Animal Farm

*Oleh Tsamrotul Ulum, S.P.

Buku  Animal Farm atau peternakan hewan ini bercerita tentang semua hewan sederajat, tetapi beberapa hewan lebih tinggi derajatnya daripada yang lainnya. Maksudnya adalah ada hewan yang bertugas sebagai pemimpin dan ada yang dipimpin. Tetapi mereka tetap bekerja sama demi mewujudkan tujuan bersama.

Pada bagian awal, buku ini bercerita tentang kumpulan hewan-hewan ternak milik Tuan Jones yaitu ada kuda, babi, domba, anjing, ayam, burung merpati, kambing dan keledai. Mereka sedang mengadakan pertemuan dan pembahasan yang dipimpin oleh si Tua Major (babi putih). Mereka membicarakan tentang hakikat kehidupan hewan yang sebenarnya, apakah mereka masih layak bahagia atau justru sebaliknya. Mereka merasa bahwa dengan kondisi tanah Inggris yang subur dan menyediakan banyak sumber daya alam, sangat berbanding terbalik dengan kehidupan yang menyedihkan, penuh beban kerja keras dan hidup yang singkat karena mereka akan disembelih satu per satu ketika dianggap sudah tidak berguna lagi. Ini dirasakan karena ulah manusia. Manusia adalah musuh utama para hewan-hewan dan harus disingkirkan agar penderitaan dan bencana kelaparan bisa  hilang selama-lamanya. Manusia semata-mata hanya konsumen, mereka bukan produsen. Karena manusia tidak dapat bertelur, tidak menghasilkan susu, tidak membajak sawah, tidak berlari mengejar kelinci. Mereka hanya menyuruh para hewan bekerja dan memberi sedikit makanan agar tidak mati.

Tiga hari berselang setelah rapat akbar itu, ternyata sang Major tutup usia saat terlelap tidur. Meskipun begitu, petuahnya masih menjadi semangat yang membara bagi para penghuni peternakan. Para hewan tetap sepakat dengan visi misinya untuk melawan manusia. Dan beberapa di antaranya masih berusaha menyadarkan hewan-hewan lain yang masih belum menyadari perbudakan yang mereka alami. Si Snowball atau babi yang paling cakap di antara mereka bahkan sudah berani mengganti palang “Peternakan Manor” menjadi “Peternakan Hewan”. Ternyata hari pemberontakan itu terjadi lebih cepat dari prediksi. Hal itu terjadi karena si Tuan Jones belakangan ini menjalani kehidupan yang menyedihkan, ia menjadi orang yang patah semangat dan kehilangan banyak uang karena sebuah kasus hukum. Hari demi hari dihabiskan dengan bermalas-malasan dan mabuk-mabukkan. Ketika hari eksekusi itu terjadi, Tuan jones, istrinya dan para pekerja setianya akhirnya tak berdaya dan memilih kabur meninggalkan peternakan yang dipenuhi para hewan yang murka kepadanya.

Peternakan itu sekarang dikendalikan oleh para hewan-hewan yang ada di sana. Setiap hewan bekerja sesuai dengan kesanggupannya masing-masing. Tak ada yang mencuri, tak ada yang mengeluh jatah makanan, bahkan pertengkaran dan rasa dengki yang dulu dianggap lumrah kini sudah tak pernah dijumpai. Mereka hidup lebih damai dan bebas. Mereka juga selalu mengadakan rapat rutin dan upacara pengibaran bendera dan diakhiri dengan menyanyikan mars “hewan Inggris”.

Tetapi lambat laun, babi yang menjadi “leader” yaitu Snawball dan Napoleon di peternakan itu  bersikap paling berkuasa, karena mereka dianggap paling cakap dan pintar daripada yang lainnya. Susu perah dan buah apel sering sekali cepat habis, padahal hewan yang lain belum sempat mengonsumsinya. Ternyata susu dan apel itu diperuntukkan kepada babi-babi itu, dengan alasan untuk memenuhi gizi agar mereka bisa sehat bugar dan memikirkan strategi perlawanan agar Tuan Jones tidak kembali ke peternakan.

Karena sifat ingin berkuasa antara dua babi yaitu Snawball dan Napoleon, akhirnya mereka saling serang secara halus. Snawball mencuri ide gagasan Napoleon tentang kincir angin di peternakan, dan Napoleon pun berusaha mencari pendukung dengan cara menghasut hewan-hewan lain agar membelanya. Setelah beberapa peristiwa yang terjadi di peternakan, akhirnya para hewan sadar bahwa Snowball adalah hewan yang licik, pengkhianat dan pengecut. Lambat laun Snawball pun terlupakan.

Keadaan peternakan dengan babi dan anjing yang menjadi leader kini tampak makin makmur, tertata dan kaya meskipun tidak menjadikan hewan-hewan lebih kaya, kecuali tentu saja para babi dan anjing. Mereka tidak bekerja fisik dan tidak mencari makan, tetapi kebutuhan makan mereka yang paling banyak dan bagus. Sedangkan hewan lainnya masih hidup seperti dulu yaitu bekerja keras tak kenal waktu, kelaparan dan tidur di atas jerami kering. Bahkan mereka tidak dapat membandingkan mana yang lebih baik antara peternakan Manor (di bawah kendali Tuan Jones) atau peternakan hewan (yang dijalankan dan diatur oleh hewan-hewan itu sendiri). Intinya apabila mereka tidak cakap atau pandai mereka akan terus menjadi rakyat biasa dan bekerja untuk penguasa.

Pesan :

Apabila kita tidak pandai dan tidak ingin menjadi pandai, maka kita akan mudah dipengaruhi dan dikendalikan oleh yang lain. Dan apabila kita memiliki suatu tanggung jawab, baik jabatan atau kekuasaan maka pergunakanlah itu sebaik mungkin dan jangan mudah terlena agar kita tidak redup karena memakan  ketamakan itu sendiri. (ykib/ulum)

Identitas buku:  

Judul : Animal Farm

Penulis : George Orwell

Penerbit : Immortal Publishing

Ketebalan buku : 166 halaman, 13 x 19 cm

ISBN : 978-623-7778-55-4

*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *