimpin, pendidik, pelatih, manajer, orang tua, dan siapa pun yang ingin hidupnya lebih bermakna.

Penulis menyampaikan ide-idenya dengan gaya yang hangat, mudah dipahami, namun tetap mendalam. Buku ini bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk direnungkan dan dipraktikkan.

Kelebihan buku:

  1. Bahasa sederhana dan mudah dipahami.
  2. Penuh kisah inspiratif yang menyentuh.
  3. Pesan humanis dan spiritual yang kuat.
  4. Struktur jelas, dari konsep diri hingga kolaborasi.
  5. Relevan untuk pemimpin, guru, dan orang tua.
  6. Mengajak pembaca bertindak, bukan hanya merenung.

Kekurangan buku:

  1. Cenderung terlalu bernuansa motivasi bagi sebagian pembaca.
  2. Beberapa pembahasan kurang mendalam secara teori.
  3. Ada konsep yang terasa umum.
  4. Beberapa subbab kurang dieksplorasi secara mendalam. (ykib/husnun).

Identitas buku

Judul                       : A Tribute To Others

Penulis                   : Jamil Azzaini

Penerbit                : PT Mizan Pustaka

Tahun terbit         : 2016

Jumlah Halaman : 276 Halaman

Jenis                        : Cerita & Motivasi

 

*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Kota Bojonegoro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *