*Oleh Nisa Nur Aini, S.Pd., Gr.
Buku mendidik generasi Z & A membahas tentang sosok guru yang dibutuhkan saat ini. Seorang guru diharapkan mampu mengikuti perkembangan zaman dan teknologi, tanpa terbawa arus secara berlebihan hal ini penting supaya guru mampu menyesuaikan diri dengan karakter generasi masa kini, khususnya generasi Z & A. untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan guru kece bukan guru geje.
Apa yang dibahas dalam buku ini?
Buku ini mengungkap rahasia bagi guru untuk beradaptasi di era milenial. Perkembangan zaman dan teknologi telah mengubah hampir segala aspek pendidikan, menuntut guru untuk berpikiran terbuka dan siap menyesuaikan diri. Dengan adanya ekosistem digital yang saling terhubung, sumber daya pendidikan menjadi lebih mudah diakses dan memungkinkan lahirnya inovasi-inovasi baru.
Dalam ringkasan buku ini, pembaca akan mempelajari lima keterampilan penting yang harus diajarkan guru agar murid bisa menyesuaikan diri dengan peradaban milenial.
Hal-hal menarik yang akan Anda pelajari:
- Cara mengoptimalkan guru agar tetap memiliki dedikasi tinggi dalam mengajar.
- Alasan mengapa guru kece menjadi idola bagi generasi Z & A.
- Model pembelajaran yang efektif di era milenial.
- Rahasia Sekolah Pamerdi menjadi pemenang meski menghadapi keterbatasan.
- Cara membentuk generasi milenial dengan keterampilan hidup yang matang dan terasah.
Buku ini membahas pentingnya menjadi guru yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman akibat perkembangan teknologi dan inovasi. Guru dituntut memiliki disruptive mindset, yaitu cara berpikir yang memandang kecerdasan sebagai sesuatu yang dapat terus dikembangkan, bukan steady mindset yang cenderung bertahan pada tradisi dan menolak perubahan.
Guru yang inspiratif mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan nyata, menumbuhkan imajinasi dan kreativitas, serta berperan sebagai pendamping bagi siswa. Perubahan positif dapat dimulai dari hal sederhana seperti tersenyum, menyapa, dan menghargai siswa.
Selain itu, guru perlu memahami karakter generasi Y, Z, dan Alpha yang tumbuh dalam kenyamanan. Oleh karena itu, guru berperan mendorong kemandirian dan menghargai perbedaan pendapat agar siswa mampu berkembang dan berpikir kritis.
Sembilan kebiasaan yang perlu dimiliki untuk menjadi guru kece yang relevan bagi generasi Y, Z, dan Alpha, sebagaimana diadaptasi dari buku 9 Habits of Highly Effective Teachers karya Jacquie Turnbull. Kebiasaan tersebut meliputi pemahaman identitas diri, komitmen belajar sepanjang hayat, kemampuan mengelola stres dan waktu, empati terhadap perbedaan gaya belajar siswa, keterampilan mendengarkan, komunikasi asertif, membangun karisma, serta menjalin kerja sama dengan orang tua dan berbagai pihak.
Melalui kebiasaan ini, guru diharapkan tidak lagi memberi label negatif pada siswa. Anak yang dianggap “nakal” justru dipandang sebagai pribadi kreatif dengan cara berpikir berbeda. Pendidikan sejatinya bertujuan menyiapkan siswa menghadapi masa depan, bukan sekadar unggul dalam ujian, tetapi juga mandiri, berani mengambil keputusan, dan memiliki growth mindset.
Buku ini menjelaskan bahwa adaptasi e-learning dan pembelajaran kontekstual sangat penting untuk membantu generasi Z dan Alpha belajar lebih cepat di era digital. Kebiasaan siswa yang lekat dengan teknologi membentuk karakter multitasking dan kurang fokus, sehingga guru perlu menyesuaikan metode pembelajaran agar tetap relevan dan bermakna.
Guru dituntut mengembangkan pembelajaran kontekstual yang memadukan nilai guru era analog dengan cara berpikir generasi digital. Pembelajaran ini membekali siswa berbagai keterampilan abad ke-21, seperti berpikir kritis, kolaborasi virtual, literasi media, dan kemampuan lintas budaya. Platform seperti Khan Academy menjadi contoh keberhasilan e-learning yang menarik karena menawarkan pembelajaran visual, interaktif, dan fleksibel.
Meskipun demikian, e-learning tidak dapat sepenuhnya menggantikan sekolah konvensional. Oleh karena itu, guru perlu mengombinasikan teknologi dengan pembelajaran pengalaman langsung untuk membentuk karakter, soft skill, dan kesiapan siswa menghadapi kehidupan nyata.
Lima disiplin yang diterapkan Sekolah Pamerdi untuk tetap berprestasi di tengah berbagai keterbatasan, merujuk pada konsep Peter Senge. Lima disiplin tersebut meliputi mental models, personal mastery, shared vision, team learning, dan system thinking yang membentuk sekolah sebagai komunitas belajar.
Seluruh warga sekolah memandang profesi guru sebagai bentuk pengabdian dalam menyiapkan generasi masa depan. Sekolah Pamerdi mendorong pengembangan diri guru melalui pelatihan berkelanjutan serta menanamkan visi bersama yang menjadi arah setiap program. Kolaborasi dan berbagi pengetahuan antar guru menjadi budaya, sementara keterbatasan fasilitas justru memicu kreativitas pembelajaran di berbagai ruang publik. Kelima disiplin inilah yang menjadikan Pamerdi mampu melampaui keterbatasan dan tetap relevan menghadapi perubahan zaman.
Lima soft skill penting yang perlu dimiliki pelajar generasi Z dan Alpha di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi. Literasi menjadi fondasi utama karena tidak hanya berkaitan dengan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, mengelola informasi, serta bersikap bijak dalam menyikapi persoalan.
Selain itu, generasi Z dan A dituntut memiliki stempathy, yaitu keseimbangan antara penguasaan teknologi modern dan empati. Kemampuan bekerja sama dan berkolaborasi juga menjadi kunci keberhasilan, karena kesuksesan sejati adalah keberhasilan bersama. Perubahan dunia kerja yang cepat menuntut siswa mampu beradaptasi, berpikir mendalam, dan inovatif. Oleh karena itu, selain IQ, EQ, dan SQ, pelajar juga perlu memiliki AQ, yaitu ketangguhan menghadapi kesulitan dan menjadikannya sebagai peluang untuk berkembang.
Buku ini menegaskan bahwa guru kece adalah pendidik yang memahami karakter generasi Y, Z, dan Alpha, mendorong kemandirian belajar, serta memberi ruang bagi perbedaan pendapat. Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan siswa yang pintar ujian, tetapi harus membentuk pribadi yang berani mengambil keputusan dan tangguh menghadapi tantangan.
Untuk mencapai hal tersebut, guru perlu mengadaptasi e-learning dan pembelajaran konseptual agar proses belajar lebih cepat dan bermakna. Keberhasilan Sekolah Pamerdi menunjukkan bahwa penerapan lima disiplin, yaitu mental models, personal mastery, shared vision, team learning, dan system thinking, mampu mengatasi keterbatasan. Selain itu, penguatan soft skill seperti berpikir kritis dan kreatif, stempathy, kerja sama tim, serta adversity quotient menjadi kunci dalam menyiapkan generasi Z dan Alpha menghadapi masa depan.
Meskipun buku ini kaya akan gagasan inspiratif, terdapat beberapa kekurangan. Pertama, sebagian pembahasan masih bersifat konseptual dan reflektif sehingga kurang dilengkapi dengan data empiris atau hasil penelitian yang kuat. Kedua, contoh praktik baik yang disajikan belum selalu disertai langkah-langkah teknis yang rinci, sehingga pembaca pemula mungkin memerlukan panduan tambahan untuk menerapkannya secara langsung di kelas.
Selain itu, fokus buku yang sangat menekankan peran guru terkadang kurang diimbangi dengan pembahasan keterbatasan sistem pendidikan secara struktural, seperti kebijakan atau sarana prasarana. Bahasa yang cenderung motivasional juga membuat beberapa bagian terasa berulang, terutama bagi pembaca yang sudah familiar dengan tema pendidikan modern.
Buku ini memiliki kelebihan utama pada gagasannya yang relevan dengan tantangan pendidikan masa kini, khususnya dalam menghadapi generasi Y, Z, dan Alpha. Penyajiannya inspiratif dan memotivasi, sehingga mampu membangkitkan kesadaran guru untuk terus beradaptasi dan melakukan perubahan.
Selain itu, buku ini kaya akan contoh praktik nyata, seperti penerapan e-learning, penguatan soft skill, serta keberhasilan Sekolah Pamerdi dalam mengelola keterbatasan. Bahasa yang digunakan komunikatif dan mudah dipahami, membuat isi buku dapat diterima oleh berbagai kalangan pendidik. Buku ini juga menekankan keseimbangan antara penguasaan teknologi, karakter, dan nilai kemanusiaan, sehingga memberikan pandangan pendidikan yang utuh dan kontekstual. (ykib/nisa).
Identitas buku
Judul : Mendidik Generasi Z & A
Penulis : J. Sumardianta & Wahyu Kris AW
Penerbit : PT Grasindo
Halaman : 261
ISBN : 9786020514314
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Padangan

