Tsamrotul Ulum, S.P.
Novel ini menceritakan tentang perjalanan “patah hati” dari seorang Fiersa Besari bersama dengan kedua temannya yang bernama Anisa Andini atau biasa disapa dengan Prem, kependekan dari “preman” karena ia sangat tomboi (adalah seorang gadis manis berkacamata yang baru sarjana) dan Baduy (seorang pemuda yang dulunya pemandu wisata justru sekarang seorang pengusaha tour and travel). Perjalanan ini dimulai pada bulan April tahun 2013, Fiersa menyebutnya dengan “patah hati menuntunnya berkelana menyusuri Indonesia”.
Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Merak, Banten menuju Bandar Lampung. Setibanya di sana Fiersa mendapat tawaran tumpangan untuk menginap oleh teman yang ia kenal dari media sosial. Fiersa memaksimalkan fungsi media sosial dalam perjalanan ini. Selain untuk meminta bantuan teman “online”nya juga agar ia dan kedua temannya dapat menghemat pengeluaran. Tetapi justru setibanya di sana, dompet Baduy hilang. Setelah ditelusuri kembali tetapi hasilnya nihil.
Perjalanan berlanjut ke Kota Padang, kali ini mereka ditolong oleh Ully teman Baduy, mereka kemudian pergi ke Pantai Air Manis yang merupakan tempat dari kisah si anak durhaka “Malin Kundang”. Setelah beberapa hari di Padang mereka melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi sebelum pergi ke Nias. Lagi-lagi Bung Fiersa memanfatkan media sosialnya dalam perjalanan ini. Ya kali ini mereka dibantu oleh teman twitter Fiersa yang bernama Kiky.
Perjalanan ini tidak hanya untuk melihat dan mengagumi keindahan pesona alam dan masyarakat Indonesia, tetapi perjalanan ini menjadi sebuah renungan dan pemikiran tentang realita hidup yang ada. Seperti yang terbesit dalam lamunan seorang Fiersa saat sedang menikmati suasana di Lawang Park, ia berandai :
“Jika saja dunia nyata seperti sinetron, akan seperti apa kehidupan ini? Yang jahat sudah pasti terlihat jahat dan yang baik pasti akan menyadari bahwa sebenarnya dia sedang diincar dalam kejahatan. Hitam adalah hitam dan putih tetaplah putih, tanpa gradasi keabu-abuan di antara mereka.”
Maksudnya hidup ini adalah sebuah pilihan. Orang bisa menjadi baik ataupun jahat sesuai dengan yang dikehendakinya. Dan orang yang dianggap baik akan selalu menang. Tetapi realitas dalam kehidupan ini tidak seperti itu. Masih banyak orang yang “bertopeng” dalam hidupnya. Di depan orang lain ia sangat manis dan baik hati, padahal di belakangnya orang itu licik dan berbahaya. Justru orang-orang seperti inilah yang harus kita waspadai. Tetapi lagi-lagi dunia ini tidak seperti sinetron yang bisa dengan mudah untuk ditebak alur dan penokohannya.
Pada buku ini juga diceritakan tentang memori masa lalu Fiersa yang membuatnya berani mengambil langkah besar. Dimulai dari Minggu pagi ia membaca koran dan dalam koran tersebut terdapat sebuah artikel dengan judul “Meembuat, Bukan Hanya Mengikuti”. Inti dari artikel ini adalah tentang kesalahan terbesar yang ditanyakan oleh para orang tua kepada anaknya yang baru lulus adalah mau bekerja di mana? Bukan mau membuat apa?. Artikel inilah yang “menampar” Bung Fiersa untuk mengambil langkah besar. Yaitu ia resign dari pekerjaannya dan kemudian merintis usaha studio rekaman. Awalnya masih sangat sepi, tetapi perlahan mulai banyak musisi yang bekerja sama dengannya. Menurut saya pribadi, saya sangat salut dengan langkah yang diambil Fiersa karena tidak semua orang berani melangkah dari zona nyaman dan memulai sesuatu yang baru dari nol lagi. Langkah besar pasti dibarengi dengan resiko yang besar. Tetapi jika kita tidak berani melangkah, kita tidak akan pernah tahu dan tidak akan pernah mengalami suatu perubahan, hidup akan monoton dan stagnan.
Amanat atau pesan :
- Kita haru berani melangkah mencoba hal baru untuk membuat suatu perubahan.
- Sejauh apapun kita melangkah, pergi berkelana tetapi jika dengan membawa kenangan masa lalu yang menyakitkan, akan terasa sia-sia. Karena hal itu bisa menjadi beban tersendiri.
- Sejauh apapun kita melangkah, sejauh apapun jarak yang kita tempuh tempat atau tujuan akhir kita kembali adalah rumah atau keluarga.
- Jangan menilai orang dari penampilannya saja. Karena seperti beberapa tokoh yang ada di cerita seperti Pak Sigolap yang penampilannya menyeramkan justru yang memberikan mereka bantuan secara gratis
Keunggulan Buku :
- Bahasa yang digunakan ringan, mudah dipahami sehingga cocok untuk semua kalangan dan pembaca awam.
- Design bukunya sederhana tetapi menarik.
- Dalam buku juga disertai gambar dari kebudayaan bebebapa wilayah Indonesia. Sehingga membuat kita kenal dan belajar tentang budaya daerah lain.
- Terdapat keterangan tentang kata-kata baru yang ada dalam buku, jadi bisa menambah wawasan kita tentang kata baru atau singkatan kata tersebut.
- Beberapa lembar dalam buku di cetak dengan kertas seperti majalah, sehingga menambah kesan mewah pada buku ini.
Kekurangan :
- Alurnya campuran atau maju mundur. Ketika sedang asyik membaca cerita, kemudian disuguhkan dengan kenangan masa lalu bung Fiersa.
- Kurangnya dialog pada cerita, sehingga cerita ini dari sudur pandang bung Fiersa. Padahal dalam cerita ada 3 tokoh.
- Ada beberapa bagian yang menurut saya tidak perlu diceritakan. Misalnya bagian ketika bung Fiersa sedang mabuk minuman keras atau terpengaruh ganja. Karena menurut saya kurang baik dan tidak sesuai dengan norma agama.
Judul : Arah Langkah
Penulis : Fiersa Besari
Penyunting : Juliagar R.N
Penerbit : Mediakita
Tahun Dicetak : Cetakan ke 7, tahun 2021
ISBN : 978-979-794-561-9
Tebal Buku : 300 Halaman
Penulis resensi buku adalah guru penggerak Kampung Ilmu

