*Oleh Dwi Rizqi Pangestuti
Novel “Cantik Itu Luka” berkisah tentang kehidupan pada masa penjajahan yaitu seorang wanita di Kota Halimunda, namanya Dewi Ayu. Wanita ini hidup kembali setelah 21 tahun meninggal. Kebangkitan kembali wanita itu membuat warga yang tinggal di sekitar kuburan khawatir.
Wanita ini meninggal pada usia 51 tahun. Sebelumnya, dia adalah seorang pelacur dengan wajah yang sangat cantik. Saat itu, pelacur diburu secara gencar oleh tentara Belanda dan Jepang pada masa perang. Dewi Ayu meninggal setelah melahirkan anak keempatnya yang berusia 12 hari. Tentunya anak keempat juga merupakan hasil dari pekerjaan yang dilakukannya. Ingatan terakhir yang dia ingat adalah dia segera pergi mencari anaknya, yang dia beri nama Si Cantik. Padahal, ketiga anak Dewi Ayu dulunya memiliki wajah yang sangat cantik. Wanita ini tidak pernah menginginkan empat anaknya hidup, sehingga dia mencoba segala cara untuk membunuh janin di dalam perutnya. Kecantikan wajah Dewi Ayu dianggap sebagai kutukan yang membawa banyak kutukan bagi anaknya dan dirinya sendiri.
Tiga putri Dewi Ayu tampil cantik namun juga terkena kutukan. Anak pertama Dewi Ayu, Alamanda, terpaksa menikah dengan jenderal yang tak pernah dicintainya. Lalu, anak kedua Dewi Ayu bernama Adinda menikah dengan laki-laki bernama Kliwon, Kawan Sang Kominas. Jadi Alamanda dan Adinda sangat mencintai pria yang sama. Namun, Adinda tahu Kliwon mencintai kakaknya. Namun, ia tetap menikah dengan Kliwon. Belakangan, anak ketiga Dewi Ayu diberi nama Maya Dewi. Ia menikah dengan seorang berandalan yang dianggap paling berkuasa di Kota Halimunda.
Selanjutnya, anak keempat Dewi Ayu, yakni Cantik. Dia dianggap sebagai wanita terburuk di Kota Halimunda. Dia menerima kutukan yang jelek dan tak terbayangkan dari ibunya. Kecantikan itu tidak pernah dicintai oleh pria mana pun sampai dia tidak pernah menikah. Dewi Ayu akhirnya menemukan jawaban atas penyebab kutukan tersebut. Ternyata kutukan itu berasal dari tangisan laki-laki, tangisan ini terlihat seperti penderitaan karena orang yang dicintainya dipaksa menikah dengan laki-laki lain. Orang yang dicintainya adalah ibu Dewi Ayu, Ma Iyang. Ibu Dewi Ayu menikah dengan pria Belanda bernama Henri Stammler dan melahirkan Dewi Ayu. Pria yang mencintai Ma Iyang membenci Ma Iyang dan Henri Stammler, serta semua keturunannya. Dendam itu menimbulkan kutukan yang menyebabkan seluruh keturunan Ma Iyang dan Henri Stammler menderita seumur hidup.
Kelebihan Novel “Cantik Itu Luka”
- Penulis cerita menggambarkan isi cerita dengan sangat kompleks mulai dari perpaduan cerita kisah sejarah keluarga, sejarah kolonialisme, sejarah perjuangan, komunisme, kisah cinta, dan horor.
- Perpaduan alur maju dan alur mundur yang tertata sangat rapi.
- Gaya penulisannya yang sangat menarik dari penggunaan diksinya. Selain itu, tata bahasa yang digunakan juga sangat rapi.
Kekurangan Novel “Cantik Itu Luka”
- Bahasa yang digunakan dalam novel juga terdapat bahasa sastra yang kurang mudah untuk dimengerti.
- Kekurangan di dalam novel Cantik Itu Luka yaitu penulis menggunakan kata-kata yang sangat vulgar.
- Novel menceritakan penyiksaan, dan perundungan yang tidak cocok untuk dibaca anak-anak. (*/ykib).
Identitas Buku
- Judul buku : Cantik Itu Luka
- Penulis : Eka Kurniawan
- Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
- Halaman : 505 halaman
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

