Bung Tomo

Oleh Eti Nurjanah, S.Pd.

Kampung Blauran, Surabaya 03 Oktober 1920 di rumah keluarga Kartawan Ciptowijoyo telah lahir seorang anak yang diberi nama Sutomo. Setelah lulus dari HIS ( Sekolah Rakyat) Bapak dan Ibu Sutomo berencana untuk melanjutkannya ke MULO ( Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) sekolah belanda. Awalnya Sutomo menolak karena pasti di sana banyak anak-anak Belanda. MULO adalah sekolah setingkat dengan sekolah Lanjutan Pertama ( SMP) yang berada di Surabaya.

Pada tahun 1932 depresi ekonomi melanda dunia imbasnya sampai di keluarga Kartawan Ciptowijoyo. Akibat depresi ekonomi melanda dunia maka usaha distributor lokal mesin jahit milik ayahnya Sutomo juga terkena imbasnya, sehingga orang tuanya tidak mampu lagi menyekolahkan Sutomo. Sutomo terpaksa meninggalkan pendidikannya di MULO. Keadaan memaksanya untuk tidak melanjutkan sekolah, ia sangat sedih mengalami situasi itu.

Setelah beranjak dewasa Sutomo kemudian bergabung dengan KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia) belakangan Sutomo menegaskan bahwa filsafat kepanduan, ditambah dengan kesadaran nasionalis yang diperoleh dari kelompok ini dan dari kakeknya, merupakan pengganti yang baik untuk pendidikan formalnya. Sutomo masuk organisasi Parindra sebagai sekretaris ranting anak cabang Parindra (Partai Indonesia Raya) Tembok Dukungan, Surabaya 1937. Kemudian pada tahun 1939 Sutomo menjadi ketua kelompok sandiwara Parindra di Surabaya.

Selain itu Sutomo menjadi seorang wartawan freelance dari harian Suara Umum. Waktu terus berlalu, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Sutomo menulis di kantor berita pendudukan Jepang, Domai bagian Bahasa Indonesia. Mendengar berita itu tiba-tiba pasukan Jepang hadir di kerumunan itu. Maka terjadilah saling dorong di antara mereka. Usaha untuk mengibarkan bendera merah putih itu terus merebak.

19 September 1945 hotel Yamato, Sudirman memasuki hotel untuk berunding dengan pihak Belanda yang berada di dalam hotel tersebut. Lalu suasana menjadi kacau, Ploegman dan Sidik meninggal, sementara Sudirman dan Hariyono melarikan diri ke luar hotel. Hariyono dan Kusno Wibowo beserta para pemuda berhasil mendekati dan memanjat dinding dan mencapai puncak gapura hotel, mereka kemudian menurunkan bendera merah putih biru. Haryono dan Kusno merobek warna biru bendera sehingga menjadi bendera merah putih.

Pada tanggal 27 Oktober 1945 Sekutu memberikan ultimatum kepada rakyat Surabaya supaya menyerahkan senjata. Kemudian pada saat Brigadir Mallaby bentrok dengan sekelompok milisi terjadi tembak menembak yang berakhir dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby. Seluruh pemimpin bangsa Indonesia termasuk pemimpin gerakan pemuda bersatu melapor ke Braviaweg. Batas waktu ultimatum itu tanggal 10 November 1945 jam 6 pagi, ultimatum itu ditolak oleh pihak Indonesia dengan alasan Republik Indonesia sudah berdiri. Kemudian Kota Surabaya dibombardir secara besar-besaran dari udara, ditembaki dengan meriam laut dan darat karena menolak ultimatum. Sementara itu kekuatan rakyat mulai bangkit dan bersatu demi mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Dengan persenjataan yang lengkap, tentara Sekutu menghantam siapapun yang mereka temui, termasuk perempuan dan anak-anak.

Kemudian kapal Inggris merapat di Tanjung Perak, utusannya menemui Gubernur Suryo. Utusan itu mengundang Gubernur Suryo agar berunding sengan Drg. Mustopo. Dalam rapat tersebut yang ikut hadir adalah Dr. Sugiri, Moh. Yasin dan Bunga Tomo. Perundingan dilanjutkan karena belum sepakat, pada tanggal 26 Oktober di Gedung Kayoon. Hasilnya pasukan Inggris tidak disusupi Belanda, membentuk biro kontak untuk melucuti senjata Jepang dan memindah Jepang ke luar Jawa.

Ternyata Mustopo yang ikut dalam perundingan tersebut merupakan dosen Shika Daigakku. Makanya mahasiswa yang ikut berjuang dari fakultas kedokteran gigi. Malam itu, 28 Oktober Mustopo meninggalkan pakaian seragam militernya, dia berseragam serba hitam, bersarung dan mengenakan ikat kepala. Mustopo ke markas PRI, menyampaikan strategi perangnya, mengajak pemuda meninggalkan Surabaya. Mustopo mengajak Sudibyo, mahasiswanya serta dua wartawan Wiwiek Hidayat dan Sulemanhadi. Mereka ke Sidoarjo dan Gresik.

Pertempuran Surabaya terjadi kembali, Bung Tomo dan teman-temannya beserta staf lain sedang mengatur strategi yang baru. Keesokan harinya semua anak muda bersiap siap untuk menyerang Sekutu. Mempersiapkan segalanya mulai dari titik penyerangan dilihat dari peta yang telah dibuat Bung Tomo selama rapat.

Dan terjadilah pertempuran tersebut, para pemuda jatuh bergelimpangan dan banyak mayat tergeletak di jalanan. Akhirnya Sekutu menyerah dengan mengibarkan bendera merah putih. Dan para pemuda yang masih hidup melucuti senjata mereka. Semua tentara Sekutu mengaku kalah dan berjanji tidak akan menjajah kembali. Semua orang menyambut dengan gembira.

Lima tahun setelah kemerdekaan Republik Indonesia Bung Tomo terjun dalam dunia politik. Namun ia tidak merasa bahagia dan kemudian menghilang dari panggung politik. Pada tahun 1950-an di Surabaya Bung Tomo berusaha sebagai penolong melalui tukang becak dengan mendirikan pabrik sabun. Karena dinilai cukup banyak mengkritik pemerintahan akhirnya pada tahun 1978 ia ditahan oleh pemerintah Indonesia yang tampaknya khawatir akan kritikan-kritikan yang keras. Baru satu tahun kemudian ia dilepaskan oleh pihak Suharto (presiden pada saat itu) meskipun semangatnya tidak hancur di dalam penjara.

Hari-hari Bung Tomo dihabiskan dengan membaca koran, menonton televisi, bermain bersama anak anak. Kemudian Bung Tomo melaksanakan ibadah haji bersama istrinya. Tiga minggu kemudian anak Bung Tomo yang pertama menerima telepon dari duta besar Indonesia di Arab Saudi yang mengabarkan bahwa Bung Tomo meninggal. Beberapa bulan setelah kematiannya di Tanah Suci, pemerintah Arab Saudi mengabulkan permohonan pemerintah Indonesia dan keluarga Bung Tomo untuk memindahkan kerangkanya yang kemudian dimakamkan di Surabaya.

Gelar Pahlawan Nasional diberikan ke Bung Tomo bertepatan pada peringatan hari pahlawan tanggal 10 November 2008. Keputusan ini disampaikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Kabinet Indonesia Bersatu. (*/ykib).

Penulis adalah guru Kampung Ilmu Purwosari  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *