Kisah Khulafaur Rasyidin

Oleh Min Qurin Amaliya Qoria, S.Pd.

Buku ini menceritakan kisah-kisah Khulafaur Rasyidin. Khulafaur Rasyidin berasal dari dua kata, khulafa’ yang merupakan arti jamak dari kata khalifah yang berarti pemimpin, sedangkan rasyidin yang berarti cerdas dan bijaksana. Jadi Khulafaur Rasyidin merupakan pemimpin yang cerdas dan bijaksana. Jumlah mereka ada empat. Secara berurutan mereka adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Keempat laki-laki tersebut adalah laki-laki yang shaleh yang beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, yang memiliki fungsi melanjutkan kepemimpinan Rasulullah SAW.

Abu Bakar Ashidiq Sang Penyabar

Abu Bakar Ash Shiddiq mempunyai seorang budak. Budak tersebut dulunya adalah seorang peramal pada masa jahiliyah. Suatu ketika, Abu Bakar Ash Shiddiq merasa lapar dan menyuruh budaknya itu untuk mencarikan makanan. Lama menunggu akhirnya budaknya datang membawa makanan. Tanpa bertanya asal usul makanan tersebut Abu Bakar langsung memakannya. Baru setelah makan, beliau bertanya dari mana kamu dapat makanan ini? “Budaknya menjawab, singkat cerita dulu pedagang yang saya ramal menjanjikan imbalan. Dan sekarang saya menagihnya. Seketika Abu Bakar memuntahkan makanannya tersebut. Tentunya sang budak heran dan bertanya-tanya. Kenapa makanan tersebut dimuntahkan? “Jawabannya adalah karena beliau sangat bertakwa kepada Allah SWT. Karena menurut beliau makanan yang diperoleh budaknya adalah tidak halal sebab itu diperoleh dari imbalan atas ramalannya dulu. Mempercayai peramal  itu sama saja perbuatan syirik. Oleh sebab itu Abu Bakar tidak mau memasukkan makanan dan minuman yang tidak  baik ke dalam tubuhnya. Beliau sangat takut kepada pengawasan Allah SWT.

Abu Bakar Ash Shiddiq lahir di Mekah pada tahun 572 M, nama asli beliau adalah Abdullah Bin Utsman Bin Amir Bin Amru Bin Ka’ab Bin Lu’ai. Beliau adalah khalifah Islam yang pertama dan masih memiliki kekerabatan dengan Rasulullah Muhammad SAW. Beliau lahir pada masa jahiliyah di mana masa belum ada cahaya Islam, masa yang dikenal dengan zaman kebodohan. Abu Bakar Ash Shiddiq tubuhnya kurus, berkulit putih, bermata hitam, berkening lebar, dan memiliki jenggot, beliau memiliki akhlak yang baik serta terkenal  pemberani dan bersemangat dalam menyampaikan kebaikan kepada orang lain.

Abu Bakar Ash Shiddiq sering diuji Allah SWT dengan kesabaran menjaga amarah. Singkat cerita, Abu Bakar dan Rasulullah SAW sedang berbicara di rumah kemudian datang seorang Arab Badui yang memaki-maki dan menjelekkan beliau. Mendengar makian tersebut Abu Bakar sabar dan membalas dengan senyuman. Orang tersebut tidak hentinya memaki- maki, beliau tetap sabar, sampai ketiga kalinya baru Abu Bakar membalas makiannya karena emosi.

Mendadak Rasulullah meninggalkan Abu Bakar, lantas membuat Abu Bakar merasa bingung dan segera menyusul Rasulullah SAW dan bertanya, apa saya berbuat salah sehingga engkau pergi wahai Rasulullah? “Rasulullah menjawab, ketika engkau dihina dan dicaci maki banyak malaikat di sekelilingmu dan membelamu di hadapan Allah SWT. Namun, ketika engkau menanggapi cacian dan emosi maka seluruh malaikat pergi meninggalkanmu lalu datang iblis di sisimu. Oleh karena itu, saya tidak ingin berdekatan dengannya dan tidak memberikan salam padanya. Mendengar jawaban tersebut hati Abu Bakar tersentuh dan menyesal karena menjadi marah dan emosi sama seperti sifat iblis. Abu Bakar bersyukur karena Rasulullah SAW masih mengingatkannya dan Abu Bakar akan lebih bersabar di kemudian hari.

Umar Bin Khattab Sang Pembeda

Umar Bin Khattab adalah khalifah Islam yang kedua, sebagai khalifah beliau sangat perhatian kepada rakyatnya. Umar Bin Khattab lahir pada tahun 586 M di Kota Mekah. Nama aslinya Umar Bin Khattab Bin Nufail Bin Adi Bin Abdul Uzza. Sama seperti Abu Bakar Ash Shiddiq beliau lahir pada zaman jahiliyah. Postur tubuh Umar Bin Khattab sangat kekar, berkulit kuning langsat, dan berotot. Beliau pemimpin berhati keras, tegas dan bertanggung jawab. Umar diberi gelar kepada Rasulullah SAW Al Faruq (pembeda) karena Umar bisa membedakan mana jalan yang benar dan jalan yang salah.

Umar Bin Khattab hidup berkecukupan tetapi beliau memilih untuk hidup sederhana. Beliau selalu gelisah memikirkan rakyatnya. Beliau berkeliling tiap malam untuk mengetahui keadaan rakyatnya secara langsung. Beliau tidak rela bila ada rakyatnya kesusahan.

Bentuk perhatiannya salah satunya dalam kisah berikut. Terjadi kekeringan luar biasa di Mekah, suatu malam Umar Bin Khattab berjalan-jalan bersama pengawalnya untuk melihat secara langsung rakyatnya. Mereka berpakaian sangat sederhana. Satu per satu rumah penduduk dilewatinya hingga tegah malam. Sampai pada sebuah rumah, dia mendengar ada suara anak kecil menangis. Umar dan pengawalnya mendekati rumah tersebut, lalu beliau mengucap salam. Seorang perempuan menjawab salam dari dalam rumah. Kemudian dibuka pintunya, perempuan tersebut kaget, karena tengah malam ada laki-laki datang kerumahnya. Siapa kalian? Kenapa malam-malam datang kerumah saya? “Dengan sangat halus, Umar Bin Khattab menjawab. Maafkan kami karena datang malam-malam, bolehkah kami singggah sebentar? Kami orang baik-baik kamu jangan khawatir. Lalu perempuan tersebut dengan setengah takut mengizinkan Umar dan pengawalnya masuk. Umar Bin Khattab bertanya, kenapa anakmu menangis? Apakah dia sakit?

Tidak, dia menangis karena kelaparan, ujar perempuan tersebut. Umar Bin Khattab bingung karena perempuan tersebut terlihat sedang masak di sebuah tungku. Umar berkata “Apa yang kamu masak? Mengapa tidak matang-matang juga?. Kau lihat sendiri! Jawab perempuan itu.

Begitu terkejutnya Umar Bin Khattab melihat apa yang dimasak oleh perempuan itu adalah batu.

Kenapa kamu masak batu?” kata Umar kepada perempuan tersebut.

“Kami tidak memiliki bahan makanan, sehingga kami berdua tidak makan dari pagi dan saya paksa anakku berpuasa. Berharap magrib nanti dapat makanan, ternyata tidak ada.” Umar pun begitu sedih. Lalu Umar dan pengawalnya izin pergi. Mereka pergi pulang ke rumah dan mengambil beberapa makanan daging, gandum, mentega, kurma dan lainnya. Setelah itu mereka datang ke rumah perempuan tadi. Kemudian memberikan makanan tersebut. Dengan kejadian tersebut Umar Bin Khattab merasa bersyukur karena Allah SWT telah menunjukkan keadaan rakyatnya yang sebenarnya. Umar Bin Khattab berjanji akan lebih dekat dan memperhatikan kondisi rakyatnya.

Utsman Bin Affan Sang Dermawan

Utsman Bin Affan adalah khalifah Islam yang  ketiga yang juga sahabat Rasulullah SAW. Utsman Bin Affan lahir di Mekah, nama lengkapnya adalah Utsman Bin Affan Bin Abil’ Bin Ash Bin Umayyah Bin Abdus Syams Bin Abdu Manaf. Utsman Bin Affan lahir dari keluarga yang kaya dan terpandang di Mekah. Tubuh beliau sangat bagus dan sehat, beliau memiliki paras yang tampan, berjenggot, berambut lebat, dan memiliki mulut yang bagus. Dengan semua hal yang dimilikinya itu, bukan menjadikan beliau menjadi orang yang sombong, melainkan membuat beliau menjadi malu di hadapan Allah SWT.

Suatu ketika Rasulullah SAW sedang duduk berdua bersama istrinya Aisyah, Rasulullah pun terbaring tubuhnya dan betis terlihat. Kemudian datang Abu Bakar Ash Shiddiq datang menemui Rasullullah akan tetapi beliau masih dalam keadaan berbaring. Setelah Abu Bakar selesai menyampaikan keperluannya dia pun pergi. Setelah itu datanglah Utsman Bin Affan mendadak Rasullullah seketika bangun dan duduk sambil menutup betisnya dengan kain, baru setelah itu mereka berbincang-bincang. Setelah Utsman Bin Affan pergi dari rumah Rasullullah, Aisyah bertanya, Wahai Rasullullah saya melihat ada berbedaan sikapmu terhadap kedua sahabatmu. Rasullullah menjawab, sikap yang mana itu Aisyah?

Ketika Abu Bakar datang engkau tidak gelisah menyambutnya dan engkau tetap tidur telentang sambil berbicara padanya akan tetapi pada saat Utsman datang engkau segera bangkit dan merapikan pakaianmu? “Rasulullah menjawab, bagaimana saya tidak malu pada Utsman, sedang malaikat malu kepadanya.”

Sahabat Rasulullah yang ketiga ini memang memiliki sifat yang pemalu, sampai-sampai Rasulullah menuturkan dalam sabdanya : “Umatku yang paling pengasih adalah Abu Bakar, yang paling keras dalam menegakkan agama Allah SWT adalah Umar, dan yang paling pemalu adalah Utsman.”

Utsman Bin Affan adalah orang kaya yang dermawan, banyak fenomena di sekitar kita bahwa orang kaya raya enggan membantu orang yang susah, tapi Utsman Bin Affan tidak seperti itu. Beliau selalu bersemangat dalam membantu kaum Muslimin yang kesusahan. Pada saat kaum Muslimin hijrah ke Madinah saat itu Allah SWT menguji mereka dengan kesulitan air. Di mana-mana air jarang didapatkan. Namun orang Yahudi meliliki sumur. Sumur itu berisi air yang melimpah. Melihat kondisi kaum Muslimin kehausan akhirnya Utsman Bin Affan menemui orang Yahudi tersebut dan membeli sumur tersebut.

Pernah juga ketika kaum Muslimin hendak berperang melawan pasukan Byzantium. Utsman Bin Affan menyumbangkan 950 ekor unta, 59 kuda, dan uang 1000 dirham. Betapa mulia hati beliau, meskipun kaya raya beliau adalah orang yang tidak pelit, beliau sangat dermawan, beliau dengan ikhlas membelikan sesuatu yang bermanfaat agar bisa digunakan kepentingan orang banyak.

Ali Bin Abi Thalib Sang Pemberani

Ali Bin Abi Thalib adalah khalifah Islam yang keempat, Ia merupakan penutup dari Khulafaur Rasyidin. Beliau lahir di Mekah, nama lengkapnya Ali Bin Abi Thalib Bin Abdul Muthalib Bin Hasyim Bin Abdu Manaf. Ali Bin Abi Thalib lahir ketika Rasulullah SAW berusia 26 tahun, yaitu pada tahun 599 M. Ali Bin Abi Thalib adalah seorang yang cerdas dan juga sangat menghormati orang yang lebih tua. Ayah Ali Bin Abi Thalib adalah paman Rasulullah SAW. Beliau adalah Abu Thalib. Sejak kecil Rasulullah SAW diasuh oleh Abu Thalib, Abu Thalib sangat mencintai Rasullullah SAW seperti mencintai anaknya sendiri.

Pada perang khandaq, datanglah seorang musuh ke hadapan tentara Islam yang bernama Amar Bin Abdi Wud. Dia orang yang sangat sombong, menantang semua tentara Islam. Ali Bin Abi Thalib yang mendengar perkataan sombong tersebut lantas menjawab, “Saya akan melawanmu”. Ali tidak takut meskipun kala itu usianya masih muda. Mendengar itu Amar tertawa. Ha ha, kamu masih kecil saya tak tega melawanmu. Namun dengan keberanian Ali Bin Abi Thalib menjawab lagi, sesungguhnya saya tak takut sedikit pun untuk berperang dengan lelaki buruk sepertimu, Amar!.

Amar menjadi sangat marah setelah mendengar jawaban Ali Bin Abi Thalib, dia langsung mengeluarkan pedangnya siap untuk melawan Ali. Lalu terjadilah pertarungan yang menegangkan antara Amar dan Ali. Hingga kemudian Ali berhasil membunuh Amar dengan pedangnya.

Keberaniannya Ali Bin Abi Thalib juga tergambar dari cerita berikut ini. Ketika Rasulullah SAW melakukan perjalanan ke Madinah bersama Abu Bakar Ash Shiddiq. Pada saat itu nyawa Rasullullah SAW sedang terancam akan dibunuh dengan kaum musyrikin di Mekah. Rasulullah SAW pada saat itu memerlukan seorang yang berpura-pura tidur di tempat tidur Rasulullah SAW agar ketika kaum musyrikin mencari beliau, mereka akan mengira bahwa itu adalah Muhammad SAW masih tidur di tempatnya. Pada saat itu betapa berani Ali Bin Abi Thalib  yang bersedia menggantikan Rasulullah SAW dan berpura-pura tidur di tempat Rasulullah SAW sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan kain. Malam itu, kaum musyrikin benar-benar mencari Rasulullah SAW sampai ke rumahnya. Saat Ali tidur kaum musyrikin membuka kain penutupnya. Betapa terkejutnya meraka karena yang berada di tempat tidur bukan Rasulullah SAW. Dengan kuasa Allah Ali tidak dibunuh dan setelah mengetahui itu bukan Muhammad SAW  mereka pun pergi.

Dari kisah-kisah keempat  khalifah tersebut kita dapat mencontoh keteladanannya, yaitu :

  1. Kita dapat menjadi manusia yang sabar seperti Abu Bakar Ash Shiddiq.
  2. Kita dapat menjadi manusia yang bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah seperti Umar bin Khattab.
  3. Kita dapat menjadi manusia yang dermawan, suka membantu teman yang kesusahan seperti Utsman bin Affan.
  4. Kita dapat menjadi manusia yang berani membela kebenaran seperti Ali bin Abi Thalib.

Identitas buku 

Judul  buku : Kisah Khulafaur Rasyidin

Pengarang : Isnaeni DK

Penerbit : Cerdas Interaktif (Penebar Swadaya Grup)

Tahun terbit : 2017

Tebal halaman : 126

ISBN : 978-979-788-457-4

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *