Oleh Muhammad Roqib
Manusia adalah homo ludens, makhluk yang bermain. Hasrat untuk bermain itu sifatnya alami, khususnya terhadap semua hal yang berhubungan dengan dunia. Saya sewaktu kecil suka sekali bermain di sawah sepanjang hari. Terkadang mencari belut di saat Pak Tani membajak sawahnya, terkadang mencari jangkrik di antara tumpukan batang kedelai kering, adakalanya mencari jamur padi di saat hujan deras, dan kadang-kadang mencari buah ciplukan yang tumbuh lebat di tengah hamparan sawah. Persawahan seperti taman bermain. Bermain terkadang tidak mengenal waktu, kadang siang hari, kadang juga malam hari. Entah itu musim kemarau, atau musim hujan, selalu ada permainan mengasyikkan yang bisa dilakukan. Kalau musim hujan paling asyik “bluron” di sungai yang sedang banjir. Kalau musim kemarau, paling asyik bermain layangan di persawahan yang gersang. Angin sangat kencang sehingga mudah menaikkan layang-layang.
Itu permainan anak-anak zaman dulu. Banyak bermain di luar rumah, seperti di persawahan, halaman rumah, lapangan, atau tempat apa pun yang bisa digunakan untuk tempat bermain. Kalau malam hari pas bulan purnama misalnya paling seru bermain petak umpet bersama teman-teman. Permainan zaman dulu banyak menggerakkan fisik, bermain bersama yang membutuhkan kerjasama, atau kompetisi yang seru seperti bermain sepak bola.
Kondisi itu berbeda sekali dengan permainan anak-anak zaman sekarang. Anak-anak sekarang lebih banyak bermain menggunakan handphone, hanya menggunakan jari-jarinya untuk mengutak-atik handphone. Yang banyak digunakan adalah intelektual dan imajinasinya, tetapi gerakan fisiknya jarang digunakan. Sekarang sudah jarang sekali misalnya melihat anak-anak bermain petak umpet pada malam hari pada saat bulan purnama, atau bermain bekel, yang dulu sering dilakukan oleh anak-anak perempuan. Zaman berbeda, permainan anak-anak pun berbeda.
Bermain boleh jadi tampak sebagai penggunaan waktu yang tak jelas jluntrungannya. Namun yang menarik adalah bahwa hewan-hewan paling cerdas adalah yang paling suka bermain. Selain itu, tak ada spesies yang menikmati masa anak-anak seperti manusia. Bermain memberi makna bagi kehidupan, tulis ahli sejarah Belanda, Johan Huizinga pada 1983. Dialah yang memberi kita julukan Homo Ludens – “manusia bermain”. Semua yang kita sebut budaya, kata Huizinga, berasal dari bermain.
Maka, berikan kemerdekaan kepada anak-anak kita untuk bermain. Pada masyarakat pra sejarah – masyarakat berburu dan pengumpul – anak – anak diperbolehkan bermain seharian, dari pagi sampai malam. Balita tak perlu tes atau nilai untuk belajar dan berbicara. Mereka mempelajarinya secara alami, karena ingin menjelajahi dunia. Anak-anak pemburu pengumpul juga belajar lewat bermain. Menangkap serangga, membuat busur dan panah, meniru bunyi hewan – ada banyak yang bisa dilakukan di hutan. Dan kemampuan bertahan hidup memerlukan pengetahuan luas mengenai tumbuhan dan hewan.
Dengan bermain bersama, anak-anak juga belajar bekerjasama. Anak-anak pemburu pengumpul selalu bermain dalam kelompok campuran, anak laki-laki dan perempuan segala umur bersama-sama. Anak kecil belajar dari yang lebih besar, yang merasakan tanggung jawab untuk mengajarkan pengetahuannya.
Permainan itu memiliki beberapa variabel. Yang pertama, bermain itu serius dalam ketidakseriusan. Contohnya ya bermain sepakbola. Kadang sepakbola itu hanya main-main saja, tetapi juga bisa jadi kompetisi yang serius, seperti piala dunia atau piala Asia.
Yang kedua, bermain itu bebas, sukarela. Main tidak bisa dipaksa. Kalau seseorang tidak suka bermain sepak bola tetapi dipaksa, pasti permainannya kacau. Ketiga, permainan itu biasanya bukan hanya soal jasmaniah, tetapi juga ada dampak inteleknya. Permainan acting jangan dikira hanya aktivitas jasmaniah saja, intelek dan imajinasinya juga ikut bermain. Yang keempat, permainan itu efeknya pasti menyenangkan. Bermain itu yang dicari efek menyenangkannya. Yang kelima, bermain itu bisa dinikmati. Dalam permainan sepak bola, yang seru itu mainnya. Kalau hanya melihat hasilnya, tidak seru.
Kata Rasulullah, hidup itu ada waktunya serius, ada waktunya bermain. Sa’atan sa’atan. Rasulullah juga pernah bersabda ; hati-hati bagi yang terlalu serius, yang hidupnya tidak pernah senyum. Sesungguhnya,orang seperti itu hatinya capek. Apabila capek, dia jenuh. Apabila dia jenuh, dia buta. Jangan dibuat terlalu capek. Harus ada fase istirahatnya. Kalau tidak, hati anda malah tidak bisa dipakai karena buta. Jadi, tidak apa-apa jika ada dimensi main-main dalam kehidupan kita. Untuk istirahat, katarsis, agar tidak terlalu kaku, agar tidak terlalu serius.
Imam Ghazali dalam Ihya Ulum Al-Din, mengatakan, bahwa seorang guru harus mempersilakan muridnya bermain setelah pelajarannya usai. Bermainlah dengan permainan yang indah, yang mengistirahatkan dari lelahnya bangku pelajaran. Tapi, jangan sampai kelelahan gara-gara bermain. Main juga perlu istirahat.
Manusia adalah Homo Ludens. Maka bermainlah. Biarkan anak-anak kita bermain. Berikan mereka kemerdekaan dan kebebasan untuk bermain. (*/ykib).
*Penulis adalah guru Kampung Ilmu Bojonegoro
*Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik

