Oleh Puguh Prianggoro, S.Pd.
Novel Hujan Bulan Juni merupakan sebuah buku karangan Sapardi Djoko Damono yang telah terbit tahun 2015 oleh penerbit Gramedia Pusaka Utama dan telah dicetak ulang beberapa kali. Sapardi Djoko Damono merupakan seorang sastrawan Indonesia yang sangat terkenal dan menjadi guru besar pensiunan Universitas Indonesia (sejak 2005) dan guru besar tetap pada Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta (2009). Dalam novel ini kita akan menemukan kata “hujan” yang pastinya akan mengingatan kita dengan sebuah puisi karya Bapak Sapardi yang berjudul “Aku Ingin”. Puisi ini sering kali kita temui dalam kutipan-kutipan cerita ataupun ungkapan kata-kata yang melambangkan sebuah keromantisan cinta. Kutipan untuk puisi ini sebagai berikut: Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. Sederhana namun puisi ini memiliki kesan yang mendalam dan indah untuk dipahami maknanya. Dari kutipan puisi ini kita pasti akan mengingat tentang novel bapak Sapardi yang berjudul Hujan Bulan Juni.
Novel Hujan Bulan Juni karangan sastrawan legenda Indonesia ini juga sudah diadaptasi menjadi sebuah film yang berjudul sama yaitu Hujan Bulan Juni dan memiliki kisah yang sama dengan isi dalam novelnya, kisah cinta antara Sarwono dan Pingkan yang terhalang berbagai macam hal, seperti perbedaan agama, suku, pertentangan dari keluarga, dan hubungan jarak jauh.
Novel Hujan Bulan Juni ini mengisahkan tentang Sarwono yang merupakan orang Jawa asli yang sekarang bekerja menjadi salah satu dosen Antropolog di Universitas Indonesia, sedangkan Pingkan adalah keturunan campuran Jawa dengan Manado yang juga seorang dosen Sastra Jepang di Universitas Indonesia. Cerita awal novel ini berkisah dari Sarwono yang pertama kali menganal Pingkan karena Pingkan adalah adik dari temannya yang bernama Toar. Sarwono dan Toar sudah berteman sejak SMP saat di Solo.
Banyak rintangan yang harus dihadapi oleh mereka karena adanya beberapa perbedaan, namun pembawaan dalam ceritanya terkesan santai dengan cerita-cerita percakapan yang ringan yang membuat hubungan antara Sarwono dan Pinkan menjadi terasa romantis.
Permasalahan pertama muncul saat Sarwono dan Pingkan mendapatkan kabar bahwa Pingkan harus pergi ke Jepang melanjutkan studinya. Ia dikirim dari kampusnya dan mengikuti perintah dari prodinya. Di sini Sarwono merasa sedih karena harus berpisah dengan Pingkan dengan jarak yang jauh dan waktu yang lama, begitu pula yang dirasakan oleh Pingkan yang merasa sedih. Namun mau bagaimanapun itu tidak bisa dihindari dan Pingkan harus pergi ke Jepang. Sarwono dalam hatinya merasa jengkel karena Pingkan harus ke Jepang dan bertemu dengan Katsuo yang sebelumnya pernah studi di Indonesia dan menjadi mahasiwa yang begitu populer di kalangannya dan Pingkan juga dekat dengan Katsuo. Semakin jengkel Sarwono karena tahu bahwa Katsuo juga akan bekerja sama dengan Pingkan saat di Jepang karena Katsuo juga seorang Dosen di sana.
Permasalahan kedua muncul saat Sarwono berkunjung ke rumah Bibi Henny, tantenya Pingkan. Dalam permasalahan selanjutnya ini menjadi semakin rumit karena dari keluarga Pingkan tidak setuju dengan Pingkan yang memilih Sarwono untuk menjadi pasangannya. Keluarga Pingkan juga mendesak Pingkan untuk mau dijodohkan dengan dosen muda yang telah kenal dengannya di Manado yaitu Pak Tumbelaka,namun Pingkan tetap menolak saran dari Bibi Henny tersebut. Sebernarnya di sini keluarga Pingkan tidak menyetujui hubungannya dengan Sarwono karena perbedaan agama dan suku, mereka tidak mau Pingkan seperti bapak dan ibunya yang juga orang Manado mendapat jodoh orang Jawa dan berharap supaya Pingkan tinggal di Manado saja bukan kembali ke Jakarta atau Solo ikut dengan Sarwono.
Keberangkatan Pingkan yang seharusnya masih beberapa bulan lagi ternyat diajukan untuk segera berangkat ke Jepang yang membuat Sarwono mau tak mau melepaskan Pingkan pergi darinya, namun sebelum keberangkatan Pingkan Sarwono telah diminta untuk bertemu dangan ibunya Pingkan dan membicarakan tentang keseriusan Sarwono untuk menikahi Pingkan dan tidak disangka Ibunya Pingkan merestui hubungan mereka walau keluarga yang lain tidak menyetujuinya.
Sudah beberapa waktu berlalu sejak jarak memisahkan mereka antara Indonesia dengan Jepang. Sarwono sebenarnya sekarang sedang tidak baik-baik saja karena akhir-akhir ini dia merasa tidak sehat dan masih harus bertahan dengan kerinduannya kepada Pingkan yang belum kembali. Suatu ketika Pingkan telah pulang ke Indonesia dan ingin segera bertemu dengan Sarwono namun Pingkan mendapat kabar buruk tentang kondisi Sarwono yang sedang kritis dan dirawat di rumah sakit Solo karena sakit paru-paru basah. Pingkan langsung pergi ke Solo untuk menemui Sarwono, namun sesampainya disana Pingkan tidak dapat bertemu dengan Sarwono dan hanya dapat bertemu dengan ibunya Sarwono. Saat bertemu dengan ibunya Sarwono, Pingkan diberi sebuah Koran titipan dari Sarwono kepada ibunya. Dalam Koran itu tertulis tiga sajak puisi karya Sarwono yang telah dimuat.
Dalam Novel Hujan Bulan Juni ini memiliki desain sampul atau cover yang sangat keren dengan tulisan yang diberi efek luntur seperti terkena air hujan. Novel ini juga memiliki cerita yang tidak mudah ditebak namun dalam novel cerita yang ada masih memiliki akhir yang tanggung dan akan dilanjutkan dalam novel selanjutnya yang berjudul Pingkan Melipat Jarak. (*/ykib).

