*Oleh Min Qurin Amaliya Qori’a, S.Pd.
Buku Apa yang Benar, Bukan Siapa yang Benar disajikan dalam bentuk narasi dialogis. Tokoh utama yang menjadi pusat percakapan adalah Simbah, seorang figur tua yang bijaksana dan tenang, yang berdialog dengan tiga tokoh lain, yaitu Beruk, Penceng, dan Gendon. Ketiga tokoh ini merepresentasikan berbagai karakter manusia dalam memandang kebenaran: ada yang keras kepala, kritis, polos, hingga penuh prasangka.
Melalui dialog-dialog tersebut, Cak Nun mengajak pembaca untuk menyelami persoalan mendasar tentang hakikat kebenaran. Kebenaran dalam buku ini tidak dipahami sebagai sesuatu yang harus dimenangkan atau diklaim, melainkan sesuatu yang harus dipelajari, dipahami, dan dirawat bersama.
Cak Nun menegaskan bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam memahami kebenaran, sehingga tidak pantas bagi siapa pun untuk merasa paling benar.
Cak Nun mengkritik sikap fanatisme dan ego kelompok yang sering menjadikan kebenaran sebagai alat pembenaran diri. Menurutnya, banyak konflik sosial muncul bukan karena perbedaan kebenaran, melainkan karena keinginan untuk menang dan diakui sebagai pihak yang paling benar.
Melalui renungan-renungan yang mendalam, Cak Nun mengajak pembaca untuk lebih mengedepankan kejujuran hati, akal sehat, dan nurani dalam mencari kebenaran. Ia juga menekankan pentingnya sikap rendah hati dan kesediaan untuk berdialog dengan sesama.
Simbah digambarkan sebagai sosok tua yang bijak, tenang, dan tidak tergesa-gesa dalam menyimpulkan sesuatu. Ia sering menjadi penyeimbang di tengah kegaduhan pikiran Beruk, Penceng, dan Gendon. Dalam beberapa dialog, Simbah tidak langsung menjawab pertanyaan, tetapi justru mengajukan pertanyaan balik yang membuat lawan bicaranya berpikir ulang.
Misalnya, ketika Beruk yang sering mewakili manusia penuh emosi dan merasa paling benar bersikeras bahwa pendapatnya benar karena didukung banyak orang, Simbah justru menimpali dengan pertanyaan sederhana:
“Lha, nek sing akeh kuwi salah piye?”
Dialog ini tampak ringan, tetapi menyimpan pesan mendalam: jumlah pendukung tidak pernah menjadi ukuran kebenaran.
Sementara itu, Penceng sering digambarkan sebagai sosok yang cenderung sinis dan kritis, namun kadang terjebak pada logika menang-kalah. Ia gemar membandingkan siapa yang lebih pintar, lebih alim, atau lebih berpengaruh. Dalam dialog dengan Simbah, Penceng beberapa kali “dipatahkan” bukan dengan kemarahan, melainkan dengan keheningan dan perenungan.
Contohnya, saat Penceng mengatakan bahwa seseorang pasti benar karena ia tokoh besar atau pemimpin, Simbah menanggapi dengan kalimat yang sangat khas Cak Nun:
“Kowe kuwi lagi mbela wonge, dudu mbela benere.”
Kalimat ini menjadi penegasan bahwa banyak konflik lahir bukan karena perbedaan nilai, melainkan karena loyalitas buta kepada figur.
Tokoh Gendon biasanya hadir sebagai representasi masyarakat awam yang lugu, jujur, dan sering bertanya apa adanya. Namun justru dari pertanyaan polos Gendon inilah kebenaran sering tersingkap. Ketika Gendon bertanya, “Yen loro-lorone yakin bener, sing salah sopo, Mbah?”, Simbah tidak memberikan jawaban hitam-putih. Ia justru menjelaskan bahwa manusia sering salah bukan karena niat buruk, tetapi karena ego dan keinginan untuk menang.
Dialog-dialog ini menunjukkan bahwa Cak Nun tidak sedang mencari siapa yang harus disalahkan, melainkan mengajak pembaca menyadari pola berpikir yang keliru. Manusia sering lebih sibuk mempertahankan harga diri, kelompok, atau identitasnya, daripada menguji apakah pendapatnya membawa kebaikan atau justru melukai orang lain.
Gaya Penulisan
Gaya penulisan Emha Ainun Nadjib dalam buku ini bersifat reflektif dan filosofis. Bahasa yang digunakan puitis, tenang, namun tetap mudah dipahami. Penulis sering menggunakan perumpamaan dan contoh sederhana dari kehidupan sehari-hari sehingga pembaca dapat menangkap makna yang mendalam tanpa merasa digurui.
Tulisan dalam buku ini tidak disusun seperti cerita fiksi, melainkan berupa renungan-renungan yang mengajak pembaca berpikir dan merenung secara perlahan.
Kelebihan buku:
- Tema sangat relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini
- Bahasa indah, reflektif, dan penuh makna
- Mengajak pembaca berpikir kritis dan dewasa
- Menumbuhkan sikap toleransi dan rendah hati
- Cocok dibaca oleh berbagai kalangan
Kekurangan buku:
- Tidak memiliki alur cerita seperti novel
- Beberapa bagian membutuhkan konsentrasi dan perenungan lebih bagi pembaca pemula
Kesimpulan
Buku Apa yang Benar, Bukan Siapa yang Benar merupakan bacaan reflektif yang mengajak pembaca untuk lebih bijak dalam menyikapi perbedaan. Emha Ainun Nadjib berhasil menyampaikan pesan bahwa kebenaran tidak boleh dijadikan alat untuk menghakimi orang lain, melainkan sebagai sarana untuk memperbaiki diri dan membangun kehidupan yang lebih harmonis.
Buku ini sangat direkomendasikan bagi pembaca yang ingin memperluas wawasan, menumbuhkan sikap toleran, dan belajar memaknai kebenaran secara lebih dewasa dan manusiawi. (ykib/amel).
Identitas buku:
Judul buku : Apa yang Benar, Bukan Siapa yang Benar
Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Penerbit Bentang
Tahun terbit : 2020
No. ISBN : ISBN 978-602-291-716-8
Tebal : 247 halaman
*Penulis resensi buku adalah Manajer Kampung Ilmu

