Oleh Ananda Silviana Putri
Buku komik ini menceritakan tentang pejuang wanita yang gigih dari tanah Rencong yang memiliki sifat pemberani dan pantang menyerah yaitu Cut Nyak Dien. Dilahirkan oleh kaum bangsawan di kerajaan Aceh tahun1848. Sejak kecil ia dididik baik oleh orang tuanya mulai dari belajar ilmu agama, norma dan etika sehingga dia tumbuh menjadi perempuan dewasa yang cantik dan pintar. Kemudian Cut Nyak Dien dinikahi Teuku Ibrahim. Seiring waktu berjalan, mereka mempunyai buah hati.
Pada masa itu ialah masa penjajahan bangsa Belanda dimana Belanda ingin mengusai Pulau Aceh yang subur. Hingga akhirnya terjadi peperangan antara orang Aceh dengan Belanda. Ayah dan suami Cut Nyak Dien ikut berjihad berperang melawan Belanda. Pada tanggal 8 April 1873 terjadi peperangan hebat orang Aceh dengan Belanda. Tembakan dari kapal Belanda menyerang orang orang Aceh dan membakar masjid. Cut Nyak Dien marah tidak terima tempat ibadahnya dibakar pasukan Belanda. Ini termasuk penghinaan agama. Kondisi itu mendobrak semangat warga entah laki-laki maupun perempuan untuk bersatu bahu membahu melawan Belanda. Warga Aceh pun bersemangat karena pecutan kata dari Cut Nyak Dien warga pun bersatu berperang dan akhirnya mereka menang. Mereka merayakaan kemenangannya hingga tiba-tiba ada dentuman keras mereka pun kaget karena ada yang menggempur habis-habisan kota raja. Belanda yang dikira sudah kalah tetapi hanya mundur sementara.
Warga mengungsi ke tempat yang aman. Tetapi ada seorang penghianat yang memberitahu kepada Kapten Belanda melakukan serangan mendadak yang menewaskan suami Cut Nyak Dien. Namun, Cut Nyak Dien tidak larut dalam kesedihan, ikhlas karena suaminya mati sahid jihad dalam peperangan. Cut Nyak Dien tidak pantang menyerah semakin terbakar semangat yang ada pada dirinya untuk mempertahankan tanah air.
Kemudian Cut Nyak Dien menikah lagi dengan Teuku Umar dan mereka mempunyai misi yang sama menghancurkan Belanda. Tak lama kemudian di tengah berkecamuknya perang lahirlah putri dari Cut Nyak Dien yang diberi nama Cut Gamblang. Terjadi peperangan melawan Belanda yang menawaskan suaminya. Kematian suami pertama dan suami kedua tidak mematahkan semangat Cut Nyak Dien justru mengobarkan semangat perjuangannya bagaikan api yang tidak pernah padam.
Cut Nyak Dien memimpin pasukan gerilyawan untuk siaga tempur, sifat yang pemberani, gigih dan tidak pantang menyerah, dan mau bertindak yang dimilikinya untuk melawan Belanda hingga akhirnya Cut Nyak Dien tertangkap oleh Belanda. Namun, saat di penjara oleh Belanda, Cut Nyak Dien malah dikagumi dan kehadiranya menciptakan semangat pahlawan. Akhirnya, Cut Nyak Dien diasingkan ke Sumedang dan tidak ada yang tahu identitasnya. Kesehatannya semakin buruk dan rabunnya semakin parah hingga akhirnya pada 6 November 1908 Cut Nyak Dien wafat dan dimakamkan jauh dari tanah kelahiranya. Makam Cut Nyak Dien baru ditemukan pada tahun 1954 berdasarkan penelitian Gubernur Aceh, Ali Hasan. (*/ykib).
Pelajaran dari kisah Cut Nyak Dien
Ia adalah sosok wanita, ibu, istri yang kuat, tangguh,berani, pantang menyarah, mendobrak semangat warga, menyebarkan hal baik dan bertekad kuat.
Identitas buku
Judul buku : Cut Nyak Dien
Penulis : G.Wu Team.
Penerbit : PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk
Tahun terbit : Cetakan ke 3 2016
Tebal halaman : 62 halaman

