*Oleh Lina Arinta Dwi, S.Pd.
Novel Guru Aini terbit pada tahun 2020. Novel ini ditulis oleh novelis ternama di Indonesia yaitu Andrea Hirata, ia dikenal karena salah satu karya pertamanya yang dinobatkan menjadi karya fenomenal dalam skala internasional pada masa itu. Novel ini menceritakan kisah perjuangan seorang guru untuk mengajarkan seorang anak yang memiliki tingkat ekonomi yang rendah, tapi ia bercita-cita menjadi seorang dokter, agar dapat menyembuhkan ayahnya yang sakit.
Novel Guru Aini adalah buku yang dapat menginspirasi dalam bidang pendidikan. Andrea Hirata dalam novel ini membahas isu pendidikan yang terkait dengan isu ekonomi yang mana kaum yang kekurangan ekonomi pada umumnya tidak mendapatkan yang seharusnya bisa didapat orang lain. Novel ini menceritakan kisah seorang guru yang sangat mencintai matematika sejak duduk di kelas tiga sekolah dasar. Ia bernama Desi Istiqomah, beliau terinspirasi dari gurunya yang bernama Bu Marlis.
Bu Guru Desi dikenal sebagai guru yang idealis, luar biasa, cantik, semampai, jenius, eksentrik, tinggi, dan berintelektual tinggi. Lulus SMA dengan nilai matematika sempurna yaitu 10. Ia mendedikasikan hidupnya menjadi seorang guru matematika. Dan cita-citanya juga menjadi guru matematika karena ingin memberantas kebodohan dalam pelajaran matematika yang selama ini menjadi pelajaran yang dinilai paling sulit dan menimbulkan paling banyak kegagalan dalam nilai rapor siswa. Namun cita-citanya ditentang keras oleh orang tuanya. Sebagai lulusan terbaik orang tuanya menginginkan Desi kuliah fakultas kedokteran atau fakultas ekonomi. Tetapi Desi tetap berpendirian keras dan teguh untuk menjadi guru matematika.
Kemudian Desi melanjutkan kuliah D3 guru matematika dan kuliahnya berjalan sangat baik, Desi lulus dengan gelar lulusan terbaik. Ia lalu diangkat menjadi pegawai negeri dan siap ditempatkan di seluruh wilayah Sumatera untuk mengabdi.Tradisinya untuk lulusan terbaik mendapatkan keistimewaan untuk memilih lokasi tempat ia kerja, namun Desi menginginkan tempat secara acak seperti teman-temannya. Desi mendapatkan undian di Bagan Siapi Api, tetapi ia menukar hasil undiannya tersebut dengan temannya karena ia merasa iba dengan Salamah yang menangis ketika mendapatkan pulau terpencil di Sumatera yaitu di Tanjong Hampar. Desi merasa tertantang dan siap terjun di wilayah terpencil yang belum ada di peta Indonesia. Tekadnya untuk memberantas kebodohan membuat ia semangat untuk mengabdi.
Orang tuanya sangat berat melepas Desi ke pulau terpencil, sampai merah mata ibu Desi karena banyak menangis. Namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa, karena Desi sudah bertekad kuat. Untuk menuju ke Pulau Tanjung Hampar tepatnya di Kampung Ketumbi Desi memerlukan waktu selama enam hari enam malam yang penuh perjuangan naik kapal muatan kayu selama berhari-hari membuatnya mabuk laut dan ciut nyali. Desi merasa menyesal telah bertukar tempat dengan Salamah. Namun rasa lelahnya itu hilang ketika melihat buku kalkulus yang ada di hadapannya. Setelah turun dari kapal Desi melanjutkan perjalanannya ke Kampung Ketumbi sejauh 100 kilometer. Desi naik angkutan darat yaitu bus reot yang jalannya sudah terseok-seok.
Setelah Desi sampai di Kampung Ketumbi kehadirannya disambut hangat oleh para warga Kampung Ketumbi. Bu Desi ditempatkan di Sekolah Menengah Atas dan ternyata lebih parah daripada dugaannya. Sebab sebagian murid takut terhadap pelajaran matematika. Namun Bu Desi tetap mencoba mengajarkan matematika dengan penuh semangat dengan berbagai metode pelajaran yang ia kuasai dengan gigih untuk memenuhi tujuannya yaitu memberantas kebodohan.
Terkadang Bu Desi patah semangat dan bingung, metode apa lagi yang ia harus gunakan karena masih banyak murid yang takut dan bebal sama matematika. Sampai ia dijuluki dengan Bu Desi Mal, karena terkesan galak. Dan siswa takut untuk masuk kelasnya beliau, takut dimarahin jika mendapatkan nilai merah ketika ulangan.
Ada salah satu murid yang bernama Aini ia murid yang hampir histeria. Setiap pelajaran matematika perutnya selalu sakit, tetapi jika sudah selesai jam pelajaran matematikanya sakit perut itu lenyap, hilang seketika dan Aini segar bugar seperti sediakala. Nilai Aini di pelajaran matematika ini selalu buruk mulai ia duduk di bangku SD – sekarang ini. Namun Aini bermimpi untuk menjadi dokter ahli saraf, karena melihat kondisi ayahnya yang sakit parah, keluarganya yang kekurangan tidak bisa membawa ayahnya berobat ke dokter. Oleh sebab itu Aini ingin sekali menjadi dokter agar bisa mengobati ayahnya. Aini mengerti ia harus pandai matematika, maka itu ia mendaftarkan masuk kelas Bu Desi karena ia guru matematika yang paling jenius. Ia yakin akan menjadi murid yang hebat jika diajar oleh guru yang hebat.
Dengan tekadnya yang kuat dan impiannya ingin menjadi dokter agar bisa menyembuhkan ayahnya, ia diterima di kelas Bu Desi dengan syarat tidak boleh mendapatkan nilai ulangan dengan nilai biner. Kemudian Aini belajar lebih giat tetapi ia sering sakit perut kalau disuruh membaca buku padahal materi matematika tingkat SMP ia belum menguasai dan selalu menjadi bulan-bulan di kelas. Kemudian Bu Desi mengancamnya akan dideportasi ke kelas Pak Tabah jika tidak ada perubahan nilainya. Ia mulai takut dan berusaha agar tetap di kelas Bu Desi, kemudian ia mempunyai ide yaitu ia belajar langsung ke rumah dinas Bu Desi setiap sore. Setelah sudah berjalan empat minggu Aini tidak ada perubahan Bu Desi hilang kesabaran kemudian mendapamprat Aini dengan kata-kata pedas hingga Aini menangis. Bu Desi merasa menyesal telah mendapamprat Aini habis-habisan, ia ragu apakah ia masih mau datang ke rumah dinasnya.
Aini yang seorang pejuang ia tetap datang ke rumahnya Bu Desi. Ketika Bu Desi memberi pertanyaan tersulit dalam ilmu kalkulus, Aini langsung bisa menjawab pertanyaannya. Bu Desi sangat bahagia akhirnya murid bebal matematika merdeka dan metode yang diberikannya sangat manjur dan ia lebih idealis dalam mengajar. Ia yakin bahwa matematika itu bukan bakat namun bisa dipelajari.
Saat masa kelulusan tiba, Aini lulus dengan predikat siswa terbaik ketiga dengan wali kelas Bu Guru Desi. Kemudia ia pun berangkat ke kota untuk mengikuti tes masuk fakultas kedokteran. Ia menjalankan tes dengan lancar. Saat pengumuman tiba Aini dinyatakan lulus masuk fakultas kedokteran. Ia pun membeli koran dan mengabarkan hasil terbaik dalam hidupnya ke orang tuanya dan gurunya.
Setelah ada pengumuman biaya pendaftaran Aini terbelalak melihat biaya fakultas kedokteran yang sangat fantastik. Orang tuanya yang miskin tidak mampu membiayai kehidupannya. Ia terus berjuang meminta keringanan biaya namun hasilnya nihil. Batas waktu daftar ulang pun telaah habis, ia tak mampu membayar biaya daftar ulang kemudian kembali ke kampung halamannya. Ia sangat kecewa karena tidak bisa menjadi dokter untuk menyembuhkan ayahnya. Ia sangat berharap sekali pemerintah memberi beasiswa namun ia kurang beruntung karena keluarganya miskin. (ykib/lina).
Kelebihan buku:
Gaya bahasanya sehari-hari dan menarik sehingga mudah dimengerti oleh pembaca. Sangat menginspirasi untuk pelajar remaja karena tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini. Ilmu bisa dipelajari dan diperjuangkan. Bagi profesi seorang guru patutlah bangga karena guru adalah idola murid bahkan pendorong murid untuk berani bermimpi dan mengubah hidupnya.
Kekurangan buku:
Ada beberapa cerita yang isinya terlalu berlebihan atau bertele-tele dan kurang efektif sehingga pembaca merasa ceritanya kurang bermakna.
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Cepu

