Mbah Hamid Pasuruan, Karamah Sang Kiai Teladan

*Oleh Christin Nur Aisyah, S.Sos

Salah satu buku biografi seorang tokoh yang memberikan pengaruh pada bidang keagamaan yakni buku “Mbah Hamid Pasuruan : K.H. Abdul Hamid – Karamah Sang Kiai Teladan”. Buku ini tidak hanya berisi tentang perjalanan hidup Mbah Hamid, tetapi juga penuh dengan motivasi dan pengingat dalam kehidupan.

Abdul Mu’ti bin Abdullah bin Umar Basyaiban Ba’alawi adalah nama lahirnya. Ia adalah putra dari K.H. Abdullah bin K.H. Umar dan Nyai Raihanah binti K.H. Muhammad Shidiq. Dari silsilah kekeluargaan antara dari pihak ibu maupun pihak ayah, ia terlahir di tengah keluarga yang memegang penuh prinsip keagamaan. Jelas dari kedua kakeknya merupakan seorang ulama yang dikenal di Lasem.

Sebelum Abdul Mu’thi dikenal sebagai ulama yang tersohor, dikagumi, dan disenangi oleh masyarakat, semasa muda beliau dijuluki dengan bedudul. Tidak berbeda dengan anak-anak muda pada umumnya, ia sangat gemar bermain layang-layang dan sepak bola. Namun, kewajibannya dalam beribadah tidak pernah ia tinggalkan.

Dimulai usia 9 tahun, Abdul Mu’thi mulai belajar membaca Al-Quran yang dibimbing langsung oleh sang ayah. Pada usia 12 tahun, Abdul Mu’thi mulai berkelana. Awalnya ia belajar agama Islam di pesantren agama Islam milik kakeknya, kiai Shidiq, di pesantren Tegalsari, Jember. Tidak lama kemudian, ia pindah ke Kasingan, Rembang. Di sana dia belajar tentang ilmu tafsir, fikih, hadits, dan lainnya.

Alasan dipindah-pindahkannya Abdul Mu’thi ke beberapa pesantren ini, tak lain dari rasa kekhawatiran kiai Abdullah dengan karakter sang anak yang dikenal nakal. Akan tetapi, dari situ merupakan awal peluang Abdul Mu’thi memiliki sifat yang disukai banyak orang, tidak gampang meremehkan orang lain, dan berusaha selain tawadlu kepada para guru, ia juga tawadlu kepada orang lain walau itu di bawahnya.

Ia juga tidak segan-segan bertindak tegas terhadap orang-orang keturunan Tionghoa yang bersikap sombong sehingga ia menamparnya. Tidak heran jika Abdul Mu’thi sering dicari aparat kolonial Hindia Belanda. Di usia lima belas tahun, sekitar tahun 1930. Abdul Mu’thi diajak kiai Shidiq untuk menunaikan ibadah haji dan dari kepulangannya berhaji inilah lahirlah nama baru menjadi Abdul Hamid.

Sebab kecintaannya dalam mencari ilmu, Abdul Hamid setelah satu atau dua setengah tahun di Pesantren Kasingan. Akhirnya pindah ke Pesantren Tremas, Pacitan. Pesantren tersebut didirikan oleh K.H Abdul Manan pada 1830. Ia merupakan salah satu murid K.H. Hasan Besari, Tegalsari, Ponorogo.

Di Tremas inilah, keilmuan Abdul Hamid semakin berbobot. Di sana ia sering melakukan suluk tarekat secara sirri. Lambat laun aktivitas suluk mbah Hamid dengan zikir sirri dan semakin intens di manapun ia berada, bahkan sampai membuatnya jarang keluar dari kamar. Hingga, Ketika ia tinggal di Pasuruan. Abdul Hamid juga mengikuti pengajian dari Habib Ja’far Assegaf dan sampai mengantarkan dirinya menjadi seorang pengasuh Pondok Salafiyah di Pasuruan.

Setelah dua belas tahun belajar agama Islam, tibalah masa pernikahan Abdul Hamid dengan seseorang gadis bernama Nafisiah yang merupakan putri K.H. Ahmad Qusairy. Pada tanggal 12 September 1940, hingga sepeninggal ayahnya ia ditunjuk sebagai pengasuh pesantren Salafiyah. Di sinilah Abdul Hamid mlai mengamalkan ilmu yang dia dapatkan.

Kesetiaan dan jiwa kepemimpinan Abdul Hamid benar-benar diuji dan dimulai dari nol setelah pergantian pengasuh sebelumnya. Ia berusaha meningkatkan ilmu para santri. Atas kegigihan dan kegigihannya, ia berhasil mengembangkan pesantren hingga mendapat gelar ‘kiai’.

Dalam mendidik, K.H. Abdul Hamid banyak mencerminkan dari pohon kelapa.”Bunga kelapa kalau menjadi kelapa semua, maka pohonya tidak akan kuat atau buahnya berukuran kecil,” tutur beliau. Falsafah tersebut beranjak dari keyakinan tentang hukum alam atau sunnatullah. Di mana dalam kehidupan di dunia ini tentu ada keseimbangan yang dibuat. Ada keterbatasan dan ada kesempurnaan hidup. Apabila hanya ada kesempurnaan di dunia, manusia cenderung tidak akan pernah belajar mengambil pelajaran kehidupan. Intinya falsafah ini menekankan kebijkasanaan dalam memilih dan kerendahan menerima adanya keterbatasan.

Kearifannya membuat banyak dikagumi oleh para kiai. Ia mengubah mentalitas masyarakat dengan tegas tanpa menghina sesama manusia. Ia juga menjaga prinsip-prinsip ajaran Islam, tetapi ketegasannya tidak merusak harkat martabat manusia. K.H. Abdul Hamid mengutamakan harmoni atau mendahulukan maslahah daripada mafsadah.

Ketika memberikan nasihat, K.H. Abdul Hamid sering memakai simbol atau metafora. misalnya untuk menyampaikan nilai-nilai di dalam kitab al-Hikam, dalam nasihatnya “idfin wujudaka fi al-ardhi al-khumul” yang artinya himpunlah seluruh wujudmu dalam dunia yang tidak dikenal orang. Lantas ia memberikan ibarat, “Jika seseorang berbudi daya jagung dan benihnya tidak ditanam ke dalam tanah, maka benih itu tidak akan tumbuh, malah dipatuk ayam.” Maksudnya arti nasihat ini, segala wujud apa yang direncanakan sepatutnya orang lain tidak perlu tahu, dan orang-orang tidak perlu mengenal kita, jangan tergesa-gesa ingin dikenal atas pencapaian. Sebab, bisa jadi apa yang kita rencanakan tidak akan terjadi karena akan muncul sikap iri dan dengki.

K.H. Abdul Hamid mengajarkan Islam dengan suasana teduh dan penuh kasih sayang. Ia memberikan keteladanan tidak langsung menembak kesalahan orang lain dengan memberikan nasihat-nasihat langsung atau amarah. Ia menjelaskan maksud dan tujuan nasihatnya dengan simbol-simbol yang hanya dapat diserap dengan kesungguhan hati dan kejernihan pikiran.

Selain dikagumi sebab akhlaknya, ia juga mempunyai kekuatan (karamah) ma’rifat yang mumpuni dan karamah ini didapatkan dari melakukan tahapan amaliah dan maqamat tarekat. Pertama, seperti saat K.H. Mashudi melakukan salat Jumat di Masjidil Haram di sampingnya terdapat Syekh Hasan dari Baghdad. Syekh Hasan mengaku bahwa ia sangat mengenal Kiai Hamid dan menitipkan salam untuknya melalui K.H. Masyhudi. Lebih terkejutnya lagi, ketika kiai Masyhudi mengkonfirmasi ke putra kiai Hamid. Putra kiai Hamid mengaku, bahwa sang ayah tidak pernah ke luar negeri kecuali terakhir saat berhaji.

