Laut Bercerita

*Oleh Siti Milatul Khoiriyah, S.Pd.

Novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merupakan novel berlatar sejarah Indonesia yang mengangkat tragedi penghilangan paksa aktivis pada masa Orde Baru menjelang reformasi 1998. Novel ini tidak hanya menyajikan cerita fiksi, tetapi juga menjadi medium pengingat sejarah kelam bangsa yang sarat dengan pelanggaran Hak Asasi Manusia. Dengan gaya bahasa yang puitis, emosional, dan mendalam, penulis mengajak pembaca menyelami dunia para aktivis muda yang berjuang demi keadilan, kebebasan, dan kemanusiaan.

Novel ini terbagi menjadi dua bagian besar. Bagian pertama menggunakan sudut pandang tokoh utama Biru Laut Wibisana. Ia adalah seorang mahasiswa dan aktivis yang aktif dalam diskusi, membaca buku-buku terlarang, serta melakukan gerakan bawah tanah untuk melawan ketidakadilan rezim. Bersama kawan-kawannya, Laut menjalani kehidupan penuh idealisme, persahabatan, dan harapan akan perubahan. Namun, perjuangan tersebut harus dibayar mahal ketika aparat negara mulai memburu para aktivis. Laut dan teman-temannya ditangkap, disekap di tempat rahasia, disiksa secara fisik dan psikis, hingga akhirnya menghilang tanpa kejelasan nasib.

Bagian kedua novel beralih pada sudut pandang Asmara Jati, adik Biru Laut. Pada bagian ini, cerita menjadi lebih emosional karena menggambarkan penderitaan keluarga korban penghilangan paksa. Asmara Jati bersama keluarga dan para ibu korban lainnya terus berjuang mencari keadilan, meskipun bertahun-tahun tidak mendapatkan kepastian. Mereka menghadapi tembok bisu negara, rasa kehilangan yang mendalam, serta harapan yang tidak pernah benar-benar padam. Melalui sudut pandang ini, pembaca diajak merasakan bahwa dampak kekerasan negara tidak berhenti pada korban, tetapi juga menghantui keluarga yang ditinggalkan seumur hidup.

Leila S. Chudori dengan cermat menyusun narasi yang tidak menyudutkan secara vulgar, namun kuat dalam menyampaikan kritik sosial dan politik. Laut dalam novel ini menjadi simbol suara yang dibungkam, sementara Asmara Jati mewakili suara keluarga korban yang terus bertahan. Novel ini menegaskan pentingnya mengingat sejarah agar tragedi serupa tidak terulang di masa depan.

Kelebihan Novel Laut Bercerita:

  1. Mengangkat peristiwa sejarah penting dengan pendekatan sastra yang menyentuh.
  2. Bahasa puitis dan kuat secara emosional.
  3. Karakter digambarkan realistis dan berkembang secara psikologis.
  4. Alur cerita tertata rapi dan mudah diikuti meskipun menggunakan alur campuran.
  5. Mampu membangkitkan empati, kesadaran sosial, dan sikap kritis pembaca.

Kekurangan Novel Laut Bercerita:

  1. Tema yang berat dapat membuat pembaca merasa emosional dan lelah secara batin.
  2. Beberapa istilah dan konteks sejarah membutuhkan pemahaman tambahan bagi pembaca muda.
  3. Tidak semua bagian menghadirkan konflik cepat karena terdapat banyak refleksi batin tokoh.

Rekomendasi Novel Laut Bercerita

Novel ini sangat direkomendasikan untuk pelajar SMA, mahasiswa, pendidik, dan masyarakat umum. Laut Bercerita cocok dibaca sebagai bahan literasi sejarah, diskusi HAM, serta pembelajaran nilai kemanusiaan dan demokrasi. Novel ini mengajarkan pentingnya keberanian, solidaritas, dan kesetiaan pada nilai kebenaran meskipun harus menghadapi risiko besar. (ykib/mila).

Identitas Buku      

Judul Buku      : Laut Bercerita
Pengarang       : Leila S. Chudori
Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Kota Terbit      : Jakarta
Tahun Terbit    : 2017
Tebal Buku      : ±379 halaman

 

*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Kalitidu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *