Oleh Jevi Setya Pratiwi, S.Pd
Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin itu. Hal itu hanya dialami oleh seorang mukmin. Jikalau mendapatkan kebaikan, dia bersyukur dan itu terbaik baginya. Jikalau tertimpa musibah, dia bersabar dan itu terbaik baginya. (HR. Muslim).
Penulis buku ini, Achmad Sunarto adalah Rais Suriyah PCNU Rembang. Beliau dikenal sebagai pakar kitab kuning yang banyak menerjemahkan kitab ke dalam bahasa Indonesia. Lebih dari 500 kitab telah beliau terjemahkan dan buku-buku yang beliau tulis semuanya bersumber dari berbagai kitab yang pernah beliau pelajari dan terjemahkan tersebut. Sekalipun semua manusia memahami bahwa kesedihan adalah Sunnatullah yang pasti akan dialami dalam hidup, namun tidak semua dapat melewatinya dengan jalan yang dibenarkan agama.
Di dalam buku karangan Achmad Sunarto ini berisikan sebanyak 96 tips dan trik untuk mengatasi kesedihan yang dialami seseorang dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari. Tentu saja pembaca tidak merasa bosan ketika membacanya karena dilengkapi dengan dalil yang shahih, penulisan yang begitu padat, singkat, penuh makna serta dilengkapi dengan syair-syair.
Salah Seorang penyair mengatakan : (hal.152)
Orang yang jahat tidak akan pernah istirahat berperasangka
Tidak pernah istirahat dari kegelisahan panjang,
Sedikit wajah yang bercahaya, kecuali
Selainnya adalah tempat lari yang luas
Barangsiapa diringankan Allah dari dugaan itu
Maka angin dari segala penjuru akan bertiup kepadanya
Seseorang tidak akan mati oleh toleransi
Amat sedikitlah orang kikir yang beruntung
Berbaik sangkalah, niscaya Anda akan bahagia.
Ada empat kebahagian Nabi SAW Bersabda : “Empat perkara yang merupakan bagian dari kebahagiaan, yaitu : istri yang shalihah, rumah yang luas, tetangga yang shalihah dan kendaraan yang nyaman. Empat perkara yang merupakan bagian dari kesempurnaan, yaitu: istri yang jelek, tetangga yang jelek, kendaraan yang jelek dan tempat tinggal yang sempit.”(HR.Bukhari).
Keimanan adalah sumber ketentraman seorang mukmin tidak boleh menyesali masa lalunya dengan menangis dan bersedih. Dia juga tidak boleh menyambut hari ini dengan resah dan murka, menghadapi masa depan dengan takut dan gemetar serta menjalani hidup dengan gelisah. Seorang mukmin tidak boleh takut menghadapi keselutan-kesulitan dan kekejaman hidup, seakan-akan semua itu adalah musuh jahat yang selalu menunggu. Akan tetapi, dia harus menjalaninya dengan jiwa tentram seakan – akan berada di surga. Keimanannya adalah sumber ketentramannya, sedangkan ketentraman itu adalah buah ketenangan, bahkan merupakan bagiannya. Ketenangan itu berhubungan dengan masa depan, yaitu dengan semua yang dirisaukan, ditakuti, atau dikhawatirkan manusia. Tidak ada kebahagiaan tanpa ketenangan jiwa ini. Seorang ahli hikmah ditanya: “ Apa kebahagiaan itu?” Dia menjawab : “Ketentraman. Saya melihat orang yang takut tidak memiliki kehidupan”.
Tidak mengherankan jika Allah menjadikan surga sebagai tempat ketentraman dan keselamatan. Penghuninya tingggal di kamar-kamar dalam keadaan tentram. Mereka tidak merasa takut dan tidak pula bersedih hati. Para malaikat menemui mereka semenjak saat pertama. Bahagiakan hatimu dengan menundukkan pandangan jika melihat wanita-wanita cantik adalah kenikmatan dan kesempatan yang tidak akan tergantikan bagi orang-orang yang memiliki penyakit hati, maka menjalankan perintah Allah untuk menundukkan pandangan dari hal-hal yang diharamkan akan mendatangkan kebahagiaan dan kegembiraan bagi hati seorang mukmin. Imam Ibnul Qayyim menyebutkan banyak faedah menundukkan pandangan. Di antaranya memberi hati kebahagiaan, kegembiraan dan ketentraman melebihi kenikmatan dan kebahagiaan yang diperoleh hanya dengan melihat. Hal itu terjadi karena seorang mukmin berhasil mengalahkan musuhnya, yaitu dengan penyelisihinnya dan menyelisihi hawa nafsunya.
Begitu juga ketika dia menahan kenikmatannya dan memenjarakan syahwatnya padahal itu adalah kebahagiaan nafsu yang cenderung pada keburukan karena Allah, maka Allah SWT menggantikannya dengan kebahagian dan kenikmatan yang lebih sempurna. Sebagian orang mengatakan: “Demi Allah! Kenikmatan ‘iffah (menjaga kesucian diri) itu lebih besar daripada kenikmatan dosa.”
Tidak diragukan bahwa apabila jiwa menyelisihi hawa nafsunya, maka hal itu akan melahirkan kebahagiaan, kegembiraan dan kenikmatan yang lebih sempurna jika dibandingkan dengan kenikmatan mengikuti hawa nafsu. Ketika inilah akal mengalahkan hawa nafsu.
Serahkan urusanmu kepada Allah dan ridhalah dengan pilihan-Nya. Tidak ada alasan untuk gelisah, barangkali anda menghadapi ujian atau mengajukan lamaran untuk mendapatkan suatu pekerjaan, kemudian anda menunggu hasilnya setelah itu, lalu anda mendapatkan diri sendiri berada di puncak kegelisahan dan kegoncangan. Akhirnya tidak ada yang terjadi kecuali apa yang ditakdirkan Allah SWT, baik ketika ujian maupun ketika melamar pekerjaan.
Inilah kutipan singkat buku dengan ajaib penghapus kesedihan, banyak hal yang bisa dipelajari dari buku ini, bersyukur merupakan nikmat yang harus selalu ditanamkan dalam diri kita sebagai makhluk ciptaanNya. Sedih dan gembira adalah sunnatullah dalam kehidupan seorang manusia. Adakalanya di waktu pagi gembira, tertawa-tawa dengan apa yang kita nikmati, namun di sore hari keadaan sudah berbalik seratus delapan puluh derajat, sedih dan tangis menyapa kita. Hal ini tidak menimpa segolongan manusia, namun setiap dari kita pasti akan merasakan hal yang sama dalam perjalanan hidupnya, seperti ditinggal mati oleh orang yang kita cintai, ketika putus hubungan atau kehilangan pekerjaan sebagai mata pencarian kita dan musibah-musibah yang lain. Kehadiran buku ini tentunya sangat bermanfaat bagi kita dalam menghadapi kesedihan dan kesulitan yang kita terima. Di dalamnya akan kita temukan banyak tips dan cara pencegahan terhadap rasa sedih serta doa tuntunan dari Rasulullah SAW dalam hadits shahih. Semoga dengan membaca buku yang ada di tangan anda ini semua problem kehidupan bisa cepat teratasi dengan baik. Selamat membaca.
Judul Buku : La Tahzan (Jangan Bersedih)
Penulis : Achmad Sunarto
Design Cover : Ampel Mulia Surabaya
Penerbit : Ampel Mulia
Kota : Surabaya
Halaman : 256 halaman
Penulis adalah guru Bimbel Gugusan Bintang YKIB

