Daud, Si Anak Pemberani

Oleh Min Qurin Amaliya Qoria, S.Pd.

Nabi Daud a.s. adalah keturunan Bani Israil. Tepatnya di Batlehem kota kecil di wilayah Palestina. Ayah Nabi Daud a.s. bernama Aysya bin Uwaid. Beliau masih keturunan dari Nabi Ibrahim a.s. Nabi Daud adalah anak paling bungsu dari 13 bersaudara. Beliau berpawakan pendek dan matanya berwarna biru. Beliau juga memiliki hati yang bersih dan suci.

Semasa kecil Nabi Daud a.s. sangat menyenangkan, beliau seorang penggembala domba. Setiap hari ia bermain di padang rumput yang hijau. Beliau bermain sambil menggembala domba-domba milik ayahnya. Beliau sangat menyayangi binatang peliharaannya.

Nabi Daud a.s. dianugerahi oleh Allah SWT yaitu dapat memahami bahasa binatang, sehingga beliau dapat dengan mudah bersahabat dengan binatang-binatang. Nabi Daud a.s. adalah anak yang pemberani, beliau dididik sang ayah menjadi anak yang kuat begitu pun dengan saudara-saudaranya. Mereka dilatih agar siap berperang. Ketika Raja Thalut hendak berperang melawan Palestina, ayah Nabi Daud a.s. mengutus ketiga anaknya untuk bergabung dengan pasukan Raja Thalut. Di antara ketiga anaknya tersebut. Nabi Daud a.s. adalah anak yang paling belia, meskipun begitu beliau tidak menunjukkan rasa takut sama sekali.

Sebelum berangkat ayah Nabi Daud a.s. memberi nasehat agar Nabi Daud a.s  berada di barisan paling belakang untuk menjaga perbekalan saja, sebab Nabi Daud a.s. masih belia dan belum punya pengalaman berperang. Nabi Daud a.s. tetap semangat walaupun tidak berada di barisan paling depan.

Pasukan Thalut dan pasukan Jalut saling berhadapan. Pasukan Jalut terlihat berjumlah ribuan tidak sebanding dengan pasukan Thalut. Sebelum berperang pasukan Thalut berdoa bersama-sama. Pasukan Thalut adalah orang-orang pilihan. Mereka yakin Allah SWT akan menolong mereka.

“Hai, Thalut!” teriak Jalut memecah keheningan. “Kamu yakin akan menang perang? Lihatlah pasukanku lebih banyak dari pasukanmu! Lebih baik kalian semua mundur, dari pada kubuat kalian semua malu, ujar Jalut dengan sombongnya.

Thalut terlihat sangat geram dan marah memdengar perkataan Jalut. Namun, ia berusaha untuk tetap bersabar. Bukankah Allah SWT bersama orang-orang yang sabar. Jangan sombong wahai Jalut!” balas Thalut. Nyali kami tidak ciut, kami bukan seorang yang pengecut!” balas Thalut dengan suara lantang. Perkataan Thalut membuat pasukannya semakin percaya diri dan semangat. Jumlah pasukan yang tak sebanding bukanlah penghalang. Kami yakin pasti bisa menang! Nabi Daud a.s. kecil kala itu di barisan paling belakang, namun karena jumlah musuh banyak dan kekurangan pasukan maka Nabi Daud a.s. kecil diberi tugas sebagai pelempar batu dengan ketapel.

Perang hampir dimulai. Thalut menyemangati pasukannya, “Wahai pasukanku, aku akan memberikan hadiah bagi yang berhasil membunuh Jalut. Aku akan menikahkan putriku dengan kalian yang berhasil membunuh Jalut dan akan tinggal di dalam kerajaan bersamaku.

Kedua belah pihak sekarang sudah saling berhadap-hadapan, Jalut memakai baju besi dan mengeluarkan pedangnnya. Bertanda genderang perang siap bergema. Namun, tiba-tiba Jalut berubah pikiran. Ia berkata lantang, “Siapakah yang berani melawanku?” tantang Jalut, “Majulah satu lawan satu denganku!” ujarnya lagi. Jalut memandang dengan tajam ke arah pasukan Thalut. Dengan sorotan mata yang tajam nan bengis seolah-olah berkata bahwa dia siap menghabisi pasukan Thalut satu per satu. Pasukan Thalut saling berpandangan. Melawan Jalut seorang diri?. Mereka membayangkan Jalut bak seorang raksasa yang besar dan sangat lincah dalam berpedang sekali tebasan mampu membunuh lawannya dengan mudah.

Tiba-tiba, satu suara menyahut dari belakang, “Aku siap maju melawanmu!”. Thalut dan pasukan lainnya terperangah, ternyata itu suara Nabi Daud a.s. kecil. Bagaimana mungkin anak yang masih belia bisa melawan Jalut?”. Kemudian Nabi Daud a.s. kecil mendatangi Thalut, ia memohon agar diizinkan melawan Jalut. Walau terkejut, Thalut sudah menduga, Daud anak yang berbeda. Sejak Aysya, ayah Nabi Daud a.s. menitipkan Daud padanya. Nabi Daud a.s. kecil memang belum pernah ikut perang sebelumnya. Namun, Thalut sudah melihat keberaniaan Daud yang luar biasa. Semangat dan ketangguhannya selalu terpancar dari kedua matanya.

“Apa benar kau siap mengalahkan Jalut?” tanya Thalut kepada Daud. Thalut berusaha meyakinkan Daud. Jalut bukan musuh yang bisa dipandang sebelah mata.

“Ya! Atas izin Allah SWT aku akan mengalahkan Jalut. Aku akan menggunakan ketapelku ini, “ujarnya dengan mantap. Kesungguhan Daud membuat Thalut mengizinkannya. Daud adalah pemuda yang beriman, Thalut yakin Allah SWT akan melindunginya.

 Daud lalu menaiki batu besar dan berdiri di atasnya.

“Hai Jalut, aku yang akan melawanmu!” ujarnya dengan lantang.

Jalut pun terkejut melihat Daud, namun ia kemudian tertawa. “Kembalilah. Aku tak akan membunuhmu,” sahut Jalut. Daud tak gentar mendengar ejekan Jalut. Hinaan Jalut tak membuatnya takut.

“Tapi aku akan mengalahkanmu, hai Jalut,” ujar Daud lantang. Daud segera melompati batu-batu besar. Berbekal ketapel dan batu, Daud siap melawan Jalut. Suasana tegang dan mencekam. Semua pasukan terdiam. Daud kini sudah berhadapan dengan Jalut. Pertarungan akhirnya dimulai. Jalut berjalan ke arah Daud sambil mengayunkan pedang. Daud pun segera memasang ketiga batu pada ujung ketapelnya. Daud memutar-mutar ketapelnya sehingga batu tersebut menjadi satu. Daud membidik Jalut dengan hati-hati. Setelah itu ia lontarkan batu itu ke arah Jalut.

“Arrrggggghhh…., “erang Jalut kesakitan. Batu itu berhasil mengenai dahi Jalut. Darah segar keluar dari dahi dan mengalir ke kedua matanya. Seluruh pasukan terperangah melihat keadaan rajanya. Tubuh Jalut yang besar pun jatuh ke tanah. Jalut roboh tak berdaya. Ia tergeletak dengan luka menganga di dahinya. Jalut yang besar dan sombong tewas seketika. Pasukan Thalut bersorak kegirangan. Jalut berhasil dikalahkan oleh Daud. Mereka mengelu-elukan nama Daud. Namun, perang belum usai, masih ada ribuan pasukan Jalut. Pasukan Jalut yang baru kehilangan Rajanya terlihat goyah. Thalut langsung memanfaatkan kesempatan tersebut. Thalut memerintahkan pasukannya untuk turun. “Serbuuu!!!” teriak Thalut.

Akhirnya pasukan Jalut menyerah tanpa ada banyak perlawanan. Pasukan Thalut sangat gembira karena mereka juga memperoleh banyak harta rampasan perang. Kemudian pasukan Thalut kembali dari peperangan. Mereka bersuka cita merayakan kemenangan. Mereka mengelu-elukan nama Daud. Daud disebut sebagai pahlawan perang. Bani Israil akhirnya bebas dari penjajahan. Setelah Daud beranjak dewasa, janji Thalut akhirnya dilaksakan. Thalut mengangkat Daud sebagai panglima perang dan menikahkan anaknya dengan Daud.

Setelah menikah, Daud akhirnya tinggal di istana. Daud mengabdi pada Raja dan rakyat Bani Israil. Daud melatih para pasukan Bani Israil agar siap perang. Mereka dilatih berkuda, memanah dan juga memainkan pedang. Daud melatih pasukannya dengan disiplin dan tegas. Daud sangat dihormati dan dicintai oleh rakyat Bani Israil.

Identitas buku 

Judul  buku : Anak Pemberani kisah Nabi Daud a.s.

Pengarang : Ali Muakhir dan Abdul Wahab

Penerbit : Sygma Creative Media Corp

Tahun terbit : 2016

Tebal halaman : 48

ISBN : 978-979-055-578-5

Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *