Apa yang Benar Bukan Siapa yang Benar

 

Oleh Eti Nurjanah, S.Pd.

            Buku ini menceritakan tentang tiga sahabat yang memiliki karakter yang berbeda watak dan mempunyai kekhasan tersendiri. Yakni Beruk, Penceng, dan Gendon. Ketiganya ingin memecahkan masalah bersama Emha Ainun Nadjib atau akrab disapa Cak Nun (penulis buku ini) mengulas memori sosial yang terjadi di Yogyakarta yang termasuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mengapa Yogyakarta?. Karena Yogyakarta sering dikatakan sebuah ruang atau pengalaman batin yang setiap orang mendapat imajinasi tersendiri di sana.

            Dalam dialog ketiga sahabat tadi yakni Beruk, Penceng, dan Gendon bersama  Simbah (Cak Nun) secara sosial Yogya lebih dikenal dengan budaya, tradisi, ndawuhi dan bebrayan. Tema yang dibicarakan adalah tentang Yogya memangku Indonesia. Kata Yogya memang sangat sensitif, menggetarkan hati dan menaikkan adrenalin. Yogya itu mutiaranya Indonesia, kalau NKRI tanpa Yogya maka akan “growak” ada lubang gelap dalam bangunan karakternya. Yogya dikenal minumannya yaitu ‘wedang uwuh’. Nampak seperti sampah tapi ada filosofi tersendiri dalam wedang uwuh tersebut. Wedang uwuh itu diramu dari macam-macam bahan, yaitu jahe, bunga cengkih, batang cengkih, daun cengkih, kayu secang, pala, daun pala, kayu manis, akar serai, daun serai, gula batu, kapulaga. Dalam wedang uwuh kita bisa bercermin dan menemukan kesalahan-kesalahan bangsa kita ini sehingga kacau balau, kehilangan kedaulatan, tidak percaya diri.

            Menurut Beruk, Yogya secara administratif adalah bagian dari Indonesia. Namun secara historis Yogya berposisi premier dalam proses melahirkan Indonesia. Yogya adalah konstitusi dari Glagah Wangi salah satu titik dari sejumlah titik yang menghamparkan formula metamorphosis sejarah yang diaplikasikan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Keselamatan masa depan NKRI dan seluruh bangsa Indonesia dipangku oleh hikmat sejarah Yogya.

            Dari kata Yogya mengayomi Indonesia, bagaimana maksudnya?. Yang pertama mempertanyakan kembali bentuk, wujud, racikan kebersamaan Indonesia yang sementara ini merupa negara republik dan diadopsi dari bangsa yang bukan Indonesia. Yang kedua, hakikat ngawulo pada sesama manusia sebagai sesuatu yang tidak menciptakan dirinya sendiri, tetapi diciptakan oleh Yang Maha Agung. Dan yang ketiga yaitu agama, tatkala Sang Maha Lembut itu menaburkan informasi tentang dirinya bahwa Ia ahad dzat yang tunggal.

Dalam hal ini Penceng, memberi tanggapan lain mengenai  Tuhan Yang Maha Tunggal mencipratkan dirinya dengan prinsip dan pedoman dalam hidupnya “innalillahi wainna ilaihi rojiun”. Semua apa saja yang berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Dalam hal ini Penceng membeberkan tentang perkara ilat, illat, ilah dan ilahi. Yang artinya dari keempat kata tersebut ilat yang berarti lidah , illat yaitu menyangkut perubahan. Ilah artinya Tuhan dan illahi artinya Tuhanku. Semua itu pertanda bahwa salah satu tempat terpenting dan paling vital dari kehadiran nilai Tuhan adalah ilat. Perubahan diantara perbedaan –perbedaan itu didasaarkan pada illat. Semakin kita menjaga lidah kita, semakin kita disayang oleh Tuhan.

Dari penilaian kedua teman tersebut Gendon yang hanya terdiam memiliki makna tersimpan mengenai hal tersebut. Gendon, Penceng dan Beruk tidak pandai, tidak hebat, tidak juga lantip atau waskita. Mereka tidak punya kebiasan untuk mencari kebenaran bersama-sama. Tidak cenderung datang dengan “biso rumongso”. Malah menantang siapa saja di luar dirinya dengan sikap mental “rumongso biso” , merasa unggul, merasa paling benar, merasa pasti masuk surga, dan semua yang akan ditemuinya adalah para penghuni neraka. Itu pun mereka sibuk dan selalu rebut dengan menyimpulkan “siapa yang benar” dan “siapa yang salah”. Siapa-siapa yang dianggap benar, sehingga dia pro, maka disimpulkan 100%, sedangkan yang salah pasti salah 100 %.

Padahal kalau kita telaah perbedaan itu semua benar tetapi bukan siapa yang benar akan tetapi apa yang benar. Karena patrap setiap pendapat memiliki perbedaan. Cara berpikir masyarakat pun tidak diimpit oleh fatamorgana bahwa kalau ada tokoh, orang, instuisi , komunitas, golongan aliran dan apapun yang dianggap benar ia selalu 100% benar, sementara yang disimpulkan itu sudah pasti salah.  Kebenaran itu tidak selalu diungkapkan. Kebenaran itu utamanya untuk pertimbangan. Diungkapkan atau tidak, harus diperhitungkan akan menimbulkan kemaslahatan ataukah kemudaratan, kebaikan ataukah keburukan, kemajuan ataukah kemunduruan. Menyembunyikan kebenaran terkadang merupakan kebenaran budaya, meskipun di dalam proses peradilan hukum itu pelanggaran dan pemalsuan. Menyatakan kebenaran bisa merupakan tindakan kepahlawanan dan kemuliaan, tetapi bisa memicu keburukan sosial apabila dilakukan tidak pada irama dan momentum tepat konteks tata kelola sosial.

Yang sebernya mau dikejar Beruk, Gendon dan Penceng dari Simbah (Cak Nun) adalah siapa sebenarnya NKRI dengan Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Yang mana atau yang bagaimana maksudnya. Dari siapa atau apa Pancasila menyebut Tuhan Yang Maha Esa?. Kan Indonesia bukan negara Islam. Jadi Tidak Mungkin Tuhan Yang Maha Esa di Pancasila itu mengacu pada Islam dari Allah. (*/ykib).

Identitas buku

Judul buku                   : Apa yang Benar, Bukan Siapa yang Benar

Penulis                         : Emha Ainun Nadjib

Penerbit                       : Penerbit Bentang

Tahun terbit                 : 2020

No ISBN                      : ISBN 978-602-291-8

Jumlah Halaman          : 247 halaman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *