Oleh Muhammad Roqib
Pernahkah Anda suatu kali memarahi anak Anda dengan hanya menatap matanya dengan tajam, lalu dia perlahan – lahan memerah wajahnya, lalu menangis. Ia meminta mainan, misalnya boneka, padahal di rumah sudah banyak sekali boneka koleksinya. Karena tidak dituruti, anak itu pun menangis. Padahal, tidak kita cubit atau jewer. Kita hanya menatap matanya dan wajahnya, lalu bocah itu menatap mata kita lekat-lekat, lalu menangis dan bercucuranlah air matanya. Bocah itu “merengek” meminta perhatian dan meminta keinginannya dituruti.
Bersyukurlah kalau anak kita hanya kita tatap matanya, sebagai tanda tidak setuju, atas apa yang diinginkannya, dan dia mengerti dan sebagai pelampiasannya, dia menangis. Itu tandanya anak kita normal. Dia bisa membaca pikiran kita. Dia bisa membaca emosi kita. Kita harus bersyukur dengan itu. Sebab apa, anak yang normal bisa membaca pikiran, membaca ekspresi, dan emosi orang lain. Tidak begitu halnya dengan anak yang mengidap autisme. Ia tidak bisa membaca pikiran dan emosi orang lain.
Ketika anak menderita autisme, kata Psikolog Inggris, Simon Baron-Cohen, ia mengalami yang disebut “mind blind” artinya kehilangan kemampuan membaca pikiran orang lain. Penderita autisme sulit, atau bahkan mustahil, mengerjakan segala sesuatu sebagai proses-proses manusiawi yang natural dan otomatis. Penderita autisme mengalami kesulitan dalam menafsirkan petunjuk-petunjuk bukan lisan, misalnya gerak tubuh dan mimik wajah atau berpikir dalam kedudukan orang lain atau menarik kesimpulan yang tersirat dari kata-kata harfiah yang diucapkan oleh orang lain. Perangkat pembuat kesan pertama pada penderita autisme pada dasarnya tidak bekerja, dan cara pandang mereka terhadap dunia sama dengan seperti yang terjadi ketika kita gagal membaca pikiran orang lain.
Autisme merupakan gangguan perkembangan otak. Kondisi itu mempengaruhi kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi seseorang dengan orang lain. Ciri-ciri pengidap autisme di antaranya tidak merespon bila namanya disebut. Anak-anak yang normal akan merespon bila namanya disebut atau dipanggil. Kemudian ciri lainnya, anak autisme tidak mampu merespon emosi. Sementara, anak yang normal sangat sensitif dengan emosi orang lain.
Anak yang menderita autisme akan sulit sekali tersenyum ketika menanggapi senyuman orang lain. Ciri lainnya adalah anak dengan autisme tidak suka meniru. Anak dengan kondisi normal cenderung meniru ketika seseorang tersenyum, menepuk, atau melambaikan tangan. Tidak begitu halnya dengan anak penderita autisme. Selain itu, anak dengan autisme tidak suka bermain yang “berpura-pura”. Anak perempuan yang berumur dua atau tiga tahun yang normal misalnya biasanya suka mengasuh boneka miliknya dan berperan sebagai seorang ibu. Sedangkan, anak dengan autisme, hanya fokus pada boneka tersebut.
Orang normal ketika melihat wajah, mereka menggunakan bagian otak yang disebut fusiform gyrus, yakni semacam perangkat lunak sangat canggih dalam otak yang memungkinkan mendeteksi perbedaan di antara ribuan wajah yang kita kenal. Bagaimana pun, ketika orang normal melihat sebuah kursi, mereka menggunakan bagian otak yang sangat berbeda dan memiliki kemampuan jauh lebih rendah, yakni yang disebut inferior temporal gyrus, yang biasanya memang dicadangkan untuk benda-benda biasa.
Sedangkan, penderita autisme, mereka menggunakan bagian otak yang untuk mengenali benda biasa, baik untuk mengenali kursi maupun wajah. Penderita autisme tidak bisa membedakan ekspresi wajah seseorang dengan benda-benda biasa. Dengan kata lain, di tingkat neurologis yang paling mendasar, bagi seorang penderita autisme, wajah hanyalah benda biasa.
Maka bersyukurlah kita sebagai orangtua yang memiliki anak-anak yang mampu membaca pikiran orang lain, mampu membaca emosi orang lain, meski pun terkadang kita menganggap anak-anak sering menangis atau “rewel” apabila meminta sesuatu atau meminta perhatian kita. Itu tandanya anak kita normal.
Meski begitu, anak-anak dengan autisme, bukannya tanpa harapan. Mereka akan menjadi orang-orang yang hebat apabila mendapatkan perhatian, dukungan, dorongan, dan motivasi yang kuat dari orangtuanya, lingkungannya, dan semua pihak yang mendukung anak-anak dengan autisme. Semua pasti ada hikmahnya. Seperti halnya anak-anak dengan disleksia yang pernah saya ceritakan sebelumnya. Semua anak adalah hebat. (*/ykib).
*Penulis adalah guru Kampung Ilmu Bojonegoro
Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik

