Oleh Iin Vina Noviana, S.Pd.
Buku ini menceritakan tentang penghormatan murid SD Sukamakmur kepada jasa atau pengorbanan guru terutama guru yang bernama Pak Palguna, yang mampu mengubah pemikiran mereka untuk hidup menjadi lebih baik. Berkat jasa beliau lah, murid yang terdiri dari Tulus, Afandi, Prayoga, Rohmayanti dan lain-lain menjadi orang sukses. Dengan pengorbanan guru-guru SD Sukamakmur, Tulus dan kawan kawan membangun sebuah Museum Palguna untuk mengenang jasa – jasa guru mereka.
Diceritakan dalam buku Pak Palguna ini mampu memberikan wawasan baru sehingga dapat membangunkan semangat muridnya terkait dengan pembangunan desa menjadi lebih baik. Di mana Desa Sukamakmur ini terkenal dengan daerah yang gersang, kehidupan penduduknya bergantung dengan alam. Di saat musim pengujan lahan sawah ditanami padi, namun di saat kemarau lahan tersebut tidak dikelola dengan baik sehingga mayoritas yang bekerja sebagai petani menjadi penggangguran saat musim kemarau tersebut. Namun berkat pengajaran yang dilakukan oleh Pak Palguna serta semangat murid-murid untuk hidup lebih baik, desa tersebut menjadi sejuk dan nyaman. Di mana Pak Palguna mengajarkan terkait dengan pembangunan Desa Sukamakmur menjadi lebih baik dengan melakukan penanaman pohon yang diusulkan oleh murid yang bernama Tulus. Usulan Tulus tersebut disampaikan kepada Kepala Sekolah agar ditindaklanjuti dan dilaksanakan. Kepala Sekolah tersebut menyampaikan usulan ke Kepala Desa, namun usulan itu membuat Kepala Desa malu akan pemikiran anak SD yang sudah dewasa. Singkat cerita pelaksanaan penanaman pohon ini dilakukan dengan musyawarah terlebih dahulu dan dilakukan menanam pohon yang diikuti oleh semua warga. Setelah menanam pohon, murid SD Sukamakmur dan warga saling menjaga tanaman dan memberikan pupuk. Sehingga desa tersebut menjadi desa yang sejuk, nyaman dan tidak gersang lagi.
Selain memberikan wawasan terkait dengan pembangunan desa, Pak Palguna juga memberikan semangat kepada muridnya terkait pentingnya melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, agar menjadi orang sukses. Wejangan tersebut dilakukan oleh Tulus dan kawan kawannya, di mana mereka melanjutkan sekolah hingga STM, ada juga yang sekolah hingga perguruan tinggi.
Tulus yang dikenal dengan anak yang sedikit berbicara dan pintar yang merupakan lulusan STM, ia lebih memilih untuk membangun desanya dengan mengurus area sawah menjadi hutan hijau bersama anggota karang taruna. Setelah menikah Tulus memilih menjadi transmigran yang dikirim ke Kalimantan untuk mengubah nasib menjadi lebih baik. Di Kalimantan Tulus mengolah tanah menjadi area perkebunan, dengan semangat dan kerja keras Tulus dapat memiliki area perkebunan puluhan hektar dan menjadi transmigran yang sukses hingga diberikan penghargaan dari bapak Presiden. Selain Tulus, Afandi yang memiliki gelar Sarjana Teknologi Pertanian, menerapkan ilmu yang diperoleh untuk kesejahteraan petani. Ia mendaftarkan diri di Departemen Transmigrasi menjadi tenaga sukarela untuk mengolah tanah yang ada di Kalimantan. Di Kalimantan itulah Afandi dan Tulus menerapkan ilmunya. Dengan semangat dan kerja keras Tulus menjadi transmigran teladan. Sedangkan Afandi sebagai pendamping berprestasi bagi warga di daerah transmigran.
Kesuksesan yang meraka raih, tidak terlepas dari bimbingan serta dukungan yang dilakukan oleh para guru mereka, sehingga meskipun mereka sukses di daerah lain, mereka tidak melupakan tempat kelahirannya. Ketika Tulus dan Afandi merasa rindu akan kampung halaman, mereka berdua berencana untuk pulang kampung dan mengadakan reuni SD Sukamakmur, Afandi menghubungi temannya yang bernama Wardal yang menjadi Kepala Desa Sukamakmur. Selain itu Afandi juga menghubungi teman lainnya yang bekerja di luar kota.
Acara reuni dihadiri oleh alumni SD Sukabumi dengan membawa keluarganya, banyak alumni yang berdatangan dan merasa bahagia bertemu dengan kawan lama. Namun kebahagian tersebut menjadi kelabu karena tidak hadirnya Pak Palguna, tokoh yang paling dianggap berjasa membawa perubahan menuju kemajuan masyarakat Desa Sukamakmur, karena telah pulang tiga hari yang lalu. Sosok Pak Palguna tak hanya pandai dalam memberi pengetahuan, tapi juga arif dan bijaksana dalam menanamkan nilai-nilai moral. Selain di sekolah Pak Palguna juga sangat dikagumi oleh masyarakat. Sehingga dalam merencanakan kegiatan reuni akan ada penghargaan untuk Pak Palguna, namun karena Pak Palguna telah meninggal dunia, penghargaan diserahkan kepada Bu Saraswati, istri Pak Palguna. Selain pernghargaan tersebut alumni dari SD Sukamakmur berencana untuk membangun museum sebagai tanda penghormatan atas jasa yang diberikan oleh para guru mereka. Tulus, Afandi, Wardal dan lainnya mendirikan museum di tengah pemukiman warga yang dekat jalan raya, museum tersebut dibangun senyamannya agar pengujung betah untuk mengunjungi. Museum tersebut diberi nama “Museum Palguna” yang diambil dari nama salah satu guru mereka yang semasa hidupnya mengabdikan diri untuk kemajuan pendidikan. Pak Palguna memang bukan pahlawan perang, beliau tidak pernah memanggul senjata, namun berkat beliau mereka dapat hidup makmur sejahtera.
Dibanding dengan jasa bapak ibu guru, Museum Palguna sangat kecil nilainya. Sebab dengan pengetahuan dan keterampilan yang diberikan oleh bapak ibu guru mereka dapat membuat gedung, jalan raya bahkan pesawat terbang. Tapi sebaliknya, tidak mungkin membeli pengetahuan atau keterampilan dengan gedung bahkan dengan pesawat terbang.
Dapat kita ambil hikmah dari buku tersebut bahwasanya jasa guru tiada tara untuk membuat murid mencapai cita cita, dengan kesabaran dan ketulusan dalam mengajarkan ilmu pengetahuan dapat memberikan semangat muridnya dalam menggapai cita-cita. Dan dari buku ini kita sebagai murid harus patuh dan hormat kepada guru kita, jangan pernah melawan karena tanpa jasa guru kita tidak bisa apa apa.
Kelebihan buku :
- Penulis dapat membawakan inti dari buku ini dengan bahasa yang mudah dipahami ditambah dengan adanya berbagai gambar yang dapat menarik pembaca.
- Penulis dapat menyampaikan pesan dari isi buku tersebut melalui kalimat dan bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca.
Kekurangan buku:
- Masih banyak kesalahan penulisan, pengetikan dan tanda baca pada buku ini.
- Pengulangan informasi sering terjadi pada bab-bab berikutnya sehingga kita sebagai pembaca membaca berkali-kali.
Judul Buku : Hadiah untuk Guru Tercinta
Penulis : Turiyo Ragil Putra
Penerbit : Pustaka Buku
Kota Terbit : Solo
Tahun Terbit : 2007
Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

