Kartini

*Oleh Ainun Dyan Suttie. P, S.Pd

Buku ini menceritakan perjalanan hidup Kartini dari ia dilahirkan sampai dengan akhir hayatnya. Pada masa kolonial Belanda di sebuah kabupaten Kota Jepara lahirlah seorang perempuan yang diberi nama Kartini. Ia lahir pada tanggal 28 April 1879, anak kandung dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dengan garwo ampil bernama Ngasirah.

Ketika Kartini lahir golongan liberal masih berkuasa di mana semua kebijakan yang diambil akan menguntungkan pengusaha swasta. Dari kebijakan inilah yang menjadikan Hindia Belanda sebagai produsen nomor satu di komoditas gula yang bisa mengalahkan negeri jajahan negara Eropa di Karibia.

Semasa kecil Kartini diasuh oleh ibundanya sendiri yaitu Ngasirah. Ia tumbuh menjadi sosok gadis kecil yang lincah dan banyak akalnya. Namun ia juga sangat teliti dalam segala hal.  Kartini juga memperoleh kasih sayang dari ayahnya secara adil meskipun ayahnya juga memiliki anak dari istri yang lainnya juga. Ayah Kartini adalah sosok yang sangat menyayangi anak- anaknya tanpa membedakan, namun yang selalu ia tekankan adalah bahwasanya orang yang diperbolehkan sekolah adalah anak laki- laki. Sedangkan anak perempuan harus berdiam diri atau istilahnya dipingit sebelum ada seorang laki-laki datang melamarnya.

Ketika Kartini berumur 6,5 tahun, Kartini ingin sekolah seperti kakak laki – lakinya yang dibebaskan bersekolah. Ia mendesak ayahnya untuk mengizinkannya sekolah.

Meskipun Raden Mas Sosrokartono enggan melanggar tradisi yang ada dengan melihat kegigihan Kartini memberikan izin untuk bersekolah. Kartini dan saudara laki – lakinya bersekolah di Europasche Lagere School (ELS), yang hampir semua muridnya adalah anak Indo- Belanda.

Di sekolah, Kartini bergaul dengan anak- anak keturunan Indo- Belanda karena anak Jawa hampir tidak ada. Dikarenakan hanya putra bangsawanlah yang bisa bersekolah di ELS. ELS adalah Sekolah Dasar Belanda yang berdiri pertama kali pada atahun 1817 di Batavia. Kurikulumnya ditujukan untuk menjadikan anak didik sebagai warga negara yang baik. Kompetensi yang dituju terutama kemampuan membaca, menulis, berbahasa Belanda, sejarah, ilmu bumi, ilmu alam dan dasar bahasa Perancis dan bahasa Inggris juga Jerman.

Sebagai anak bumiputera, Kartini tergolong anak yang cerdas. Kecerdasannya tergolong istimewa. Tidak heran setiap tahun, ia selalu naik dengan prestasi yang memuaskan. Semangat untuk menjadi perempuan maju selalu memenuhi hati Kartini kecil.

Namun walaupun menjadi lulusan terbaik seorang Kartini tidak mampu mengalahkan pandangan ayahnya terhadap adat istiadat tentang kiblat perempuan bangsawan Jawa. Namun Kartini ingin menyudahi tata krama yang sudah tercipta di kehidupannya selama ini.  Baginya tata krama itu berlebihan, ia ingin membaiatkan saudara di bawahnya bebas bercengkrama tanpa dibatasi sebuah norma- norma yang ada. Sikap tegas Kartini mampu mencairkan suasana di keluarganya.

Banyak orang yang mencela kebebasan Kartini dan saudara- saudara perempuannya. Mereka menyebut bahwa Kartini dan adik- adiknya tidak berpendidikan.

Setelah lulus ELS, Kartini menjalani masa pingitan. Ia harus menghabiskan hari-harinya di rumah sampai ada seseorang yang datang melamarnya. Namun ia tidak merasa bosan karena keahliannya berbahasa Belanda ia sering menulis surat kepada teman- temannya yang ada di Belanda.  Kartini juga mempunyai banyak teman, karena mereka sering mengirim surat dan berbalas surat. Ada Nyonya Abondanon, Stella. Dan mereka juga membentuk sebuah gagasan sosialisme. Kartini menyakini bahwa hak – haknya sebagai individu boleh saja dikorbankan jika berbenturan dengan kepentingan yang lebih besar. Ia mengagungkan kebebasan sekaligus mengidealkan kepentingan orang banyak.

Pingitan yang dijalani Kartini tidak menghambatnya untuk menambah pengetahuan. Melalui berbagai macam bacaan, menjadikan Kartini mempunyai pola pikir berbeda dengan perempuan pada masa itu. Bersama Kardinah dan Roekmini yang juga menjalani pingitan, Kartini mengungkapkan keinginannya mendirikan sekolah untuk perempuan bumiputra.

