*Oleh Eka Kurnia Mareta, A.Md.
Novel “Laut Bercerita” karya Leila S. Chudori adalah kisah fiksi berlatar sejarah kelam Indonesia menjelang reformasi 1998. Cerita ini dibagi menjadi tiga bagian besar: awal, tengah, dan akhir, serta menyampaikan pesan yang kuat tentang perjuangan, kehilangan, dan harapan.
Pada bagian awal, diceritakan kehidupan Biru Laut, seorang mahasiswa Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada yang cerdas dan idealis. Ia tergabung dalam kelompok aktivis yang menyuarakan perlawanan terhadap rezim Orde Baru. Laut bersama teman-temannya seperti Daniel, Sunu, dan Kinan, menjalankan kegiatan bawah tanah berupa diskusi, pembuatan selebaran, dan penyebaran informasi mengenai ketidakadilan sosial. Kehidupan pribadinya pun digambarkan hangat, ia dekat dengan keluarganya dan memiliki kekasih bernama Anjani. Namun, di balik semua itu, ia menyimpan kecemasan dan rasa takut yang tumbuh seiring meningkatnya tekanan dari aparat negara.
Pada bagian tengah, cerita berfokus pada tragedi penangkapan para aktivis. Biru Laut dan kawan-kawannya diculik oleh aparat militer, disiksa secara brutal, dan ditahan di tempat-tempat rahasia tanpa kejelasan hukum. Laut mengalami kekerasan fisik dan mental, namun tetap memegang teguh nilai-nilai perjuangannya. Dalam kondisi yang mengenaskan, Laut menyadari bahwa ia mungkin tidak akan pernah kembali. Bab-bab ini penuh dengan suasana gelap, menyayat hati, dan menunjukkan bagaimana kekuasaan dapat membungkam suara-suara yang berani.
Pada bagian akhir, sudut pandang berpindah ke Asmara Jati, adik Biru Laut. Ia dan keluarganya hidup dalam kesedihan dan ketidakpastian atas hilangnya Laut. Asmara berjuang mencari kejelasan, bergabung dengan organisasi keluarga korban penculikan, dan menyuarakan keadilan. Meskipun jasad Laut tidak pernah ditemukan, perjuangannya tetap hidup dalam kenangan dan semangat orang-orang terdekatnya.
Novel ini memberikan pesan yang mendalam tentang keberanian menghadapi tirani, pentingnya memperjuangkan kebenaran, dan luka yang ditinggalkan oleh pelanggaran hak asasi manusia. Leila S. Chudori berhasil membangun narasi yang kuat dan emosional, memberikan kesan mendalam kepada pembaca bahwa sejarah tidak boleh dilupakan, dan suara-suara yang hilang tetap layak dikenang.
Kelebihan buku:
- Gaya bahasa yang indah dan puitis, namun tetap lugas dan mudah dimengerti.
- Karakterisasi tokoh yang kuat, terutama Biru Laut yang digambarkan sebagai sosok idealis namun hangat.
- Mengangkat isu sejarah yang penting, yaitu penculikan aktivis 1998 yang jarang diangkat secara mendalam dalam fiksi.
- Penceritaan dua sudut pandang (Biru Laut dan Asmara Jati) memberi kedalaman emosional dan memperluas perspektif.
- Detail latar dan suasana terasa nyata, hasil riset penulis yang mendalam.
Kekurangan buku:
- Alur cerita cukup lambat di beberapa bagian, terutama saat menjelaskan aktivitas organisasi secara rinci.
- Penggunaan banyak nama tokoh dalam kelompok aktivis terkadang membingungkan pembaca.
- Beberapa dialog terasa terlalu “tertulis”, kurang alami untuk ukuran percakapan sehari-hari
Sebagai karya sastra, Laut Bercerita berhasil menyampaikan pergolakan batin individu yang terlibat dalam perlawanan politik, serta dampaknya terhadap keluarga mereka. Leila S. Chudori secara cermat menggambarkan perasaan takut, kehilangan, harapan, dan cinta dalam konteks tragedi nasional. Novel ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi media pendidikan sejarah yang emosional dan reflektif.
Disisi lain Laut Bercerita adalah novel yang kuat secara naratif dan emosional. Ia menyampaikan kritik terhadap kekuasaan yang menindas dan memberikan suara bagi mereka yang hilang tanpa kabar. Meski memiliki beberapa kelemahan teknis, kekuatan cerita, tema, dan gaya bahasa menjadikannya salah satu karya sastra Indonesia modern yang layak diapresiasi dan dikenang.
Menurut saya, novel ini patut dibaca oleh generasi muda agar tidak lupa bahwa kebebasan yang dinikmati saat ini adalah hasil perjuangan panjang dan penuh pengorbanan. (ykib/nia).
Identitas buku:
Judul: Laut Bercerita
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun Terbit: 2017
Jumlah Halaman: 379 halaman
Genre: Fiksi Sejarah, Sosial Politik
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Padangan

