Aku, Kamu, dan Media Sosial

Oleh Reza Umami Khoirunnisa’, S.Si.

Buku ini adalah sebuah gambaran bagaimana Ridwan Kamil atau lebih dikenal dengan sapaan Kang Emil menjawab kegelisahannya. Kerangka berpikirnya, Kang Emil menemukan masalah, alarm tetot berbunyi, kemudian beliau berusaha mencari jawaban yang mudah-mudahan sesuai. Sehingga buku ini pun harus berjudul #TETOT. Buku ini sama sekali bukan buku teori atau analisis tentang bagaimana media sosial mampu menjadi jawaban atas segala macam permasalahan bangsa kita. Buku ini adalah buku mengenai bagaimana interaksi Kang Emil dengan media sosial, bagaimana beliau menggunakannya, mengapa beliau menggunakannya, bagaimana pengalaman menjawab kegelisahan yang beliau hadapi melalui media sosial, dan yang terpenting adalah apa manfaat yang dihasilkannya.

Menurut Kang Emil, secara umum kehidupannya terbagi pada dua periode, pertama, sejak Kang Emil berinteraksi dengan media sosial hingga menjelang menjadi Wali Kota Bandung. Kedua, setelah Kang Emil mendapatkan amanah menjadi Wali Kota Bandung. Karena terkait posisi Kang Emil sebagai warga Bandung dan sekarang menjadi pelayan warga Bandung, maka isi buku ini bicara juga mengenai Bandung.

Tahun 2008, Kang Emil mulai berinteraksi dengan Facebook. Kali pertama beliau bisa eksis di dunia baru, dunia yang menawarkan begitu banyak peluang untuk eksis, menjalin jejaring, mendapatkan kawan baru, dan berbagai sesuatu yang layak dibagi tanpa terhalang jarak dan waktu. Setahun kemudian, Kang Emil bergabung menjadi penduduk resmi Twitter. Di dalamnya, ada banyak kicauan beliau tentang Bandung dan segala hal di dalamnya. Hingga Kang Emil mendapatkan pernghargaan karena dinilai cukup aktif menggunakan Twitter sebagai wadah untuk mendekatkan diri dengan masyarakat Bandung dan lainnya. Pada September 2013 Kang Emil bersama kakaknya mendapatkan amanah berat dari masyarakat Bandung untuk menjadi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bandung.

Ridwan Kamil dikenal oleh masyarakat Bandung bukan sekadar sebagai seorang wali kota. Social investment-nya sudah banyak sejak dari dulu. Jadi, kalau dulu jabatan wali kota dipandang sebagai birokrat yang berjarak, sekarang anak muda di Bandung menganggap Ridwan Kamil sebagai teman. Beliau mampu menghilangkan jarak komunikasi. Orang bisa menyapanya lewat media sosial. Semua warga bisa bertanya (kepadanya) kemudian beliau menjawabnya.

Berkali-kali disindir “kerjanya hanya twitteran”,  dengan santai Kang Emil menanggapinya dengan mengambil contoh apa yang dilakukan Obama via medsos, jauh sebelum ia menjadi presiden Amerika. Work Smart – begitu Kang Emil mengistilahkannya. Nyatanya, keputusannya aktif di dunia media sosial memang ampuh meningkatkan partisipasi warga.

Contoh lain yang berskala internasional adalah dukungan untuk Palestina. Dengan slogan #SavePalestina yang terus dikampanyekan melalui media sosial, Ribuan orang di berbagai daerah di seluruh dunia rela turun ke jalan melakukan aksi solidaritas. Inilah salah satu kekuatan media sosial:  mampu menjadi media kolaborator yang menggerakkan massa. Media sosial dapat menjadi pembentuk gerakan sosial segar yang menginspirasi. Ridwan Kamil pun piawai menggagas aneka program berbasis prinsip seperti Bandung Creative City Forum (BCCF), Gerakan Sejuta Biopori, dan Gerakan Pungut Sampah (GPS). Dari segala macam gerakan yang diinisiasi, sebagai wali kota Bandung, tugas beliau adalah memberi gagasan dan mendorong teman-teman agar menjadi aktif. Sisanya, orang-orang itu narsis dan senang meng-upload foto-foto gerakan ini-itu. Mereka akan mengambil inisiatif untuk menginspirasi teman-temannya agar mau berkontribusi lebih bagi kotanya. Jadilah kemudian media sosial menjadi media yang mengolaborasi segala macam kebaikan dan manfaat.

Media sosial juga akan memperpendek dan mempermudah komunikasi birokrasi yang selama ini selalu berbelit-belit. Dalam rangka mengoptimalkan kinerja pemerintahan kota, Kang Emil merancang sejumlah kebijakan, sebagai berikut:

  1. Mewajibkan penggunaan media sosial di semua dinas pemerintahan dan para pejabat di lingkungan Pemkot Bandung.
  2. Mewajibkan penggunaan sistem LAPOR 1708.
  3. Sistem pelaporan berbasiskan foto.
  4. Membuat program e-kelurahan.

Tidak optimalnya realisasi aneka program Pemkot Bandung selama ini bukan karena programnya buruk, ketiadaan biaya, atau tidak adanya pihak yang mengeksekusi. Salah satu titik hambatnya adalah kurang efektifnya penyampaian informasi kepada masyarakat. Dengan memanfaatkan media sosial, pemerintah kota bisa menginformasikan program-program, berdialog, menampung aspirasi warga, baik berupa keluhan, masukan, maupun kritikan.

Selain arena kebijakan dan interaksi, media sosial juga bisa mengomunikasikan sesuatu yang lebih dekat yakni prinsip hidup. Salah satu keunggulan manusia dibandingkan makhluk lainnya adalah kemampuan untuk melihat dan memahami realitas kemudian memaknainya. Sehingga jangan terkejut jika ada untaian kata yang penuh inspirasi, menggelorakan jiwa, membangkitkan semangat, dan menyalakan cahaya jiwa yang hampir padam. Bangsa Jepang bisa maju karena setiap hari mereka selalu mengucapkan kata-kata motivasi sebelum bekerja. Perkataan yang diulang-ulang atau diafirmasi setiap hari akan masuk ke alam bawah sadar untuk kemudian menjadi karakter.

Indikator bahagianya warga sebuah kota itu ada tiga: mereka bisa tersenyum setiap harinya, mereka disapa atau menyapa teman atau tetangga setiap hari, mereka menemukan sesuatu yang baru setiap harinya. Sehingga diambil kebijakan program Bandung Fun Days, yang diharapkan hari-hari yang dilewati warga Bandung menjadi hari-hari yang berbeda dan menyenangkan. Aktivitas yang tercakup dalam Bandung Fun Days yaitu Senin Gratis Damri, Selasa Tanpa Rokok, Rebo Nyunda, Kamis English, Jumat Bersepeda, Sabtu Kuliner.

Dapat disimpulkan bahwa media sosial selalu memiliki “dua sisi kepribadian”. Pada satu sisi, bisa dijadikan alat untuk menebar kebaikan. Pada sisi lain, bisa dijadikan alat untuk menebar keburukan, kebencian, dan permusuhan.

Pemikiran-pemikiran Kang Emil dalam buku ini bukan hanya membuka wawasan soal pentingnya peran teknologi informasi (khususnya media sosial) dalam menyosialisasikan aneka kebijakan pemerintah. Buku ini juga memperlihatkan betapa ampuhnya media sosial saat ini merangsang kreativitas dan partisipasi publik yang bersifat interaktif alias dua arah.

Saat ini memang sudah banyak birokrat memanfaatkan media sosial tapi hanya jadi alat kampanye. Tidak ada dialog di dalamnya. Sebaliknya, Kang Emil memperlihatkan betapa media sosial pun harus digunakan sesuai kaidahnya sebagai sarana “bersosialisasi”. Kang Emil tidak pernah jaim (jaga image). Beliau menulis tweet apa adanya tanpa sok berfilsafat sehingga warga Bandung pun mengenalnya sebagai sosok pemimpin muda yang gaul, gemar bercanda, asyik, tapi juga cerdas, tegas, dan berbobot. (*/ykib).

Identitas Buku:

Judul Buku: #TETOT: Aku, Kamu, dan Media Sosial

Penulis: Ridwan Kamil (@ridwankamil)

Penerbit: Sygma Creative Media Corp., Bandung

Tahun terbit: 2014

No ISBN : ISBN 978-979-055-559-4

Deskripsi Fisik (Tebal): 363 halaman

Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Kalitidu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *