*Oleh Eka Maya Septianing, S.Pd.
Buku Berani Bahagia merupakan buku international bestseller yang terjual lebih dari satu juta eksemplar. Buku Berani Bahagia ini adalah buku terjemahan yang terbit pada tahun 2020 oleh Gramedia Pustaka Utama dengan judul asli yaitu The Courage to Be Happy karya penulis yang berasal dari Jepang yaitu Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga. Buku ini sendiri merupakan lanjutan dari karya buku yang sebelumnya telah ditulis yaitu Berani Tidak Disukai. Berdasarkan karya yang ditulis sebelumnya, di mana buku Berani Tidak Disukai yang menjelaskan terkait masalah hubungan interpersonal, dalam buku Berani Bahagia ini lebih menjelaskan pada implementasi dari gagasan Adler dalam kehidupan.
Buku Berani Bahagia ini berlatar belakang pada waktu tiga tahun berikutnya. Sang pemuda yang pada masa buku Berani Tidak Disukai berprofesi sebagai pustakawan dan kemudian memilih untuk mengundurkan diri, yang kini sudah menjadi guru yang bertekad mempraktikkan gagasan-gagasan dari Adler. Dalam waktu tiga tahun berikutnya, pemuda tersebut mendatangi filsuf itu sekali lagi dengan kegelisahannya setelah mencoba mempraktikkan teori Adler pada profesi barunya yakni sebagai seorang guru. Pemuda itu mengatakan bahwa teori psikologi Adler sebenarnya tidak lebih dari sekadar tumpukan teori kosong yang menyesatkan bahkan merusak generasi muda dengan gagasan-gagasannya, sehingga perlu untuk melepaskan diri dari gagasan-gagasan berbahaya tersebut.
Pemuda bertanya kepada filsuf apakah harus meninggalkan teori Adler. Sang filsuf menjawab bahwa dia tidak mengatakan Adler adalah satu-satunya kebenaran yang bersifat mutlak dan kekal. Dapat dibilang bahwa yang dilakukan oleh filsuf tersebut hanyalah memberikan resep kacamata pada orang lain, dia percaya bahwa ada banyak orang yang bidang penglihatannya menjadi luas dengan kacamata tersebut. Adapun sasaran dari teori yang dikemukakan oleh Adler antara lain: menjadi mandiri dan hidup harmonis berdampingan dengan masyarakat. Dan terdapat perilaku-perilaku yang mendukung sasaran teori tersebut yaitu kesadaran bahwa aku mempunyai kemampuan dan kesadaran bahwa orang-orang adalah kawan seperjuanganku.
Semua orang memulai perjalanan sebagai makhluk yang tidak sempurna, jadi setiap orang pasti pernah merasa minder. Perasaan minder tersebutlah yang dari pada dijadikan hambatan, justru dapat dijadikan stimulan sebagai upaya tumbuh dan berkembang. Kalau kaki manusia bisa berlari secepat kuda, kereta kuda tidak akan pernah ditemukan dan barangkali kendaraan bermotor juga tidak akan pernah ditemukan. Kalau kita bisa terbang seperti burung, pesawat udara tidak akan pernah ditemukan. Kalau kita bisa berenang seperti lumba-lumba, kita juga tidak akan membutuhkan kapal laut dan kompas. Peradaban adalah hasil dari kebutuhan menebus kelemahan biologis manusia dan sejarah manusia adalah sejarah tentang keberhasilannya dalam mengatasi perasaan rendah diri.
Jangan takut kalau orang lain melihatmu, jangan memperhatikan penilaian orang lain dan jangan mencari pengakuan dari orang lain. Selain itu, kau tidak boleh mengintervensi tugas-tugas orang lain, pun tidak boleh membiarkan orang lain mengintervensi tugas-tugasmu. Orang tua lebih dulu menghormati anak-anak. Atasan lebih dulu menghormati bawahannya. Sedemikian rupa sehingga orang yang berperan mengajar memiliki rasa hormat pada orang yang diajar. Tanpa adanya rasa hormat, tidak ada hubunngan interpersonal yang baik dan tanpa hubungan yang baik, perkataan kita tidak akan sampai pada orang lain. Rasa hormat yang kita miliki tidak dibatasi hanya pada orang-orang tertentu, melainkan semua orang bahkan orang asing sekalipun.
Tidak berupaya mengubah seseorang atau memanipulasi orang lain yang ada tepat dihadapanmu. Tidak ada penghormatan yang lebih besar dari pada bisa menerima orang lain dengan tulus dan apa adanya. Dengan penerimaan tersebut seseorang akan mendapatkan keberaniannya. Mulailah dari dirimu, meskipun tidak ada yang memahami atau mendukungmu, kaulah yang pertama kali harus menjadi obor penerang dengan menunjukkan keberanian dan rasa hormat. Yang dibutuhkan dari kita orang dewasa bukanlah teguran, melainkan didikan yang disertai penjelasan yang logis, tanpa emosi, tanpa bahasa yang kasar atau nada suara yang meninggi.
Letakkan prinsip bekerja sama dengan orang lain, bukan prinsip bersaing menjadi yang teratas. Tidak masalah jika ada perbedaan dalam hal pengetahuan, pengalaman atau kemampuan antara diri kita dengan orang lain. Semua orang setara, terlepas dari prestasi akademis atau kinerja yang dimiliki. Ciptakan hubungan pertemanan dengan muridmu. Pandanglah pendidikan sebagai profesi dan bukan karena kita memandangnya sebagai suatu kesenangan atau aktivitas amal, dengan begitu kita bisa melaksanakan tugas-tugas profesional kita dengan penuh tanggung jawab. Semua profesi itu mulia. Jadi hiduplah dengan sungguh-sungguh di sini pada saat ini. Siapapun bisa bahagia, karena bahagia kita, ditentukan oleh diri kita sendiri bukan orang lain. (*ykib/Maya).
Kelebihan dari buku Berani Bahagia ini antara lain:
- Buku terjemahan ini nyaman dibaca dengan penyajian yang masih sama dengan buku pertamanya yaitu Berani Tidak Disukai, berupa dialog antara pemuda dan filsuf yang sangat menginspirasi.
- Isi dalam buku sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari serta mendorong pertumbuhan pada diri.
- Buku ini sangat bagus dan direkomendasikan untuk dibaca oleh para pendidik atau siapapun yang menyukai buku self improvement.
Kekurangan dari buku Berani Bahagia ini antara lain:
- Untuk membaca buku ini diperlukan untuk membaca buku sebelumnya yaitu Berani Tidak Disukai agar mengetahui alur dan jalan ceritanya, dikarenakan buku Berani Bahagia ini merupakan lanjutan cerita dari buku sebelumnya.
- Buku ini terdiri dari banyak halaman sehingga membutuhkan waktu yang lama dalam menghabiskan ceritanya bagi orang yang produktif dalam bekerja.
Identitas buku
Judul buku : Berani Bahagia
Penulis : Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga
Penerjemah : Agnes Cynthia
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2020
Tebal halaman : 303 halaman
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Padangan