 Kartini bersama dengan saudaranya Kardinah dan Roekmini bercita- cita membangun sekolah. Dan semua itu terwujud ketika Kardinah dinikahi oleh Raden Mas Haryono yang sangat mendukung apa pun yang dilakukan Kardinah. Tanpa ragu- ragu Kardinah melakukan berbagai tindakan ke arah modernisasi.

Kardinah yang menjadi seorang istri Bupati Tegal, menjadikan posisi sosialnya mewajibkan  melakukan sesuatu bagi masyarakat. Sehingga ia bersama dengan Kartini dan Roekmini membuat sekolah yang tidak membatasi akses pendidikan kaum bumiputra. Sekolah itu diberi nama Wismo Pranowo (WP) pada tanggal 1 Maret 1916. Banyak pihak yang tertarik dengan model pendidikan WP, termasuk Dewi Sartika tokoh pendidikan Priangan. Akhirnya pemerintah mengambil alih sekolah itu pada 24 Oktober 1924, dan menjadikan sekolah itu menjadi sekolah Kopschool (sekolah kejuruan bagi kaum perempuan).

Seusai masa pingitan Kartini akhirnya dilamar oleh Bupati Rembang, namun ia akan dijadikan istri ke- 4. Sejak awal Kartini menentang poligami namun ia tidak bisa berbuat banyak. Ia sebagai seorang perempuan Jawa harus tunduk oleh perintah orang tua. Meskipun ia masih ingin mengajar di sekolah yang ia kembangkan bersama dengan saudaranya.

Dengan mengajukan 4 persyaratan akhirnya Kartini mau dinikahi oleh Bupati Rembang, salah satu syarat yang diajukan Kartini adalah, ia tidak mau sungkeman atau mencuci kaki sang suami. Dan ketika ia sudah dinikahi nanti tidak akan ada selir lagi.

Akhirnya tepat pada tanggal 12 November 1903, Kartini melangsungkan pernikahannya bersama Djojoadiningrat. Namun nasib Kartini tidak sebagus saudara perempuan lainnya yang mendapatkan dukungan dari suami masing- masing untuk mewujudkan cita- cita mereka. Syarat yang diajukan Kartini kepada suaminya tidak satu pun ditepati. Mulai dari mencuci kaki suami saat upacara pernikahannya, sampai suaminya pun tetap menikah lagi walaupun sudah menikahi Kartini.

Kartini mengajukan kompensasi kepada suaminya yang telah menjadikannya istri ketiga agar mendukung semua mimpinya mendirikan sekolah untuk perempuan bumiputra. Sekolah ini tidak memandang tingkat dan derajat keturunan seseorang. Akhirnya pada bulan Januari 1904, sekolah itu resmi dibuka di pendopo Kadipaten Rembang seizin dari suaminya.

Pernikahan ini dan Djojoadiningrat tidak berlangsung lama. Setelah melahirkan putranya kesehatan Kartini semakin memburuk, ia sering mengeluhkan sakit di perutnya. Namun meskipun demikian Kartini masih sering menulis dan ikut berkomentar tentang rencana pemerintahan Hindia Belanda yang akan membentuk Welvaart Commisie atau Komisi Kesejahteraan yang membuat rakyat pribumi terbebani dengan pajak pencaharian.

Empat hari setelah melahirkan, Kartini mengehembuskan napas terakhir di usianya yang masih muda yaitu 25 Tahun. Namun semua perjuangannya tidak akan pernah mati sampai sekarang. Berkat kegigihan Kartini kaum perempuan mendapatkan derajat yang sama dengan kaum laki- laki.

Kartini berperan penting dalam mewujudkan kemajuan kaum perempuan serta bangsa dan negara Indonesia. Ia merupakan inspirasi bagi setiap orang pada masa sekarang.

Amanat yang saya peroleh dari membaca buku Kartini ini adalah dalam surat- surat Kartini disampaikan bahwa menjadi perempuan harus bertindak nyata, berani bermimpi, berani menyampaikan opini, patuh dan berani, perempuan juga harus tangguh dan berwawasan luas.

Kelebihan buku adalah kita bisa mengetahui sejarah perjuangan Kartini secara detail melalui surat- surat yang ditulisnya kepada para sahabat.

Kekurangan buku adalah banyak menyebutkan dan menceritakan tokoh lain.

Identitas buku :

Judul : Kartini

Kisah Hidup Seorang Perempuan Inspiratif

Penulis : Anom Whani Wicaksana

Penerbit : Cemerlang

Jumlah Halaman : 258

Penulis resensi buku adalah guru penggerak Kampung Ilmu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *