Keajaiban Toko Kelontong Namiya

*Oleh Umi Latifah, S.Pd.

Keajaiban Toko Kelontong Namiya merupakan terjemahan dari buku yang berasal dari jepang berjudul Namiya Zakkaten no Kiseki karya Keigo Higashino. Buku yang telah diterjemahkan oleh Faira Ammadea ini tidak hanya sekadar cerita fiksi biasa, tetapi memberikan refleksi bagi pembaca serta mengajak pembaca untuk merenungi makna hidup, tanggung jawab moral, empati dan hubungan antarmanusia dalam lintas waktu. Dalam buku ini mengandung nilai-nilai karakter dengan kepedulian sosial, kejujuran, keberanian dalam mengambil keputusan dan pentingnya mendengarkan serta memberi nasihat dengan empati.

Buku ini mengisahkan tiga pemuda bermasalah bernama Atsuya, Shota, dan Kohei yang terlibat dalam aksi pencurian. Untuk menghindari kejaran, mereka bersembunyi di sebuah toko kelontong tua bernama Toko Namiya yang tampak sudah lama kosong dan berada di daerah terpencil. Awalnya, mereka hanya menganggap tempat tersebut sebagai persembunyian sementara. Namun, tanpa mereka sadari, toko itu menyimpan keajaiban yang akan mengubah hidup mereka.

Keanehan mulai terjadi ketika sebuah surat permintaan nasihat tiba-tiba masuk melalui lubang surat toko. Surat tersebut berasal dari masa lalu, sekitar empat puluh tahun sebelumnya. Pada masa itu, Toko Kelontong Namiya dikenal sebagai tempat orang-orang meminta nasihat hidup kepada pemiliknya, Kakek Namiya. Surat-surat tersebut selalu dibalas dengan penuh ketulusan dan kebijaksanaan. Tanpa sengaja, ketiga pemuda tersebut mulai membaca dan membalas surat-surat yang masuk.

Dari surat-surat tersebut, pembaca diperkenalkan pada berbagai tokoh dengan permasalahan hidup yang beragam, mulai dari masalah keluarga, pendidikan, karier, hingga impian pribadi. Ada seorang atlet perempuan yang harus memilih antara karier dan kehidupan pribadinya, serta seorang pemuda yang bercita-cita menjadi musisi tetapi terhambat kondisi ekonomi. Kisah-kisah tersebut terasa realistis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pada awalnya, Atsuya, Shota, dan Kohei menjawab surat-surat tersebut dengan asal-asalan. Namun, seiring waktu, mereka mulai menyadari bahwa setiap surat berisi keputusan penting yang akan menentukan masa depan seseorang. Rasa empati pun tumbuh, dan karakter mereka perlahan berubah. Mereka mulai memberikan jawaban dengan lebih sungguh-sungguh. Tanpa disangka, nasihat yang mereka berikan benar-benar memengaruhi kehidupan para pengirim surat di masa lalu, bahkan saling terhubung satu sama lain.

Pengalaman di Toko Kelontong Namiya menjadi titik balik bagi ketiga pemuda tersebut. Mereka tidak lagi memandang diri mereka sebagai orang-orang gagal, melainkan sebagai individu yang masih memiliki kesempatan untuk berubah. Dengan membantu orang lain, meskipun hanya melalui surat, mereka menemukan makna hidup dan harapan baru untuk masa depan mereka.

Pada akhir cerita, Keigo Higashino menegaskan bahwa keajaiban yang terjadi bukan semata-mata karena perjalanan waktu, melainkan karena hubungan antarmanusia yang dilandasi empati dan ketulusan. Keajaiban sejati hadir melalui kesediaan untuk mendengarkan, memberi nasihat dengan tulus, serta bertanggung jawab atas pilihan hidup. Buku ini menyampaikan pesan bahwa setiap orang, tanpa memandang masa lalunya, selalu memiliki kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Kelebihan buku ini terletak pada alur ceritanya yang unik dan pesan moral yang disampaikan secara halus. Kisah-kisah sederhana berhasil dirangkai menjadi narasi yang saling terhubung dan bermakna. Gaya bahasa yang mengalir serta perkembangan karakter yang realistis membuat buku ini relevan sebagai bacaan literasi yang menumbuhkan empati, tanggung jawab, dan kesadaran dalam mengambil keputusan. Adapun kekurangannya, alur cerita pada bagian awal terasa cukup lambat dan penggunaan alur maju-mundur membutuhkan konsentrasi pembaca. Meski demikian, kekurangan tersebut tidak mengurangi nilai buku ini sebagai karya sastra yang inspiratif dan sarat pesan kemanusiaan. (ykib/umi).

Identitas buku

Judul buku      : Keajaiban Toko Kelontong Namiya

Judul asli         : Namiya Zakkaten no Kiseki

Penulis             : Keigo Higashino

Penerjemah      : Faira Ammadea

Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit     : 2020

Halaman          : 400 Halaman

 

*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Cepu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *