*Oleh Rizky Ayu Hudita, S.Hum.
Sesuai dengan judul bukunya It’s Not About The Shark : Terobosan Baru dalam Penyelesaian Masalah adalah sebuah buku yang berisi kumpulan cerita inspiratif dan kreatif orang-orang terkenal dalam menyelesaikan masalah. Di dalam buku ini kita akan belajar bagaimana menyelesaikan masalah dengan cara yang tidak biasa. Kita bisa belajar untuk tidak hanya berfokus pada masalah namun lebih berfokus ke solusi apa yang bisa dilakukan dalam menyelesaikan masalah itu.
Masalah adalah sesuatu hal yang tidak akan terpisahkan dari kehidupan seseorang. Bisa dikatakan bahwa hal ini akan selalu menjadi bagian dari kehidupan kita. Tidak ada orang di dunia ini yang tidak akan mendapatkan masalah. Semua manusia yang masih hidup akan selalu berhadapan dengan masalah. Kita mungkin akan cenderung fokus pada masalah yang ada dan berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikannya. Akan tetapi, masalah itu malah semakin buruk dan rumit.
Buku diawali dengan kisah Steven Spielberg. Ia mengalami masalah pada pembuatan film pertamanya yaitu Jaws. Film ini meceritakan tentang hiu dan ia mereplika hiu mekanis. Akan tetapi ia mengalami masalah pada hiu tersebut. Hiu yang ia buat tidak bergerak. Terdesak oleh waktu dan biaya untuk membuat film pertamanya itu membuat Steven Spielberg harus mengatasi hal tersebut. Berbagai cara ia lakukan demi hiu itu dapat berenang. Ia hanya fokus ke masalahnya. Ia hampir frustasi karena semakin ia coba membenahi hiu itu hanya ada kegagalan.
Dia akhirnya menemukan pencerahan. Ia berpikir, “Sebenarnya apa yang ditakuti oleh seseorang ketika berada di laut?”. Jawabannya adalah sesuatu yang ada di bawah laut, sesuatu yang tidak bisa dilihat. Maka muncullah ide “Membuat film hiu tanpa ada hiu”. Ia hanya menunjukkan sebagian tubuh hiu di permukaan laut tanpa memperlihatkan keseluruhan tubuh hiu itu. Dia dan para ahli menambahkan efek di sana sini untuk menyajikan film yang kemudian malah banyak disukai penonton.
Keputusannya untuk tidak menghadirkan hiu di sepanjang film itu menjadi kunci sukses film pertamanya itu. Siapa yang menyangka bahwa kegagalan hiu itu malah bisa menjadi keuntungan apabila diatasi dengan mencari solusi alternatif.
Kisah lainnya adalah pemain golf profesional, Ben Curtis. Curtis yang pernah memenangi turnamen golf bergengsi juga sempat gagal dalam waktu yang cukup lama karena terlalu fokus untuk menghindari kesalahan dalam pertandingan. Ia terlalu fokus untuk tidak melakukan kesalahan yang sama lagi. Rasa takut untuk melakukan kesalahan inilah yang menghambat dan memberikan batasan pada Curtis saat bermain golf. Hal ini terbukti dengan kegagalan demi kegagalan yang dialami Curtis saat ia hanya berpikir “kesalahan yang sama tidak boleh terulang”. Ketika ia mencoba bermain lepas dan tidak terlalu memikirkan kesalahan, ia pun kembali memenangkan perlombaan. Kesimpulannya adalah rasa takut yang berlebihan pada masalah akan menghambat kreativitas dan produktivitas dalam bekerja dan juga berkarya.
Kisah lainnya adalah kisah dari Urban Meyer. Ia adalah seorang mantan pemain bisbol yang kemudian menjadi pelatih rugbi profesional di Amerika Serikat. Sejak kecil, ayahnya sudah mendidik Meyer untuk berusaha lebih keras dalam menghadapi setiap masalah. Ia tidak akan boleh pulang semobil dengan ayahnya apabila ia mengalami kegagalan.
Tim Meyer selalu merayakan kemenangan bersama dengan “Santapan Kemenangan” yaitu ketika selesai memenangkan pertandingan mereka akan mengadakan jamuan makan bersama sambil menonton rekaman permainan mereka. Namun, suatu hari Meyer menganggap bahwa “Santapan Kemenangan” adalah sesuatu yang bisa ditingggalkan demi menambah waktu berlatih lagi. Sayangnya hal itu kemudian ditiru oleh anggota lainnya sehingga “Santapan Kemenangan” yang ia rintis bersama timnya sejak lama tak berlaku lagi. Kebersamaan sebuah tim tak ada lagi.
Lama-kelamaan keadaannya memburuk ketika ia jatuh sakit yang diakibatkan oleh stres dan beban pekerjaan yang berlebihan. Sejak saat itu, ia mulai mengurangi beban pekerjaan dan mengubah prinsipnya mengenai usaha dan upaya yang selama ini ia yakini. Berusaha lebih keras dalam menghadapi sebuah masalah tidak dapat memperbaiki keadaan, yang terjadi malah sebaliknya.
Ada kalanya ketika kita menjauh sejenak dari masalah dan melakukan hal-hal lain yang tidak ada hubungannya dengan masalah tersebut justru dapat memberikan kita jalan keluar yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Seringkali kita terpaku pada masalah itu dan memaksa untuk mencari alasan dibalik masalah itu. Lalu memaksa untuk menghindari alasan dari masalah itu namun tidak memberi kesempatan pada otak kita untuk memikirkan hal lainnya. Kita mengurung pikiran kita untuk berpusat pada satu masalah tanpa memberikan jeda dan ruang sejenak. Padahal seringkali kita akan menemukan pencerahan atau solusi ketika kita tidak sedang memikirkan masalah itu. Bisa saja saat kita healing ke luar kota, bercanda gurau dengan teman, atau saat menikmati makan bersama keluarga.
Masih banyak lagi kisah-kisah dengan solusi alternatif lainnya yang dapat dibaca dalam buku David Niven ini. Buku yang menarik untuk menyelesaikan masalah tanpa menciptakan masalah baru lagi.
Kesimpulan buku ini:
- Berfokus pada masalah terlebih dahulu membuat kita 17 kali lebih kecil kemungkinannya untuk menemukan jawaban
- Takut akan suatu masalah adalah hal yang wajar, namun tidak dengan takut berlebihan
- Menemukan masalah menciptakan kekuatan yang membuat Anda tidak menemukan solusi
- Bekerja lebih keras sebenarnya menyembunyikan jawaban
- Keyakinan mutlak membuat Anda cenderung tidak menemukan jawabannya
- Berpaling dari masalah membantu melihat solusi
- Mendengarkan hanya untuk diri sendiri adalah salah satu cara terbaik untuk menemukan jawaban
Kekurangan & Kelebihan
Kekurangan dari buku ini adalah penulisan yang bertele-tele. Di setiap peralihan cerita satu tokoh ke tokoh yang lain tidak dipisahkan oleh tanda baca yang biasanya dipakai dalam penulisan. Sebegai contohnya saat penulis menceritakan kisah Ben Curtis lalu beralih ke cerita orang berikutnya hanya dipisahkan oleh 1 spasi kosong. Selain itu penulis selalu menggunakan kata “Anda” untuk menyuruh pembaca merasakan seolah adalah pelaku cerita. Terlalu sering penggunaan penulisan seperti itu membuat cerita menjadi bertele-tele dan membosankan. Sehingga membuat pembaca akan memilih cerita lain yang langsung pada intinya.
Bagusnya buku ini terdiri dari 10 Bab yang masing-masing bab menceritakan sekumpulan problem solving orang yang berbeda-beda. Di setiap akhir bab terdapat kesimpulan/rangkuman poin penting. Sehingga saat kesulitan untuk memenuhi satu cerita kita bisa memilih untuk membaca kesimpulan di akhir bab agar lebih mudah memahami inti dari kumpulan cerita yang dituliskan. Dari buku ini kita bisa belajar untuk tidak lagi berpikir “Kenapa bisa gagal? Dimana letak kegagalannya?” tapi kita akan berfokus “Bagaimana solusi dari masalah ini? Apa yang sebaiknya kita lakukan berikutnya?”. Buku ini mengajarkan kita untuk tidak meratapi sebuah kegagalan namun bangkit mencari solusi dari sebuah masalah itu.
Identitas buku:
Judul : It’s Not About the Shark. Terobosan Baru dalam Penyelesaian Masalah
Pengarang : David Niven, Ph.D.
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978-602-03-3826-2
Halaman : 268 halaman
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Padangan

