David and Goliath : Ketika Si Lemah Menang Melawan Raksasa

*Oleh Tsamrotul Ulum, S.P.

Buku ini menceritakan tentang orang-orang yang dianggap lemah ternyata mampu melawan bahkan mengalahkan orang-orang yang kuat atau dianggap sebagai raksasa. Sehingga orang yang lemah belum tentu selalu kalah dengan orang yang kuat dan berkuasa, asalkan dia mengerti bagaimana cara menghadapi lawannya dengan mempelajari kelemahan dan kelebihan yang dimiliki oleh dirinya sendiri dan lawannya.

Pada bagian pertama buku ini membahas tentang satu tim basket yang beranggotakan gadis-gadis muda yang berusia 12 tahun yang tidak memiliki keahlian dalam dunia basket, memiliki tinggi badan yang kurang untuk seorang pemain basket tetapi justru tim merekalah yang beberapa kali memenangkan pertandingan bahkan lolos ke kejuaraan nasional. Untuk melatih tim tersebut Vivek Ranadive memiliki 2 prinsip utama, yaitu yang pertama  dia tidak akan meneriaki anak didiknya, karena tim yang beranggotakan anak-anak gadis berusiakan 12 tahun yang berdasarkan pengalaman anak-anak umur tersebut tidak suka diteriaki, sehingga Vivek Ranadive memutuskan akan berperilaku di lapangan basket sebagaimana ia berperilaku di perusahaan perangkat lunaknya, yaitu berbicara dengan tenang dan lembut, dan dia akan membujuk anak-anak gadis itu dengan nalar dan akal sehat. Sedangkan prinsip kedua yaitu Vivek akan bermain secara full court press selama pertandingan yaitu  di mana sebuah tim akan memainkan pertahanan di seluruh lapangan dengan harapan bisa menjebak atau mencuri bola sehingga  dapat mencetak poin. Full court press mengutamakan gerakan kaki bukan tangan, dan keahlian digantikan dengan usaha. Karena Vivek mengetahui kelemahan timnya yaitu tidak ada yang bertubuh jangkung sehingga tidak ada yang bisa mencetak poin dari tembakan jarak jauh. Vivek menerapkan prinsip pada anak didiknya bahwa kemauan untuk mencoba lebih keras dari yang umumnya dilakukan orang atau pemain lain. Jadi kita melakukan cara yang tidak biasa dilakukan orang lain atau lawan kita untuk bisa mencuri poin.

Gambaran lain dari filosofi si lemah menang melawan raksasa adalah ketika kita meninjau perang  antara negara-negara sangat besar dan negara-negara sangat kecil dalam kurun waktu 200 tahun terakhir. Anggaplah salah satu pihak harus lebih besar 10 x lipat populasi dan kekuatan senjatanya dibanding yang lain. Siapakah yang akan menang?. Ternyata 70% kemenangan diraih oleh negara kuat, tetapi 30% nya dimenangkan oleh si lemah. Ini sangat tidak terduga, padahal dari segi populasi dan persenjataan sudah sangat jauh berbeda. Menurut penulis mengapa hal ini bisa terjadi, karena si lemah lebih mementingkan tingkat kualitas serangan dan taktik daripada kuantitas atau jumlah pasukannya. Jumlah yang banyak mungkin akan mengecoh dan menakutkan lawan, tapi di sisi lain itu juga akan menjadi suatu kelemahan apabila tidak ditangani dengan baik. Kelemahan inilah yang akan menjadi celah bagi lawan untuk bisa memenangkan perang.

Bagian kedua buku ini membahas tentang anak pengidap disleksia. Pengidap disleksia adalah orang yang tidak memiliki sel otak sebanyak manusia normal pada umumnya, sehingga dia memiliki keterbatasan atau gangguan saat belajar membaca, menulis dan mengeja. Pengidap disleksia menggunakan otak bagian kanan untuk membaca, sedangkan otak bagian kanan  adalah sisi konseptual yang seharusnya digunakan untuk proses kreativitas dan inovasi. Pengidap disleksia memerlukan jeda 40 milidetik lebih lambat untuk memahami penyebutan suku kata sehingga karena lambatnya waktu membaca membuat dia menjadi kurang fasih dan kurang faham bahkan ketika sampai di akhir kalimat dia sudah lupa dengan kalimat awalnya. Hal inilah yang kemudian menjadikan orang disleksia disebut sebagai orang yang malas, bodoh, tidak berguna dan harga dirinya rendah. Tapi mari kita sekarang lihat dari sisi sebaliknya, yaitu tentang “kesukaran yang berguna”. Terdengar aneh, tapi mari kita simak teka teki berikut :

  1. Satu pemukul bola dan satu bola berharga total $1.10. Pemukul berharga $1.00 lebih tinggi dari bola. Berapa harga bola? Pasti sebagian besar dari kita akan menjawab harga bola 10 sen. Tapi itu kurang tepat, karena pemukul berharga $1.00 lebih tinggi dari harga bola. Jadi kalau harga bola 10 sen, harga pemukul $1.10 sehingga kalau dijumlahkan nilainya akan melebihi total harga yang disebutkan tadi. Jadi jawaban yang benar untuk harga bola adalah 5 sen.
  2. Jika 5 mesin membutuhkan waktu 5 menit untuk membuat 5 barang, berapa lama waktu yang dibutuhkan 100 mesin untuk membuat 100 barang? Susunan pertanyaan tersebut akan memancing Anda untuk menjawab 100. Tapi ternyata itu adalah sebuah trik. 100 mesin untuk membuat 100 barang membutuhkan waktu yang sama dengan 5 mesin yang membuat 5 barang. Jadi jawabannya adalah 5 menit.

Kedua tes di atas  mengukur kemampuan Anda untuk memahami sesuatu lebih rumit dibandingkan penampilannya. Sehingga menurut Alter “kalau soal tak mudah dibaca maka orang akan jadi berpikir lebih mendalam tentang apapun yang mereka temukan”. Orang akan lebih banyak menggunakan sumber daya, orang akan berpikir lebih mendalam atau berpikir lebih seksama mengenai apa yang terjadi. Jika harus menghadapi rintangan mereka akan lebih baik melakukannya kalau dipaksa berpikir lebih keras. Jadi kesukaran itu ternyata berguna.

Mungkinkah disleksia itu kesukaran yang berguna? Sulit untuk dipercaya, mengingat banyak orang yang kerepotan akibat disleksia sepanjang hidupnya, tetapi ada fakta mengejutkan. Ada banyak wiraswasta pengidap disleksia yang sukses, diantaranya Richard Branson pengusaha miliarder Inggris, perintis telepon seluler Craig McCaw, pendiri JetBlue David Neeleman, John Chambers CEO teknologi cisco, Paul Orfalea pendiri Kinko’s dan masih banyak lagi.

Ada 2 kemungkinan penafsiran fakta ini, yang pertama kelompok hebat selalu berjaya meski kesulitan karena saking pintar dan kreatifnya, taka ada yang dapat menghalangi mereka termasuk kesulitan membaca seumur hidup. Yang kedua kemungkinan mereka sukses justru karena mengidap “gangguan” bahwa mereka mempelajari sesuatu ketika bergulat menghadapinya, dan sesuatu itu ternyata kelebihan yang sangat besar. (*/ykib).  

Identitas Buku

Judul                           : David and Goliat : Ketika si Lemah Menang Melawan Raksasa

Penulis                         : Malcolm Gladwell

Penerbit                       : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Dicetak             : Maret 2021

Cetakan                       : Cetakan kedelapan

ISBN                           : 978 – 602 – 03 – 7841 – 1

Tebal Buku                  : 303 Halaman

*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *