Cut Nyak Dien

Oleh Eti Nurjanah, S.Pd.

Suatu hari yang tenang di tahun 1848, di rumah Uleebalang (Panglima Perang) Teuku Nanta Setia tampak gelisah. Semua tengah menunggu kelahiran bayi Teuku Nanta. Kemudian lahirlah seorang putri yang diberi nama Cut Nyak Dien. Gadis itu tumbuh menjadi seorang yang sabar, teguh pendirian dan tawakkal. Meginjak dewasa Cut Nyak Dien menikah dengan Teuku Cik Ibrahim Lamnga, seorang pejuang besar Aceh. Dalam pernikahannya Cut Nyak Dien dikarunia seorang anak.

Hari berganti hari, hubungan kesulitan Aceh dan Belanda kian memburuk karena Belanda ingin menguasai Aceh yang subur, tapi hal ini ditentang oleh para penduduk Aceh. Pada tanggal 22 Maret 1873, perang mulai gejolak.  Dan keadaan itu membuat banyak penduduk yang mengungsi ke tempat yang lebih aman. Kesultanan yang dipimpin oleh Sultan Machmud Syah, Panglima Polim mulai berjihad melawan Belanda. Ayah dan suami Cut Nyak Dien juga ikut berjihad.

Beberapa hari kemudian, suasana terasa panas mencekam. Pada tanggal 26 Maret 1873 Belanda menyatakan perang dengan Aceh. Meriam ditembakkan dari kapal perang Citadel Van Antweren. Tentara Belanda terus mengejar hingga masuk perkotaan. Dalam sekejap masjid terbakar. Dengan suara lantang Cut Nyak Dien melontarkan pernyataan yang membuat semangat untuk melawan Belanda. Dengan penyerangan tersebut komandan Belanda tertembak dan pasukan Belanda mundur dari pertempuran. Kali ini pasukan Aceh menang. Mereka sangat bahagia dan merayakan kemenangan tersebut.

Namun keadaan itu tidak berlangsung lama, di saat mereka tengah asyik melakukan perayaan itu tiba-tiba mereka dikagetkan dengan suara dentuman. Belanda datang lagi. Rakyat Aceh kewalahan dengan serangan yang mendadak itu. Mereka tidak dapat berbuat banyak tentara Belanda menguasai pemukiman. Rakyat Aceh mengalami penjajahan dan mereka terusik serta terusir dari tanah kelahiran mereka.

Pejuang Aceh tidak tinggal diam, mereka mengubah taktik untuk melawan Belanda. Cut Nyak Dien dengan membawa bayi untuk mengungsi bersama rombongan lainnya pada tanggal 24 Desember 1878. Jauh dari pemukiman mereka mengungsi ternyata ada seorang penghianat Bernama Habib Abdurrahman. Penghianat itu membawa tempat persembunyian para penduduk Aceh. Akibat penghianatan Aburahman banyak pejuang yang gugur, termasuk ayah dan suami Cut Nyak Dien. Berita itu cepat tersiar di telinga Cut Nyak Dien. Cut Nyak Dien bersumpah akan mengusir dan menghancurkan Belanda.

Tampak dari jauh serombongan pasukan datang. Cut Nyak Dien berprasangka jika rombongan tersebut adalah pasukan Belanda. Ternyata bukan, pasukan tersebut melainkan pasukan Teuku Umar. Beliau merupakan kerabat Cut Nyak Dien yang ingin melamarnya. Dien akhirnya luluh dan menerima lamaran Teuku Umar.

Beberapa hari kemudian, di saat pasukan Teuku Umar mempersiapkan perang melawan belanda, ternyata pasukan Belanda melakukan pemboman. Pasukan Umar kocar kacir diserang mendadak. Sebuah peluru menembus di dada Umar. Dan pada saat itu Teuku Umar gugur di medan Meulaboh. Firasat buruk sudah dirasakan Cut Nyak Dien. Beberapa pekan kemudian Dien memimpin pasukan kaum Gerilyawan untuk siaga tempur. Ia bermarkas di pedalaman Meulaboh.

