Oleh Arum Nila Nadiya, S.Pd.
DUR (Diary Ungu Rumaysha) adalah jenis novel slice of life. Jadi menceritakan perjalanan hidup dan pendewasaan pemikiran tokoh utamanya, Rum. Sejak masa SMA sampai dia terpaksa menjadi badal pengantin bagi almarhumah kakaknya.
Rum ini bukan lulusan pesantren, tidak pernah mondok, mengajinya masih ala kadarnya, penampilan juga gak nyantri-nyantri banget. Ketika SMA, Rum sudah kadung saling suka dengan sahabat sekaligus rival dalam hal prestasi bernama Alfaraby.
Alfaraby, adalah pemuda jangkung, dengan wajah rupawan keturunan Tionghoa. Murid baru pindahan dari Yogyakarta. Dia sangat cerdas. Sejak hari pertama masuk, ia sudah berhasil meruntuhkan dominasi nilai terbaik yang biasanya dipegang Rum. Alfaraby menulis esai berjudul Legenda Laba-Laba Tsur (hlm. 15). Esai mengenai filum Arthopoda dipadu apik dengan kisah kenabian. Sejak hari itu, Rum memiliki perhatian khusus dengan sahabat barunya itu.
Rum dan Al adalah dua orang jenius yang saling bersaing di seluruh mata pelajaran. Mereka berbagi diskusi dan saling meminjamkan buku untuk memperkaya referensi. Dua orang yang sama-sama mencintai perpustakaan.
Karena keduanya terlihat dekat, tak jarang Rum menerima cemoohan hanya karena dirinya anak seorang dalang dengan ekonomi pas-pasan. Sementara Al, adalah anak konglomerat. Setiap kali Rum dicemooh, ia ingat nasehat bapaknya, dinukil dari tembang Mijil: Wani ngalah. Luhur wekasane. Siapa yang berani mengalah untuk menghindari pertikaian, maka akan mulia di akhirnya.
Di penghujung SMA, jelang kelulusan, Alfaraby akhirnya berterus-terang mengenai rasa tertariknya pada sang sahabat. Ia memberi sebuah diary ungu yang di dalamnya berisi bunga anggrek jenis dendrobium Faciverum kering lalu menuliskan kata: Ich liebe dich. Wo aini. Ek het jou life. I love you. Aku tresno sliramu. (hlm. 78)
Usai pernyataan cinta, Al semakin sering memberikan ucapan manis untuk Rum. Banyak gombalan yang dia lontarkan karena memang Al tipe pemuda periang. Contohnya:
“Rum apa perbedaan kamu dengan rumus Helmhotz?”
“Kalau rumus susah masuk pikiran, kalau kamu susah dikeluarkan dari pikiran.” (hlm. 93)
Ketika Rum didera galau apakah akan menerima cinta Al dan hendak berkonsultasi dengan Salma kakaknya, Rum, malah mendapat informasi yang sangat menghancurkan hatinya.
Salma bilang, bahwa Bune tidak suka Alfaraby karena dia keturunan nonmuslim. Heterogenitas keyakinan dalam keluarga Al membuat Bune yang masih memegang prinsip patriarki tak melihat sisi baik pemuda itu.
Rum tak sanggup berterus terang pada sang kakak, apalagi pada Bunenya. Ia memendam sendiri dukalaranya. Ia ingat ajaran almarhum Bapak, bahwa Ibu adalah cakratresna bagi anak-anaknya. Pusaka keramat yang tak boleh dikecewakan.
Benarlah, Rum akhirnya memutuskan tak menerima cinta pertamanya itu. Ia memilih menjauh sejauh-jauhnya. Pergi saat sedang sayang-sayangnya.
2 tahun kemudian.
Tersebutlah seorang lelaki berusia matang bernama Salim Abdullah Asysyatiri yang biasa dipanggil Gus Asy. Ia putra bungsu dari kiai Husen pendiri Darul Quran. Semasa kecil, hidup mereka sangat pas-pasan. Namun, mereka adalah keluarga yang senang dengan ilmu. Bunyai, ibu Gus Asy, adalah pendongeng terbaik untuk anak-anaknya. Dengan berbekal buku hasil uang arisan, Beliau lihai bercerita tentang Colosseum di Roma, tembok besar Cina, hingga pendirian Borobodur oleh Raja Samaratungga keturunan Syailendra.
