Melintasi Malam

Oleh Ainun Dyan Suttie P, S.Pd.

Teluk Nyomit ditandai oleh tanjung yang tajam di arah kiri mudik setelah sungai membentuk teluk potongan sungai mati yang kemudian menciptakan Danau Nyomit.

Tak ada yang tahu dari mana kata itu diambil dan maknanya apa juga tidak ada yang mengetahuinya. Namun semua mulut akan menyebutnya dengan Teluk Nyomit.

Kawasan ini terdiri dari hutan belukar yang sekelilingnya merimbun pokok- pokok rotan jahab dan rotan sega milik Kepala Adat Roksobo.

Pada zaman lampau seorang kepala adat adalah setingkat akuwu yang bermakna raja kecil di suatu kawasan, sehingga memiliki luasan hutan yang berisi rotan, kayu, dan pohon tanyut sebagai tanda kekuasaan.

Pada suatu hari Kinas tanpa jung pangkal berusaha menjelaskan makna Nyomit yang berarti kunyit.

Saat itu sedang musim panen rotan pelas, dan Laweq merupakan pengumpul rotan yang dibelinya dari para pekerja yang mengambil rotan dari hutan dataran rendah.

Korrie bersama kakaknya pada saat liburan sekolah menerima upah sewa. Dengan menyewa kapal Madon di Damai, mereka berdua mendapat bayaran dua kali lipat dari penyewa kapal.

Di zaman raja- raja masa lampau di rantau itu berdiri sebuah low yang panjangnya lima ratus meter dan terpotong karena tanjung terputus.

Waktu itu belum ada teluk, suatu ketika low diserang tentara negeri Kepa yang menggunakan pakaian perang berwarna kuning seperti kunyit.

Dan warga low saling berteriak  “Jomit, Jomit, Jomit” yang artinya kunyit sebagai konotasi warna kuning. Pasukan musuh mengira warga low sudah menyerah dengan mengucapkan pamit, pamit, pamit.

Lalu tentara Negeri Kepa serentak meninggalkan senjata, meletakkan di tanah dan segera menjarah isi low.

Saat itu, warga yang siap dengan tombak, keris berbisa, jembia, dan sumpitan yang berdampak racun mematikan mengambil alih penyerangan.

Musuh lengah dengan mudah ditaklukan dan mayat- mayat pun bergelimangan di sembarang tempat dengan pakaian kuning merata. Sejak saat itu lama kelamaan berubah lafal menjadi  nyomit yang diucapkan seperti lidah orang pelo.

Ketika lulus dari perguruan tinggi, Pututnmo  ingin mengunjungi teluk Nyomit lagi dan ke rumah Bu Amamih karena hanya Bu Amamih yang ia kenal di sana.

Pututnmo yang berjanji akan menikahi Bu Amamih dengan gagahnya menemui lelaki yang agak tua, beringsut. Dia berkata dengan lantang ingin menikahi Bu Amamih dan akan memboyong ke Jakarta.

Lelaki tua itu menjawab, sayangnya sudah terlambat Nak!

Maksud bapak apa sudah terlambat?. Dulu kawasan onderneming menjarah kawasan kami karena mereka telah mendapatkan izin penanaman karet seluas tiga ratus ribu hektar. Bu Amamih melawan karena hanya ia yang mampu melawan konglomerat saat itu dan ia dijebloskan ke dalam penjara.

Ia dijatuhi hukuman bukan karena melawan penguasa onderneming tapi karena pembunuhan.

Pembunuhan?. Bu Amamih membunuh siapa? Pemerkosaan, Nak Mo. Siapa yang memperkosa Bua?

Petugas, seorang petugas yang memperkosanya. Dan dia dijatuhi hukuman 7 tahun penjara. Ibunya meninggal karena sedih melihatnya digiring petugas menuju penjara, parahnya lagi hutan dirusak dengan sangat tega.

Puutnmo mengunjungi Bua ke penjara dan melihat keadaannya yang sangat menyedihkan, wajah yang lusuh dan perasaan yang putus asa. Puutnmo memberikan dukungan dan semangat agar Bua menantap masa depannya lagi dan tidak memikirkan apa yang telah terjadi.

Puutnmo masih ingin menikahi Bua meskipun sudah tidak perawan, namun Bua menolak dengan tegas karena merasa dirinya tidak pantas mendampinginya

Kelemahan buku : Cerpen- cerpen yang ditulis tidak saling berkaitan. Bahasa yang digunakan terdapat beberapa bahasa daerah khas yang banyak membuat pembaca tidak mengerti.

Keunggulan buku : Dalam buku ini diberikan arti dari kata- kata daerah khas yang bisa membantu pembaca mengerti tentang maksud kata tersebut di akhir bacaan cerpen.

Kesimpulan : Resensi saya ini diambil dari cerita Melintasi Malam saja, tidak sampai beberapa judul cerpen karena tidak saling berkaitan.

Identitas buku :

Judul : Melintasi Malam

Karya : Korrie Layun Rampan

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *