Oleh Qoniatul Qismah, S.Pd,
Pada masa lalu bahkan sekarang, perempuan tidak selalu punya banyak kesempatan untuk mengembangkan diri. Mereka harus berjuang dengan cara masing-masing untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Perjuangan mereka tidak mudah,tapi kepercayaan diri membuat karya mereka akhirnya diakui dunia. Buku Kisah Perempuan Inspiratif Dunia merupakan karya dari Dwi Suputra dan Dwi Jayanthi. Buku ini menceritakan tentang kisah perempuan hebat dari berbagai negara di dunia. Salah satu perempuan yang menginspirasi dalam buku ini adalah Helen Keller.
Helen Adams Keller atau Helen Keller adalah seorang aktivis sosial perempuan yang kehilangan penglihatan dan pendengarannya sejak berumur 19 bulan. Helen lahir dari keluarga yang sederhana pada 27 Juni 1880 di Tuscumbia, Alabama, Amerika. Saat berusia 19 bulan, Helen terserang penyakit misterius. Tubuhnya demam tinggi. Tapi Kate, sang ibu curiga. Helen tidak mendengar suara lonceng makan malam. Helen juga tidak merespons ketika Kate menggerak-gerakkan telapak tangannya di depan wajah Helen. Ayah dan Ibu Helen panik. Kate bahkan menangis. Mereka pun bergegas memeriksakan Helen ke dokter. Sayang dokter tak bisa menolongnya. Helen benar-benar kehilangan penglihatan dan pendengarannya.
Helen tumbuh menjadi anak kecil yang cantik tapi punya kesulitan dalam berkomunikasi. Ketika semua keinginannya terpenuhi, Helen akan menari-nari dengan riang gembira. Tapi ketika dilarang melakukan sesuatu, ia akan mengamuk sampai memecahkan perabotan rumah tangga. Ibunya sungguh sedih. Ia pun bertanya kesana kemari bagaimana agar Helen bisa berkomunikasi dengan baik.
Suatu hari Kate mendapat informasi tentang keberhasilan metode Laura Bridman dalam mendidik orang buta dan tuli. Mereka akhirnya pergi ke Perkins, Institute di Bonston dan bertemu dengan kepala sekolah serta disarankan belajar kepada Anne Sulivan, salah satu lulusan di Institut tersebut. Saat beretemu dengan Helen untuk pertama kalinya. Anne mulai mengenalkan bahasa isyarat. Ia menyentuh telapak tangan Helen lalu menuliskan kata “B-o-n-e-k-a” sambal memberikan sebuah boneka. Namun Helen masih belum mengerti bahwa setiap benda memiliki nama berupa kata. Anne juga mengajari Helen untuk duduk di kursi, makan makanan yang ada di piringnya sendiri dan menggunakan sendok garpu. Supaya pengajaran lebih terarah. Anne ingin tinggal berdua saja dengan Helen.
Dengan kasih sayang dan kesabaran Anne Sullivan, Helen akhirnya mampu berkomunikasi dengan berbagai cara. Ia bisa membaca sentuh-bibir, Braille, berbicara, menulis dan mengeja huruf dengan jari. Kemampuannya terus berkembang. Pada usia 12 tahun Helen berhasil menulis cerita pertamanya lalu ia membuat buku berjudul “ The Story Of My Life” yang menceritakan kisah hidupnya dari kecil hingga berumur 21 tahun. Helen Keller menjadi penyandang buta tuli pertama yang meraih gelar sarjana pada 1904. Tidak hanya berjuang bagi diri sendiri, Helen juga berjuang demi kesejahteraan sesama penyandang tuna netra. Ia menceritakan pengalamannya di depan banyak orang dan di depan kongres. Helen juga berjuang mengakhiri penindasan atas kaum perempuan dan pekerja. Ia tidak pernah lelah mengelilingi dunia demi perjuanganya. Pada usia 88 tahun Helen meninggal dunia karena penyakit stroke.
Kedua adalah Malala Yousafzai. Malala adalah peraih nobel termuda dalam sejarah. Malala lahir pada 12 juli 1997 di Mingora, Pakistan. Dia adalah putri Pasangan Ziauddin dan Tor Pekai Yousafzai. Ayah Malala adalah seorang aktivis pendidikan di daerahnya. Ia merupakan pemilik sekaligus kepala sekolah umum Khushal. Ziauddin sangat gigih memperjuangkan pendidikan bagi anak-anak di Pakistan. Ia percaya bahwa pendidikan akan mengantarkan seseorang untuk menggapai mimpi. Akhirnya setelah cukup umur, Malala mulai bersekolah. Ayahnya tidak ingin Malala menjadi korban tradisi Pakistan yang mengharuskan perempuan tinggal di rumah dan hanya mengurus rumah tangga. Ayahnya memberi kebebasan untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya.
Kebebasan Malala bersekolah terhenti ketika kelompok Taliban menguasai daerah Mingora di Lembah Swat tahun 2007. Taliban melarang perempuan bersekolah, menari bahkan menonton televisi juga dilarang. Sebagai seorang aktivis pendidikan, ayah Malala tentu tidak tinggal diam. Dia gencar memberikan perlawanan terhadap Taliban. Ia berpidato di tempat umum meskipun membahayakan dirinya. Sayangnya kelompok Taliban semakin kuat. Mereka menghancurkan 400 sekolah dengan seragam bom. Ini menimbulkan ketakutan luar biasa bagi anak-anak maupun orang dewasa. Mereka takut keluar rumah. Suatu hari terdapat wartawan yang ingin meminta untuk dibuatkan catatan harian tentang keadaan para murid. Akhirnya tanpa ragu Malala siap. Setiap malam wartawan BBC menghubungi Malala lewat telepon genggam. Malala diminta menceritakan kejadian yang dialaminya,seperti bagaimana perasaannya dan apa yang terjadi seharian itu. Untuk melindungi Malala, wartawan itu menggunakan nama samaran yaitu Gul Makai. Tulisan Malala sangat cepat tersebar di internet. Malala juga berpidato, suaranya terdengar seantero negeri. Ia menjadi terbiasa tampil di depan dan diwawancarai oleh stasiun televisi.
Keberanian Malala menentang Taliban membuatnya diburu prajurit Taliban. Lewat radio pengeras di penjuru kota, Taliban mengancam Malala. Suatu hari pada 2012, Malala mengobrol di dalam mobil bersama temannya. Seorang anggota Taliban menghentikan mobil mereka. Ia membuka pintu dan bertanya “Siapa yang bernama Malala” awalnya tak ada yang berani menjawab. Akhirnya semua menunjuk Malala. Anggota Taliban itu langsung melepaskan tembakan ke arah Malala. Peluru mengenai kepala Malala, dia terluka serius. Ia segera dibawa ke rumah sakit militer Pakistan di Peshwar. Lalu empat hari kemudian dia diterbangkan ke Inggris untuk menerima perawatan intensif.
Pemerintah Pakistan dan internasional marah atas kejadian itu dan menyatakan akan segera menangkap dan menghukum pelaku penembakan. Surat kabar, televisi dan internet dipenuhi berita-berita tentang Malala. Simpati dan dukungan besar-besaran dari seluruh dunia mengalir kepadanya. Tahun 2013 Malala dinyatakan sembuh. Ia tetap tinggal di Ingris. Malala Youfsafzai, yang nyaris tewas ditembak Taliban, berpidato di PBB tepat pada ulang tahunnya yang ke-16. Setahun kemudian Malala meraih penghargaan nobel perdamaian saat berusia 17 tahun. Ia menjadi orang termuda yang meraih nobel.
Dibantu ayahnya, Malala kemudian mendirikan lembaga amal Malala Fund. Lembaga tersebut bertujuan agar anak perempuan bisa mengolah potensi diri sehingga mampu menjadi pemimpin kuat. Proyek pendidikan Malala Fund tersebar di enam negara. Proyek ini juga didukung para pemimpin dunia.
Buku ini cocok untuk dibaca semua kalangan terutama para perempuan. Buku ini menginspirasi kita semua bahwa keterbatasan fisik seseorang tidak mampu menghentikan impian seseorang. Dengan tekad, usaha, tekun dan pantang menyerah akhirnya impian dapat terwujud. Buku ini juga menggunakan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti. Buku ini juga dilengkapi kisah perempuan lainnya sehingga kita dapat mengambil hikmah dari kisah para perempuan inspiratif. Buku ini juga dilengkapi dengan gambar yang berwarna warni sehingga dapat menambah minat anak dalam membaca. Anak–anak juga dapat memetik inspirasi keteguhan Hellen keller, Malala Yousafzai dan lainnya. Perjuangan mereka tidak mudah, tapi kepercayaan diri membuat karya mereka akhirnya diakui dunia. (*/ykib)
Identitas Buku:
Judul ; Kisah Perempuan Inspiratif Dunia
Penulis: Dwi Suputra dan Dwi Jayanthi
APenerbit Utama: PT elex media komputindo
Tahun Terbit: 2019
Lembar Halaman: 114
ISSBN: 978-602-04-8887-5
Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

