*Oleh Rita Anggraeni, S.S., M.A.
Buku Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta merupakan karya Alvi Syahrin. Salah satu buku best seller ini diterbitkan pertama kali pada bulan Desember 2018. Buku Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta adalah sebuah buku self-improvement yang dikemas dalam bentuk kumpulan cerita pendek. Buku ini menggunakan pendekatan yang realistis, tidak sekadar memberikan janji manis tentang cinta, tetapi juga mampu membuat pembaca merenungkan apa yang Alvi tuliskan dalam buku ini.
Buku ini berisi kumpulan tulisan pendek yang menceritakan berbagai fase dalam mencintai, mulai dari jatuh cinta diam-diam, patah hati, penantian, hingga proses mengikhlaskan. Alvi Syahrin memosisikan diri sebagai seorang sahabat yang menemani pembaca melewati masa-masa sulit akibat perasaan cinta. Buku ini membahas pandangan dan sudut pandang tentang cinta, yang dianggap oleh sebagian orang menjadi suatu hal yang paling fundamental dalam kehidupan. Selain itu, buku ini membahas problematika kehidupan percintaan yang banyak dialami oleh masyarakat, baik remaja maupun dewasa, baik dalam fase berpacaran maupun pernikahan.
Alvi membaginya ke dalam 45 bagian dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Buku ini memuat cerita kehidupan percintaan yang mungkin sedang dialami oleh pembaca. Buku ini diawali dengan bab “Ketika Usiamu Delapan Belas Tahun”. Di dalam bab ini, penulis menceritakan seorang yang mulai tumbuh rasa suka terhadap lawan jenis dan merasakan jatuh cinta, lalu merasakan patah hati, kemudian seiring berjalannya waktu bertemu dengan seseorang yang baru, lalu merasakan patah hati lagi, hingga mampu menyadarkannya bahwa ada yang lebih penting daripada cinta dalam hidup ini.
Buku ini terdapat kisah cinta remaja dan juga problematikannya, seperti cinta bertepuk sebelah tangan, cinta beda agama, cinta tak direstui dan lain-lain. Buku ini menceritakan awal cinta yang sungguh manis, kemudian merasakan bagaimana rasanya sakit karena mencintai dan problematika lainnya. Buku ini bisa sebagai bentuk penyadaran bagi kita yang saat ini sedang merasakan patah hati. Kita yang saat ini sedang galau karena cinta atau berada di fase yang mungkin ditinggal ketika sayang-sayangnya. Buku ini memosisikan diri sebagai teman, sehingga kita tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Buku ini juga menyadarkan kita bahwa cinta itu bukan segalanya karena ada lagi yang lebih kita jadikan tujuan hidup selain cinta.
Salah satu bagian dari buku Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta yang relevan dengan kehidupan saat ini adalah couple goals. Ternyata cinta tak seperti yang dipertontonkan di Instagram, pasangan yang terlihat sangat cocok dan kompak, disertai caption manis yang membuat iri orang yang melihatnya. Namun, setelah beberapa bulan kemudian, ditemukan fakta bahwa pasangan couple goals itu sudah tidak lagi bersama. Tidak ada lagi foto-foto mesra mereka, tidak ada lagi caption-caption manis ketika mereka pacaran. Ternyata kasus ini juga ditemukan pada pasangan yang sudah menikah. Di media sosial memperlihatkan foto yang manis dan mesra, tetapi di kehidupan nyata yang terjadi justru sebaliknya.
Alvi Syahrin mengajak pembaca untuk merenungkan kembali apa sebenarnya makna jatuh cinta. Buku ini menekankan bahwa jatuh cinta tidak selalu berakhir indah, dan itu tidak apa-apa. Patah hati justru dianggap sebagai proses pendewasaan yang membantu kita memahami diri sendiri dan apa yang sebenarnya kita butuhkan dalam hidup. Pelajaran penting di dalam buku ini adalah cinta bukan segalanya. Hidup ini tidak akan berhenti hanya karena cinta. Selain itu, kita harus belajar melepaskan seseorang yang memang tidak ditakdirkan untuk kita. Hal ini adalah bentuk kasih sayang tertinggi untuk diri sendiri. Hal yang juga penting dalam buku ini adalah memperbaiki diri sendiri sebelum mencari pasangan.
Alvi mengingatkan bahwa daripada sibuk mencari orang yang tepat, lebih baik fokus menjadi orang yang tepat. Alvi mengajak pembaca untuk menata ulang niat dan mengembalikan segala bentuk rasa cinta kepada sang pemilik cinta sejati, yaitu Tuhan. Hakikat cinta yang paling sebenarnya adalah cinta yang tidak menjauhkanmu dari dirimu sendiri dan Tuhanmu. Cinta bukanlah tujuan hidup yang sebenarnya. Penulis memberi pesan bahwa hakikat mencintai terasa seperti bermain judi. Semakin banyak yang kau beri, semakin banyak kerugian yang mungkin kau dapatkan.
Buku ini mengandung sudut pandang yang realistis dan religius. Buku ini mampu menggabungkan realita perasaan manusia dengan nilai-nilai spiritual. Alvi tidak menghakimi pembaca yang merasa sedih karena putus cinta, namun ia mengingatkan bahwa terkadang jatuh adalah cara Tuhan untuk menjauhkan kita dari orang yang salah. Buku ini memiliki alur cerita yang linear seperti novel. Isinya terdiri dari bab-bab pendek yang bisa dibaca secara acak sesuai dengan suasana hati pembaca. Bahasanya puitis namun tetap lugas, sehingga pesan yang disampaikan mudah meresap ke dalam hati.
Buku Jika Tak Pernah Jatuh Cinta bisa dibaca oleh siapa pun yang sedang berjuang menyembuhkan luka hati atau yang sedang bingung mengarahkan rasa cintanya. Alvi Syahrin berhasil membuktikan bahwa jatuh cinta tidak harus berakhir dengan luka, jika kita tahu kepada siapa hati ini seharusnya ditambatkan. Dari segi design dan layout terlihat sangat menarik karena terdapat ilustrasi yang mendukung judulnya, seperti tambahan gambar bunga-bunga dan warna pink yang identik dengan cinta. Kekurangan buku ini adalah penggunaan sudut pandang yang tidak konsisten, terkadang sebagai seorang perempuan, tetapi tiba-tiba sebagai seorang laki-laki. (ykib/rita).
Identitas buku
Judul buku : Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta
Pengarang : Alvi Syahrin
Penerbit : GagasMedia
Tahun terbit : 2018 (Cetakan Pertama)
Tebal buku : viii + 224 halaman
ISBN : 978 979 780 934 8
*Penulis resensi buku adalah Kepala Kampung Ilmu Cepu