Saat itu Cut Nyak Dien berusia 51 tahun, seorang janda, memimpin pertempuran melawan penjajah Belanda secara bergerilya di pedalaman Meulaboh. Bulan berganti tahun, perjuangan Dien tak surut. Demi keamanan Dien selalu berpindah tempat. Cut Nyak Dien memang seorang pemimpin sejati. Sebagai pemimpin, Dien meiliki kharisma tersendiri. Namun kekuatan para pendukung mulai melemah karena kekurangan banyak bahan makanan.

Belanda sering menghancurkan kubu – kubu pertahanan. Istri dan anak-anak banyak yang disandera. Tak tik belanda efektif, banyak pejuang Aceh yang menyerah. Pada April 1905, melanda mengetahui persembunyian Dien dan menggerebeknya. Dien mendapat info tentang penggerebekan tersebut mereka segera meloloskan diri. Cut Nyak Dien dan pasukannya terus berjalan menelusuri hutan. Berjam -jam mereka terus berjalan, menaiki bukit dan menyeberangi sungai.

Walaupun sudah bertahun – tahun perjuangannya belum terwujud, namun semangat Cut Nyak Dien untuk mengusir penjajah tetap terus membara. Kondisi fisiknya makin melemah di usianya yang melewati setengah abad. Jauh beratus kilo dari tempat Dien, ada seseorang yang seolah mengdengar doanya. Orang itu Pang Laot, dia adalah kawan seperjuangan Dien. Demi keselamatan Dien, Pang Laot menyarankan untuk menyerahkan diri. Namun ditolak mentah – mentah oleh Dien.

Pencarian Dien terus dilakukan untuk menyerahkan diri ke Belanda. Ternyata Pang Laot adalah penghianat yang memberitahu pasukan Belanda tempat di mana Dien bersembunyi. Pasukan Dien mencium gelagat aneh, ternyata benar pasukan Belanda telah sampai dan menyerangnya. Pasukan Dien masih bisa melawan, namun Habib Panjang sang anak buah tewas. Dien berhasil meloloskan diri.

Mata-mata Dien tertangkap oleh pasukan Belanda dan memberitahu persembunyian Dien. Sekarang Dien sudah rabun dan uzur, sehingga serangannya tidak teliti. Jadi dengan mudah dan cepat Cut Nyak Dien dan pasukan dilumpuhkan. Kemudian Dien dimasukkan ke dalam penjara. Batin Cut Nyak Dien getir karena dihianati. Cut Nyak Dien dipindahkan ke Kutaraja. Di Kutaraja Dien diperlakukan selayaknya putri raja. Selama di Kutaraja banyak rakyat yang menjenguk. Tetapi Belanda khawatir jika dijenguk akan menciptakan semangat perlawanan lagi. Akhirnya Dien diasingkan ke Sumedang.

Dien merupakan tahanan politik, Cut Nyak Dien ditempatkan di rumah Haji Ilyas. Karena pengetahuan agam Dien cukup luas, Haji Ilyas mempersilakan mengajar agama Islam di masjid dekat rumahnya. Banyak orang mendatangi Dien untuk belajar agama. Sebagai imbalan, orang – orang itu membawakan makanan dan pakaian. Tahun berganti tahun, usia Dien pun bertambah. Rabun Cut Nyak DIen pun bertambah parah dan sakit tua. Pada 6 November 1908, Cut Nyak Dien tutup usia pada usia 60 tahun. Cut Nyak Dien dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang. Ia di makamkan jauh dari tanah kelahirannya. Namanya pun diabadikan sebagai nama jalan di berbagai kota di Indonesia. Bank Indonesia mengabadikan gambar Cut Nyak Dien pada uang nominal Rp10.000 pada tahun 1998. Pemerintah Indonesia menghargai jasa perjuanganya melawan penjajah Belanda dengan memberikan gelar “ Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan” berdasarkan SK Presiden RI No : 106/1964 pada tanggal 20 Mei 1964. (*/ykib)

Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *