Oleh Eti Nurjanah, S.Pd
Alkisah di Dusun Rawabelong hiduplah sebuah keluarga. Mpok Pinah dan Kang Piun. Di dusun itu ada sekelompok orang yang hendak meminta jatah hasil panen secara paksa, Baba Liem namanya. Centeng-centeng ini yang selalu meresahkan keluarga. Mereka mengambil hasil panen warna seenaknya. Apa yang ada mereka ambil semua, baik ternak maupun hasil panen.
Beberapa hari telah berlalu, Mpok Pinah yang tengah mengandung kini melahirkan seorang putra, yang diberi nama Pitung. Sepuluh tahun kemudian, seperti biasa anak Betawi sejak kecil sudah dilatih ilmu mengaji dan bela diri. Mereka berlatih dengan keras di rumah Haji Naipin. Mereka dibekali ilmu bela diri. Malam itu, Si Pitung bersiap mengikuti ujian bela diri tingkat tinggi. Ujian yang hanya bisa ditempuh oleh seorang yang pandai dan berjiwa ksatria. Si Pitung pun melewati tata cara sebuah ritual. Pada saat itu Si Pitung mendapat jurus yang ampuh. Si Pitung adalah murid haji Naipin yang paling tangguh. Sebuah jurus telah diturunkan yaitu jurus pancasona. Si Pitung dinyatakan menjadi pesilat terbaik bersama sahabatnya, Si Ji’ih. Kepandaian menguasai pancasona hanya untuk membela kebenaran.
Pada keesokan harinya, ketika tengah mandi di sungai Si Pitung mendengar teriakan minta tolong. Tak memakan waktu lama Pitung berhasil melumpuhkan mereka. Setelah selesai menolong perempuan tersebut, ada getaran cinta pada perempuan tersebut bernama Aisyah.
Sementara itu, Pitung melihatcenteng – centeng Baba Liem datang dan mengambil paksa panen. Si Pitung tidak tahan akan keserakahan dan kebiadaban para centeng – centeng Baba Liem. Pada suatu hari Pitung berjalan dengan membawa kambing peliharannya dan bertemu dengan centeng – cengteng itu. Orang- orang itu memasang wajah seram agar Pitung gentar. Tapi amarah Pitung sudah tidak bisa ditahan. Akhirnya semua centeng – centeng tersebut berhasil dikalahkan oleh Pitung.
Diam – diam centeng – ceteng tersebut mengikuti Pitung yang hendak menjual kambing milik babenya. Setelah terjual Pitung mampir ke sungai untuk mandi dan melaksanakan salat. Tanpa disadari uang penjualan kambing tersebut dicuri oleh centeng – centeng Baba Liem. Setelah selesai salat, Pitung baru menyadari bahwa uangnya telah dicuri. Kemudian Pitung mengikuti jejak kaki pencuri, jejak kaki itu mengarah ke pasar Tanah Abang. Pitung meminta uangnya dikembalikan. Tetapi Pitung malah diserang dan Pitung benar – benar marah, akhirnya tumbang semua. Sejak saat itu Pitung bertekad menjadi pembela rakyat. Beberapa bulan berikutnya, Pitung menyelinap rumah milik Baba Liem. Satu per satu centeng dirobohkan. Sementara di dalam rumah itu, semua kekayaan milik rakyat yang selama ini dirampas berhasil diambil oleh Pitung. Tetapi aksinya diketahui oleh centeng yang lain, tetapi centeng itu juga menyerah dan bergabung dengan Pitung. Pitung membagikan rampasannya pada warga miskin di kampung itu. Warga kaget dan senang melihat ada harta di depan rumahnya.
Pagi harinya, rakyat terheran – heran. Keresahan rakyat selama ini berganti rasa penasaran. Banyak warga yang mendapat uang kiriman dari orang tidak dikenal. Kemudian kabar itu didengar oleh Baba Liem. Baba Liem merencanakan jurus fitnah yaitu dengan meminta segerombolan centeng untuk merampok orang terkaya di desa ini yaitu Baba Liem dengan embel- embel mereka adalah gerombolan Pitung.
Sementera itu juga Pitung mengatur rencana mana saja rumah yang menjadi sasaran. Kini cukong dan Demang mulai resah. Akhirnya Kompeni Belanda mengirimkan pasukan untuk menumpas aksi Si Pitung. Misi ini dipimpin oleh Schout Heyne. Dia adalah seorang kontrolir yang bertanggung jawab di wilayah Kebayoran. Si Pitung kaget ketika menjalankan aksinya, tiba-tiba seorang memergokinya. Melihat situasi yang membahayakan, dengan cepat Pitung mengeluarkan golok dan menghunuskan ke kedua orang Belanda yang menghadapnya. Di tengah pertempuran, setelah dua orang kompeni tewas dan satu tersayat golok, Si Pitung terkena dua tembakan dan melarikan diri. Walaupun peluru bersarang di tubuh Si Pitung dia masih bisa meloloskan diri dan menghilang dalam kegelapan.
Beberapa hari kemudian, kompeni memberikan pengumuman apabila ada yang memberitahu dimana Pitung akan diberi hadiah. Tetapi rakyat semua tutup mulut. Lima hari kemudian, dimana – mana pada zaman apapun masih ada yang namanya penghianat. Ada yang memberitahu keberadaan Pitung. Tak lama misi pencarian Pitung dimulai. Si Pitung mencium misi itu. Dan akhirnya lolos. Tetapi kompeni tersebut mencari cara agar dapat menangkap Pitung dengan cara menjebaknya. Seminggu setelahnya Si Pitung masuk perangkap, Pitung membiarkan dirinya tertangkap. Kemudian Pitung dipenjara beberapa hari kemudian. Keesokan harinya ketika hendak menanyai Pitung tiba- tiba Pitung menghilang. Si Pitung membuat gerah Schout, ia lalu mengerahkan pasukannya lagi.
Kemudian kompeni mempunyai ide untuk menangkap ayah Pitung. Karena ayah dan gurunya ditangkap, Pitung langsung menuju kantor Schout. Pitung ingin Belanda membebaskan ayah dan gurunya dengan dirinya sebagai ganti. Pitung tak dapat menahan amarahnya dan menyerang Belanda tersebut. Namun tembakan itu membuat Pitung meninggal. Namun hidup kembali. Namun lagi- lagi seorang penghianat memberitahu rahasia Pitung yaitu menembak dengan peluru emas. Akhirnya Pitung tewas dalam perjuangan.
Si Pitung dengan keberanian dan jiwa ksatrianya ia selalu membela yang lemah. Dikenal sebagai pahlawan penegak keadilan, bahkan ia relakan hidupnya demi mengusir kebatilan dan penindasan. (*/ykib).
Hikmah yang dapat kita ambil.
- Tetaplah membela kebenaran dan keadilan
- Janganlah menjadi penghianat
Penulis adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

