Corat-Coret di Toilet

*Oleh Puguh Prianggoro, S.Pd.

Corat-Coret di Toilet merupakan sebuah novel karangan Eka Kurniawan seorang penulis Indonesia yang sudah sering kita dengar namanya dan sudah mempunyai banyak buku yang telah terbit. Eka Kurniawan merupakan penulis dari novel yang sangat terkenal sebelumnya seperti novel yang berjudul “Cantik Itu Luka” yang telah memenangkan beberapa penghargaan yang bergengsi. Karya-karya Eka Kurniawan memiliki bahasa-bahasa yang lugas dan berani, serta memiliki alur yang bagus, di mana pada setiap ceritanya mampu membuat pembaca tenggelam dalam imajinasinya untuk membayangkan kejadian-kejadian yang ada. Cerita yang diambil dalam setiap bukunya bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari yang bisa dikatakan ceritanya sesuai dengan realitas kehidupan nyata.

Dalam novelnya Corat-Coret di Tembok ini merupakan sebuah novel yang berisikan kumpulan cerita pendek. Kita akan disuguhkan dengan 12 cerpen yang sangat seru untuk dibaca. Ke-12 cerpen ini adalah Peter Pan, Dongeng Sebelum Bercinta, Corat-Coret di Toilet, Teman Kencan, Rayuan Dusta untuk Marietje, Hikayat Si Orang Gila, Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam, Siapa Yang Kirim Aku Bunga, Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti, Kisah dari Seorang Kawan, Dewi Amor, dan Kandang Babi. Dari ke-12 cerpen yang terdapat dalam buku ini kita akan disuguhkan dengan cerita-cerita yang bernuansa komedi yang lekat unsur sindiran satirenya. Kebanyakan cerpen yang ada dalam buku ini memiliki akhir yang berujung sedih ataupun tragis.

Seperti pada judul buku ini Corat-Coret di Toilet saya juga sangat menyukai judul cerpen yang sama. Dalam cerpen Corat-Coret di Toilet menceritakan tentang sebuah toilet yang sebelumnya sudah terlihat kotor di mana tembok-temboknya sudah penuh dengan tulisan-tulisan jorok, kasar, bahkan puitis yang ditulis oleh orang-orang yang telah menggunakannya. Suatu ketika saat tembok yang semula kotor telah dicat dengan warna krem yang baru dan bersih membuat toilet terlihat nyaman dan indah. Datanglah seoarang anak punk yang masuk dan menuliskan protesnya terhadap pemerintahan pada masa itu dan lambat laun tiap hari muncul tulisan-tisan baru, baik tulisan balasan untuk tulisan pertama, balasan untuk tulisan kedua dan seterusnya, dan ada pula tulisan-tulisan dengan bahasa yang kotor. Tulisan-tulisan yang ada di toilet tersebut bisa kita sebut sebagai “The Toilet Comedy” . Saat semua tulisan mulai memenuhi dinding toilet itu muncul sebuah tulisan dimana itu ditulis oleh seorang yang cinta akan keindahan dan dengan berat hati malah ikut menulis ”Kawan-kawan, tolong jangan corat-coret di dinding toilet. Jagalah kebersihan.Toilet bukan tempat menampung unek-unek. Salurkan saja aspirasi Anda ke bapak-bapak anggota Dewan.” Setelah tulisan itu ditulis muncul jawaban yang langsung dituliskan oleh salah satu pengunjung toilet tersebut .”Aku tak percaya bapak-bapak anggota Dewan, aku lebih percaya kepada dinding toilet.” Dan mulai muncul tulisan-tulisan untuk jawaban dari tulisan tersebut yang bertulis. “Aku juga” dan sampai ratusan tulisan yang ditulis dari berbagai alat baik spidol, pena, paku, pecahan batu bata, arang, lipstik, bahkan juga ada yang menggunakan darah yang bertulis “Aku juga”.

Dari kesemua cerpen yang tertulis dalam novel ini banyak hal yang bisa kita ambil nilai moralnya, seperti bagaimana seharusnya kita mengambil keputusan supaya kita dapat mendapatkan hasil yang tidak merugikan diri sendiri. Dalam novel ini menggunakan bahasa yang mudah kita pahami dan penggambaran cerita yang sangat mendetail bisa membuat kita membayangkan dengan sempurna. Cerita-cerita yang ada merupakan kisah realitas yang terjadi dalam kehidupan, bukan realitas yang indah namun realitas yang ironis dan tragis dalam kehidupan. Namun dalam novel ini banyak kata-kata yang kotor yang mungkin kurang pantas untuk dibaca anak-anak remaja karena bahasanya yang diperuntukan untuk orang dewasa. (ykib).

Identitas buku:

Judul : Corat-Coret di Toilet

Pengarang : Eka Kurniawan

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : Cetakan Ketiga 2016

Jumlah Halaman : 135 Halaman

*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Kalitidu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *