*Oleh Ida Laelatur Rosidah, S.Pd.
Bukan Pasarmalam merupakan salah satu karya Pramoedya Ananta Toer yang ditulis setelah Ia dibebaskan dari penjara Bukit Duri pada tahun 1950. Bukan Pasarmalam memiliki perbedaan dengan karya-karya Pramoedya Ananta Toer yang lain, di mana pada buku ini terdapat pantulan aura mistik yang dibalut dalam semangat religiusitas. Tak heran bila buku Bukan Pasarmalam menjadi karya Pramoedya Ananta Toer yang paling disukai oleh Romo Y. B. Mangunwidjaya. Buku ini mengisahkan perjalanan tokoh “Aku” seorang anak revolusi yang pulang dari Jakarta ke kampung halamannya di Blora setelah menerima kabar bahwa ayahnya sedang sakit parah yaitu TBC.
Layaknya seorang anak yang mengkhawatirkan kesehatan ayahnya, tokoh “Aku” mengetahui ayahnya yang sedang jatuh sakit pun lantas menjenguk sang ayah meskipun dengan hati gelisah memikirkan kondisi keuangannya saat ini. Bersama dengan istri, tokoh “Aku” menaiki kereta api dari Jakarta menuju Blora melewati beberapa stasiun yang mengingatkan tokoh “Aku” akan kenangan-kenangan di zaman Jepang dan terbesit kembali pesan yang disampaikan oleh sang paman mengenai kondisi ayahnya yang membuat tokoh “Aku” menggigil. Tiba di stasiun kereta Blora, tokoh “Aku” dan istri menaiki sebuah dokar untuk menuju ke rumah yang sudah lama ditinggalkan itu.
Sesampainya di rumah, tokoh “Aku” menanyakan kondisi kesehatan sang ayah kepada adik-adiknya dan sore harinya tokoh “Aku” bersama istri dan dua adiknya pergi mengunjungi ayah ke rumah sakit. Di dalam kamar No. 13, sang ayah yang terbaring lemah pun tersenyum menyambut kedatangan putra sulung dan menantunya. Tokoh “Aku” melihat sang ayah yang terbatuk-batuk tak sanggup menahan tangisnya. Keduanya saling menanyakan kabar dan bercakap-cakap hingga hari mulai gelap dan sang ayah pun terus melihat jam sebagai pertanda bahwa sang ayah ingin semua yang berkunjung segera pulang.
Melihat kondisi sang ayah yang tidak kunjung membaik membuat tokoh “Aku” merasa khawatir, alhasil ketika paman mengajaknya ke seorang dukun setempat, Ia pun menyetujuinya. Dukun ini sebenarnya seorang guru sekolah rakyat di luar kota yang sudah dinas selama delapan belas tahun. Tokoh “Aku” diberikan sebuah dupa oleh dukun ini untuk direndam ke dalam air minum sang ayah. Setelah memberikan dupa, guru dukun ini pun bercerita bahwa Ia berhutang budi pada sang ayah karena telah memberi perintah untuk membuka sekolah dan memberikan semangat bahwa tak akan terjadi apa-apa meskipun tempat sekolahnya masih ditinggali oleh Belanda.
Beberapa hari setelah tokoh “Aku” datang ke kampung halaman, sang istri mengajaknya untuk segera pulang mengingat kondisi keuangan yang tidak memungkinkan apabila tinggal terlalu lama. Sang ayah yang mendengar percakapan itu pun berkata “Nanti dulu, ya? Tunggu seminggu lagi.” Sambil tersenyum. Seketika tokoh “Aku” dan adik-adiknya menangis mendengar perkataan sang ayah, terlintas pula dalam pikiran bahwa sang ayah akan meninggalkan tokoh “Aku” dan adik-adiknya. Satu minggu berlalu, kondisi sang ayah semakin mengkhawatirkan karena mulai tidak suka makan dan hanya meminta es saja. Berdasarkan perkataan dokter sang ayah memiliki kemungkinan untuk sembuh namun dalam jangka waktu yang lama, akhirnya setelah melakukan pertimbangan tokoh “Aku” dan adik-adiknya memutuskan untuk merawat sang ayah di rumah.
Hari-hari setelah pulang ke rumah, adik dari tokoh “Aku” heran terhadap perkataan sang ayah yang mulai melantur membicarakan jagung yang ditembak dan tiba-tiba pula sang ayah bercerita bahwa Ia tak ingin menjadi ulama, Ia ingin menjadi seorang nasionalis oleh karena itu sang ayah memilih menjadi guru. Setelah puas bercerita, sang ayah meminta tokoh “Aku” dan adik-adiknya untuk meninggalkan kamarnya. Tepat di hari Kamis siang menjelang magrib, sang adik memanggil tokoh “Aku” yang sedang duduk dan minum kopi mengatakan bahwa sang ayah telah tiada. Mendengar perkataan adiknya, tokoh “Aku” berlari menghampiri sang ayah lalu mendekatkan mulutnya ke telinga ayahnya dan melafalkan takbir dan tak lama para tetangga berdatangan dan memberikan bantuan.
Malam di mana sang ayah telah menghembuskan nafas terakhirnya dan akan dikuburkan, para tamu dan teman-teman sang ayah datang melayat. Ada salah satu teman ayah yang berkata: “Mengapa kita harus mati seorang diri? Lahir sendiri pula? Mengapa manusia tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? Aku ingin dunia ini seperti Pasarmalam.” Orang-orang yang mendengar pun hanya tertawa dan tak mengerti maksud ucapan tersebut. Sehari setelah pemakaman sang ayah, ada seorang teman ayah yang berkunjung dan menyampaikan bahwa sebenarnya sang ayah gugur di lapangan politik. Sang ayah terkena TBC karena terlampau kecewa pada keadaan pasca kemerdekaan.
Kelebihan buku Bukan Pasarmalam
- Buku ini menggunakan bahasa yang lugas, tidak bertele-tele, tetapi mampu menyampaikan emosi mendalam tentang penderitaan, kemanusiaan, dan keteguhan hidup.
- Buku ini mengandung nilai kemanusiaan yang kuat seperti nilai empati, bakti kepada orang tua, perjuangan seorang guru, keikhlasan, pergulatan batin manusia menghadapi sakit, kemiskinan, serta kematian.
- Buku ini tidak tebal sehingga bisa diselesaikan dalam sekali duduk namun tetap meninggalkan kesan yang mendalam.
Kekurangan buku Bukan Pasarmalam
- Buku ini berfokus pada refleksi batin dan suasana emosional tokoh “Aku” sehingga alurnya terasa lambat dan sangat personal
- Keseluruhan cerita di buku ini didominasi oleh tema kesedihan, kematian, dan kemiskinan pascarevolusi. Bagi pembaca yang mencari hiburan ringan atau cerita yang optimis, nada melankolis yang konsisten dalam buku ini mungkin terasa cukup berat atau menyesakkan. (ykib/ida).
Identitas buku
Judul buku : Bukan Pasarmalam
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Tahun terbit : 2010
Tebal halaman : 104
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

