*Oleh Muhammad Roqib
Apakah Anda pernah mendengar disleksia ?. Anda tak bakal berharap anak Anda mengalami disleksia, bukan. Benar begitu ?. Apa disleksia itu ?.
Disleksia adalah gangguan belajar yang ditandai dengan kesulitan membaca. Disleksia terjadi pada anak-anak dengan penglihatan dan intelektual normal. Tanyai anak umur empat tahun : bisakah kamu mengatakan kata “pelajar” tanpa “pe”? atau bilang, dengarkan tiga bunyi ini : “se”, “ko”, dan “lah”. Bisakah menggabungkannya menjadi “sekolah”. Pertanyaan mudah untuk kebanyakan anak umur empat tahun. Tetapi, hal ini susah sekali untuk pengidap disleksia.
Banyak orang dulu menganggap disleksia itu berarti memahami kata secara terbalik – “ayah” jadi “haya”, atau semacamnya – sehingga disleksia seperti masalah pada penampilan kata. Tetapi disleksia adalah masalah yang lebih mendalam. Disleksia adalah masalah pada cara orang mendengar dan memanipulasi bunyi. Perbedaan antara pa dan da terjadi pada 40 milidetik pertama penyebutan suku kata. Bahasa manusia didasarkan pada asumsi bahwa kita bisa mengerti perbedaan 40 milidetik itu, dan perbedaan antara bunyi pa dan da bisa menjadi perbedaan antara sesuatu yang benar dan salah.
Bisakah Anda bayangkan konsekuensi memiliki otak yang sangat lamban sehingga ketika mempersatukan balok-balok pembangun kata itu, 40 milidetik berlalu terlalu cepat?.
“Jika kita tak punya konsep bunyi bahasa, jika kita hilangkan satu huruf, jika kita hilangkan satu bunyi, dan kita tak tahu harus berbuat apa, menghubungkan bunyi dan tulisan itu sulit sekali,” ungkap Nadine Gaab, peneliti disleksia di Harvard University.
Anda tak bakal berharap anak Anda disleksia, bukan. Benar begitu ?.
Tetapi, disleksia tidak selalu membuat seseorang menjadi suram masa depannya. Anda tidak percaya ?. Mengalami masalah kesulitan membaca di tengah zaman modern ini apakah mungkin membuat seseorang bisa berhasil ?.
Ada sebuah gagasan yang disebut “kesukaran yang berguna” yang membuat orang-orang pengidap disleksia justru berhasil dalam hidupnya. Saya akan berikan beberapa contoh. Yang pertama adalah David Boies, pengidap disleksia. Ia tumbuh di daerah pertanian di perdesaan Ilionis, Amerika Serikat. Dia anak tertua dari lima bersaudara. Orangtuanya guru sekolah negeri. Ibunya selalu membacakan buku untuknya sewaktu dia masih kecil. Dia mengingat apa yang dibacakan karena ia tidak bisa membaca apa yang ada di halaman-halaman buku itu.
David Boies dengan masalah disleksia tak putus asa. Hingga akhirnya ia bisa kuliah hukum di University of Redlands. Tapi, kuliah hukum harus menguasai konsep hukum, dituntut banyak membaca buku hukum, membaca dan menganalisa kasus, dan perundang-undangan.
Pada saat mahasiswa yang lain sibuk mencatat apa yang disampaikan dosen di ruang kelas, David Boeis mendengarkan dengan baik. “Mendengar adalah kebiasaanku seumur hidup. Aku belajar mendengar karena hanya bisa belajar dengan cara itu. Aku ingat apa kata orang. Aku ingat kata yang mereka gunakan,” kata Boies.
Jadi, Boies duduk di dalam kelas di jurusan hukum – selagi orang lain mencatat panjang lebar, mencoret-coret, melamun atau bolak-balik kehilangan fokus. Boies memusatkan perhatian kepada apa yang dikatakan dan mengingatnya.
Kemampuan “mendengarkan” yang dipunyai David Boies itu sangat berguna. Ia lalu menjadi pengacara yang hebat. Ia mendengarkan dengan sangat cermat apa yang disampaikan oleh para saksi, terdakwa, kliennya, hakim dan juri di pengadilan. Berkat kemampuannya yang luar biasa dalam mendengarkan dan mengingat setiap detil kecil yang disampaikan oleh orang-orang di persidangan itulah, dia lebih banyak menang dalam persidangan. David Boies jadi legenda. Anak yang disleksia itu membuktikan bahwa kekurangan – tidak bisa membaca dengan cepat – bukan jadi halangan dirinya untuk sukses. Dia mengembangkan kemampuan yang lain, yaitu kemampuan “mendengarkan” dan “mengingat” dengan sangat baik.
Ada contoh pengidap disleksia lain yang juga cukup terkenal, yakni Gary Cohn, presiden Goldman Sachs, pialang saham di bursa efek Amerika Serikat dan Ingvar Kampard, pendiri Ikea, perusahaan mebel terkenal dari Swedia.
Gary Cohn dan Ingvard Kampard masa kecilnya melalui masa yang sulit karena mengidap disleksia. Tidak bisa membaca dengan baik. Dianggap anak yang lamban belajar, pemalas, dan bodoh. Tetapi, Gary Cohn berhasil mengembangkan kemampuan yang lainnya, yakni “bernegosiasi”. Sebagai orang yang bergelut dalam dunia saham, ia terlatih untuk mengembangkan kemampuan bernegosiasi dan membaca pasar saham. Sementara, Ingvar Kampar, terlatih instingnya untuk mengembangkan usaha perakitan mebel dan perabotan rumah tangga. Pada saat produk perabotan saat itu mahal karena biaya kirim, Ingvar mengembangkan produk perabotan yang bisa dirakit di rumah sehingga produknya itu laris manis.
Kesukaran yang dialami oleh para pengidap disleksia itu ternyata berguna. Sebab, pada saat anak-anak normal tidak merasa kesulitan untuk membaca, mereka merasa sangat kesulitan. Sehingga, anak-anak disleksia dengan kesukaran yang dialaminya itu akan berusaha melakukan sesuatu secara berulang-ulang dengan effort atau kegigihan yang lebih dibandingkan dengan anak-anak normal. Kegigihan dan mencoba berulang-ulang sesuatu itu akan menghasilkan. Ketika seseorang memiliki kekurangan seperti kesulitan membaca, ia akan mengembangkan kemampuan yang lain seperti kemampuan “mendengarkan” dan “mengingat” atau kemampuan “bernegosiasi” atau kemampuan “membuat terobosan” yang mungkin tidak akan pernah terpikirkan oleh orang-orang normal. Akan tetapi, untuk bisa meraih keberhasilan itu, anak-anak pengidap disleksia tentu saja membayarnya dengan pengorbanan yang tidak mudah. (*/ykib)
Penulis adalah guru di Kampung Ilmu Bojonegoro
Dan dosen Universitas Muhammadiyah Gresik