Kedua, di suatu hari, datanglah seorang tamu dari Kendal yang mengunjungi K.H. Abdul Hamid. Saat hendak berpamitan, Mbah Hamid menitipkan salamnya kepada orang gila yang berada di pasar Kendal. Meski merasa heran, ia tetap menyampaikan salam itu kepada orang gila yang dimaksud. Orang gila itupun marah, merasa identitasnya sebagai waliyullah terbongkar, lantas beliau berdoa untuk diambil nyawanya, dan benar setelah berdoa orang gila itu langsung meninggal dunia. Dari sini, K.H. Abdul Hamid dapat mengenal wali allah bahkan ciri dari sosok nabi Khidir yang bahkan orang lain saja dapat tertipu dengan bentuk fisiknya yang terlihat seperti orang biasa.

Selain menjadi pengasuh, K.H. Abdul Hamid juga memiliki sebuah karya sastra berupaba nazam (puisi) yang berjudul Manzumatu Sullamu al-Taufiqi. Di dalam nazam ini terdapat dua nama besar, yakni Habib Abdullah Al Hadad dan Imam Al Ghazali.

Ya ahla la ilaha illallah ‘addha maqalan shafiyan fahwahu. Qad qalaha al-sayyid ‘Ali al-Jahi Likulli mu’mininbi dzaka yanbaghi an yatahalla wahwa hadzafabtahgi.

Artinya, “Untuk kalian yang bersandar pada kalimat tauhid, peganglah nasihat yang amat jernih makna kandungannya itu, yang telah disampaikan seorang Sayyid yang tinggi derajatnya, yang terkenal dengan julukan al Hadad, yaitu Habib Abdullah.”

Setiap muslim sebaiknya berhias diri dengan nasihat Habib Abdullah sebagaimana disampaikan berikut ini:

‘Alayka bi al-khusyu’i wa al-tawadhu’i wal khawfi wal wajali wajha al-shani’i.

Artinya, “Hendaklah engkau bersikap khusyu dan tawadhu takut dan segan kepada Sang Maha Pencipta.”

Waz zuhdi fid dunya wa bil qana’at biqismatin fahtadziri al-thama’at.

Artinya, “Bersikap zuhud (tidak terpikat) terhadap dunia dan bersikap qanaah (menerima dengan rela) terhadap apa yang ada, maka bersikap waspadalah pada sifat tamak (serakah).”

Wa an takuna basithan wa munfiqan lifadhilin wa nashihan wa musyfiqan Kadza rahiman bil ‘ibadi amira bil ‘urfi nahiyan ‘anil ladz unkira.

Artinya, “Berhati lapang, gemar memberikan yang lebih dari yang engkau butuhkan, suka menasihati, dan pedui kepada orag lain. Sayangilah pula para hamba Allah, dan jalankan amar ma’ruf nahi munkar.”

Wa kun musari’an ilal khayrati mulaziman lillahi lit tha’ati.

Artinya, “Bersegeralah menuju kebaikan dan tetaplah selalu taat kepada Allah.”

Wa kun ‘alal khuyuri dallan mursyida wa da’iyan ilar rasyadi wal huda.

Artinya, “Jadilah penunjuk dan penuntun menuju kebaikan dan penyeru kepada kebenaran dan hidayah dari Allah.”

La daza takabburin ‘ala man dunaka wa la tajabburin fashunhu shanaka Qala al-Ghazali kullu man nafsa yara khayran minal ghayri faqad takabbara.

Artinya, “Jangan bersifat takabur, lebih-lebih kepada orang yang di bawahmu dan jangan pula sewenang-wenang. Jaga lisanmu maka ia pun akan menjaga dirimu. Imam al-Ghazali sudah mengingatkan kita: semua yang memandang dirinya sendiri lebih baik dari yang lain, maka ia telah bersikap takabur.

Wa la harishan amrad dunya al-sahirat. Wa la muakhkhiran umural akhirat Wa la takun lil mali jami’an wa la tamna’ lahu ‘an haqqihi fatabkhala.

Artinya, “Jangan pula bersikap rakus terhadap urusan dunia yang selalu menggoda dan jangan suka meng-akhirkan urusan akhirat Janganlah menumpuk harta, dan jangan pula menghalangi pengeluaran harta sesuai haknya, sehingga engaku menjadi orang yang pelit.”

Wa la takun lil jahi ka al-riyasati tuhibbu wal mali wa lil wilayati Bal karihan li hadzihi al-akhirat illa li hajatin aw al-dharurrat

Artinya, “Jangan gila pada kedudukan, semisal ingin sekali men-jadi pemimpin, atau gila harta dan gila kekuasaan Bahkan perkara yang terakhir ini seharusnya engkau tidak menyukainya kecuali karena ada kebutuhan penting atau darurat.”

Qadintahat mwa’izhu al-Haddad ‘alwi bin ‘Abdillah dzil imdad ‘atthir lahu bi anfahi al-ridwani dharihahu ya khaliqal akwani.

Artinya, “Selesai sudah nasihat Sayyid Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad Wahai Sang pencipta alam semesta, taburilah kubur beliau dengan keridhaan-Mu yang harum mewangi.”

Kelebihan buku:

Buku dengan judul “Mbah Hamid Pasuruan : K.H. Abdul Hamid – Karamah Sang Kiai Teladan” selain mengisahkan perjalanan Mbah Hamid hingga menjadi seorang ulama yang dihormati. Di dalam buku ini kita akan menemukan banyak pelajaran sekaligus motivasi dari kisah Mbah Hamid. Selain itu kita juga akan mengenal beberapa kitab yang menjadi sumber keilmuan Mbah Hamid, serta terdapat beberapa cuplikan dari kitab Nazam Sullami al-Taufiq karya Mbah Hamid, juga tokoh-tokoh yang dikenal atau mengenal Mbah Hamid juga turut diceritakan dalam buku ini.

Kekurangan buku:

Dalam buku ini beberapa isi kurang fokus ke biografi dari Mbah Hamid sendiri. Bahkan ada di beberapa bab, terlalu menceritakan tokoh lain, sehingga pembaca akan dibuat bingung. Sudut pandang tulisan pun kurang luas, relatif mengulang apa yang sudah dibahas pada bab sebelumnya. Mengenai dampak dari dakwah Mbah Hamid baik sosial atau dari segi pendidikan di Pasuruan belum dibahas secara lengkap. Sehingga bisa dikatakan bahwa buku ini hanya memberikan gambaran secara umumnya saja. Selain itu, ditemukan juga bagian tulisan yang tidak berlanjut yang mungkin itu merupakan kesalahan dari proses editing penerbit.

Rekomendasi buku:

            Buku ini cocok untuk dibaca oleh seluruh kalangan masyarakat, terlebih yang menyukai buku biografi tokoh-tokoh tersohor dan berpengaruh, atau cocok juga untuk seorang pendidik. Diharapkan dari buku ini, apa yang menjadi karakter Mbah Hamid bisa dipelajari dan dicontoh. (ykib/christin).

Identitas buku:  

Judul buku                  : Mbah Hamid Pasuruan : K.H. Abdul Hamid – Karamah Sang

                                     Kiai Teladan

Penulis                        : Adhisti Maliqa

Penerbit                      : Garasi

Tahun terbit                : 2022

Tebal halaman : 124 halaman

*Resensi ini ditulis oleh Christin Nur Aisyah, S.Sos., guru Kampung Ilmu Padangan

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *