*Oleh Muslikhatun Nafiah, S.H.
Buku berjudul “Manusia Mencari Makna” karya Victor E. Frankl, seorang psikiater asal Austria, korban kamp konsenstrasi Nazi yang berhasil bertahan hidup. Dalam buku ini, Frankl tidak hanya bercerita mengenai kekejaman Nazi, tapi juga tentang bagaimana manusia bisa tetap bertahan hidup secara mental dan spiritual di tempat paling mengerikan yang pernah dibuat oleh manusia. Karena itu, sebagai pembaca saya ikut terbawa dalam proses mencari makna yang ia tawarkan
Buku ini terdiri dari dua bagian, pertama, buku ini menceritakan pengalaman Frankl ketika ia berada dalam kamp konsentrasi. Sebuah tempat yang menjadi pusat penyiksaan dan pembunuhan, yang dilakukan oleh orang-orang Nazi. Bagian ini sungguh menyentil sisi kemanusiaan saya, bagaimana bisa manusia lainnya bisa berbuat sekejam itu, meski pada faktanya itu memang terjadi. Bayangkan: semua hal yang kita cintai, yang kita anggap wajar dalam hidup seperti, kebebasan, kasih sayang, keluarga, hak atas tubuh kita sendiri dirampas begitu saja.
Banyak orang mati oleh gas beracun atau peluru, namun di kamp ini juga banyak orang memilih bunuh diri karena kehilangan harapan. Karena itu, Frankl berpendapat, orang yang kehilangan “mengapa” untuk hidup, cepat atau lambat akan kehilangan kemampuan untuk bertahan.
Bagian I: Pengalaman di Kamp Konsentrasi
Pada bagian pertama, Viktor E. Frankl menguraikan pengalamannya sebagai tahanan di kamp konsentrasi Nazi, terutama Auschwitz dan Dachau. Ia menggambarkan kondisi kehidupan yang sangat tidak manusiawi: kelaparan, kerja paksa, kekerasan, dan ketidakpastian hidup yang terus-menerus. Para tahanan kehilangan identitas pribadi dan diperlakukan sebagai angka semata. Dalam situasi ini, kematian menjadi sesuatu yang sangat dekat dan biasa.
Frankl membagi pengalaman psikologis para tahanan ke dalam beberapa tahap. Tahap pertama adalah shock, yaitu keterkejutan mental saat pertama kali memasuki kamp. Pada tahap ini, rasa takut bercampur dengan ketidakpercayaan terhadap kenyataan yang dihadapi. Tahap kedua adalah apati, di mana para tahanan menjadi mati rasa secara emosional sebagai mekanisme bertahan hidup. Mereka tidak lagi mudah terkejut oleh penderitaan orang lain maupun diri sendiri.
Namun, Frankl mengamati bahwa tidak semua tahanan bereaksi sama. Tahanan yang masih memiliki tujuan hidup seperti keinginan bertemu kembali dengan keluarga, menyelesaikan karya ilmiah, atau keyakinan spiritual memiliki daya tahan mental yang lebih kuat. Menurut Frankl, bukan kekuatan fisik yang menentukan kelangsungan hidup, melainkan kemampuan menemukan makna di balik penderitaan.
Bagian II: Logoterapi Secara Mendalam
Pada bagian kedua, Frankl memperkenalkan dan menjelaskan teori logoterapi, sebuah pendekatan psikologi eksistensial yang berfokus pada pencarian makna hidup. Berbeda dengan psikoanalisis Freud yang menekankan dorongan kesenangan dan teori Adler yang menekankan dorongan kekuasaan, logoterapi berpendapat bahwa motivasi utama manusia adalah kehendak untuk menemukan makna.
Frankl menjelaskan bahwa makna hidup bersifat unik dan berbeda bagi setiap individu serta setiap situasi. Makna tersebut dapat ditemukan melalui tiga cara utama. Pertama, melalui karya atau pencapaian, yaitu dengan melakukan sesuatu yang bernilai. Kedua, melalui pengalaman cinta, yakni dengan mengasihi orang lain dan melihat makna dalam relasi. Ketiga, melalui sikap terhadap penderitaan, yaitu bagaimana seseorang memilih bersikap saat menghadapi kondisi yang tidak dapat diubah.
Logoterapi juga membahas fenomena kehampaan eksistensial, yaitu perasaan hampa, bosan, dan tidak berarti yang sering dialami manusia modern. Frankl menekankan bahwa kebebasan manusia selalu disertai tanggung jawab. Bahkan dalam situasi paling terbatas sekalipun, manusia masih memiliki kebebasan untuk memilih sikapnya.
Epilog: Makna Hidup dan Tanggung Jawab Manusia
Dalam epilog, Frankl menegaskan kembali gagasan utama bukunya bahwa hidup selalu memiliki makna, tanpa pengecualian. Makna hidup tidak bergantung pada kondisi eksternal seperti kenyamanan, kesehatan, atau kesuksesan, melainkan pada sikap batin manusia. Bahkan penderitaan yang paling berat pun dapat memiliki nilai jika dihadapi dengan kesadaran dan tanggung jawab.
Frankl mengajak pembaca untuk tidak bertanya apa yang diharapkan dari hidup, tetapi apa yang hidup harapkan dari dirinya. Manusia dituntut untuk bertanggung jawab atas pilihan-pilihan hidupnya. Dengan demikian, hidup bukan tentang menghindari penderitaan, melainkan tentang menemukan makna di balik setiap peristiwa.
Epilog ini menutup buku dengan pesan humanis dan filosofis yang kuat: bahwa martabat manusia terletak pada kemampuannya untuk memilih sikap, bahkan ketika segala sesuatu dirampas darinya.
Kelebihan buku:
- Ditulis berdasarkan pengalaman nyata sehingga sangat menyentuh dan autentik.
- Menggabungkan kisah personal dengan teori psikologi secara seimbang.
- Bahasa reflektif dan filosofis, cocok untuk kajian sastra dan humaniora.
- Memberikan motivasi dan perspektif hidup yang mendalam serta universal.
Kekurangan buku:
- Beberapa bagian terasa berat bagi pembaca awam karena bernuansa filsafat.
- Penjelasan logoterapi tergolong singkat dan kurang teknis bagi pembaca psikologi.
- Latar sejarah kamp konsentrasi tidak dijelaskan secara rinci. (ykib/nafiah).
Identitas buku
Judul buku : Manusia Mencari Makna
Judul asli : Man’s Search for Meaning / Ein Psychologe erlebt das Konzentrationslager
Pengarang : Viktor E. Frankl
Penerjemah : Haris Priyatna
Penerbit : Nuansa Cendekia
Tahun terbit : 2017
Kota terbit : Bandung
Jumlah halaman : 204 halaman
ISBN : 978-602-385-085-3
*Penulis resensi buku adalah Wakil Kepala Kampung Ilmu Cepu