Usia Gus Asy sudah 29 tahun ketika akhirnya ia menemukan gadis yang ia sukai. Namanya Salma. Salah seorang santri sekaligus Ustadzah di Darul Quran. Ia tertarik karena pernah melihat Salma berjalan minggir menghindari gambar kubah di sajadah dalam masjid. Waktu itu pengurus dan pengasuh sedang rapat Haul. Setelah ditelusuri, Salma melalukan karena ia sedang mencoba mengaplikasikan surat Al hajj 32.
Dalam rangkaian perjalanan ke Turki dan selanjutnya umrah, Gus Asy mendapatkan firasat kurang baik terutama ketika Abah ibunya bertemu dengan Syekh Ahmad di Blue Mosque. Tak disangka, ketika Gus Asy sedang menuju Roudhoh, sebuah berita datang menghempas harapannya. Salma meninggal dalam sebuah insiden kecelakaan.
Sepulangnya dari umrah, kedua keluarga bertemu. Bune, menyampaikan bahwa sebelum meninggal, Salma menyampaikan wasiat bahwa adiknya, si Rumaysha, diminta menjadi badal pengantin. Itupun jika Gus Asy sekeluarga setuju.
Tak disangka, Kiai dan bunyai Husen setuju. Gus Asy yang sedang di puncak nestapa, tak sanggup mengecewakan Abah Ibunya lantaran usianya sudah tak lagi muda. Ia tak ingin Abah Ibunya menunggu lagi. Apalagi Abah ibunya sangat akrab dengan Ki Dalang dan Bune sejak dari lama. Jauh sebelum ia menyukai Salma.
Dengan tekad bulat, Gus Asy berkata:
“Malam ini adalah malam terakhirku sebagai lajang. Esok aku akan melangsungkan akad nikah dengan adiknya Salma. Segalanya akan berbeda mulai hari itu. Aku harus siap memiliki satu tanggungjawab baru sebagai suami. Aku ingin meniru Rasulullah yang tidak pernah menduakan Sayidah Khadijah binti Khuwaylid dengan perempuan lain.”
Ketika hari pernikahan yang kontroversi itu tiba, Rum yang masih 19 tahun, mengalami pergolakan batin luar biasa. Satu sisi ia sangat menghormati Bune. Ia satu-satunya keluarga terdekat Bune setelah Bapak dan kakaknya meninggal. Satu sisi dia bertarung dengan idealismenya bahwa di LSM yang ia geluti, pernikahan usia muda itu kurang populer dan cenderung dihindari.
Namun, Rum belum berdamai dengan dirinya, ia mengabaikan semua akun sosmednya, demi agar pernikahannya tak terekspose.
“Dalam pikiranku, perjodohan itu absurd. Sudah tidak relevan dengan zaman. Jika saling mengenal bertahun-tahun saja orang bisa cerai, apalagi tidak saling kenal? Zaman sudah berubah”
Satu hal yang membuat Rum meredam emosi adalah pesan bapaknya, Ki dalang, “Urip kudu Urup. Hidup itu harus memberi nyala manfaat untuk orang lain.”
Demi menuntaskan rasa galau, Rum pun sering berdiskusi dengan Bune. Beliau menasehati bahwa suami istri harus manunggal. Bahwa kunci urip tentrem itu cuma 4. Sumeh (banyak tersenyum), sumeleh (tawakkal), sareh (tidak grusa grusu, mau berproses) dan ora jireh (tidak penakut, pantang menyerah).
Rum melihat akhlak baik suaminya, membalikkan sandal Bune, mau membantu di dapur, juga mau mendengarkan cerita Rum soal perjalanan hidup manusia menurut filosofi Tembang Maskumambang.
Termasuk ketika Rum meminta Gus Asy merahasiakan pernikahan mereka sekembalinya keduanya ke kampus. Rum minta waktu sebulan untuk menjelaskan soal pernikahannya pada LSM, juga pada The Queens sahabat baiknya.
“Cari istri apa cari sanggan? Ibu nggak pernah milih menantu cuma buat menopang pondok. Itu namanya tidak tulus”.
Setelah beberapa hari tinggal di rumah Rum, gantian acara ngunduh mantu di Darul Quran. Bukan acara besar-besaran, karena sebagian saudara Kiai Husen belum legowo dengan pernikahan badal. Rum mengalami kesulitan saat beradaptasi. Ia mengaji saja masih belum lanyah. Beruntung, kedua mertuanya tidak mempermasalahkan karena sudah tahu sejak awal, akan tetapi Gus Asylah yang pelan-pelan mengajari Rum tiap malam sampai bisa.
Kakak ipar pertamanya, Neng Licha, bahkan pengagum bapak Rum sejak kecil. Neng Licha lihai bercerita kenapa nadzom alfiyah ibnu malik jumlahnya ada 1002 bait, berdiskusi soal ajaran Molimo Sunan Ampel. Emoh main, ngombe, madat, maling, madon.
Setelah hari berlalu dan Rum sudah mendekati masa kuliah, ia bersiap untuk berjumpa dengan sahabatnya, Geng The Queens yang terdiri dari lima orang. Isyana dan Fatimah (food vlogger), Suci (pimred majalah MIPA), dan Shima (jago foto).
Ketika Rum dan Gus Asy makan malam di sebuah restoran Taman Indie, tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Isyana, Shima, dan Suci. Ketiganya bahagia sekaligus gemas karena Rum lama sekali tak memberi kabar.
Di lain sisi, Alfaraby yang masih mencintai Rum dan tak tahu menahu bahwa Rum sudah menikah, mengirim surat, juga DM di Instagram Rum. Ia bahkan sudah menyiapkan cincin untuk meminta Rum jadi tunangannya dengan bantuan Fani sang Asisten.
Usai acara penghargaan juara LKTI, Rum dan teman-temannya menuju Fangfang resto. Rencananya Rum akan mengungkap rahasianya dengan Gus Asy sambil menunggu suaminya itu selesai rapat dekanat.
Tak dinyana, Alfaraby lah yang lebih dulu datang. Dengan gitar, ia menyanyikan lagu Bukti dari Virgoun. Semua orang menyoraki, dan mendukung Rum menerima Al. Tepat saat Al mengangsurkan cincin, dari arah belakang, Gus Asy tiba. Ia menyaksikan istrinya dirayu oleh pemuda lain yang tampangnya jauh lebih perlente.
Rum, dengan terisak-isak menjelaskan segalanya. Hari itu, sahabatnya, Isyana merasa dibohongi dan malu sekali karena mencintai suami orang. Isyana marah. Begitupun Alfaraby, ia sangat kecewa. Apalagi Gus Asy. Ia merasa sudah banyak mengalah demi perjanjian yang dibuat Rum. Perjanjian yang menyengsarakan banyak orang
Tak lama kemudian, Rum limbung. Ia pingsan. Dan meski sakit hati masih menjerat Gus Asy, ia tulus merawat Rum. The Queen’s pun menjenguk ke RS untuk men-support. Rum memohon maaf pada semuanya karena kebohongannya telah menyusahkan sahabat dan suaminya.
Malam itu, akhirnya Rum dengan penuh keyakinan mengubah seluruh status di medsosnya dari lajang ke menikah. Ia mengganti fotonya dengan foto pernikahan.
Dan di akhir, kedua insan itu sedang duduk di balkon hotel lantai 15. Menyesap kopi berdua. Tanpa sungkan, Rum menangkupkan kedua tangan lalu berteriak, “I love you”.
“Suara itu lantas menerobos udara, menggasak angin yang berhembus, menggaung di antara gedung tinggi, mungkin juga membuat orang yang di bawah keheranan mencari sumber suara.”
“Gus Asy menggeret pinggangku dengan dua lengannya. Membawaku duduk bersamanya sambil tertawa-tawa. Tawa yang kucintai selamanya. Tawa yang kuperjuangkan dengan segenap jiwa.”
Kelebihan buku : Sangat cocok dibaca untuk kalangan remaja dan dewasa, untuk memotifasi diri sendiri terutama pada saya sendiri dan selalu penasaran untuk melihat ending lanjutanya, penulisanyapun gampang untuk difahami. (*/ykib).
Identitas buku :
Judul buku: DUR (Diary Ungu Rumaysha)
Penulis : Nisaul Kamilah
Penerbit : Telaga Aksara
Tebal : 506 halaman
Tahun terbit : Mei, 2020
Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Kalitidu

