Mengarungi Samudra Kehidupan

Oleh Ainun Dyan Suttie P, S.Pd.

Di sebuah rumah kecil yang dikelilingi gundukan tanah, dilindungi oleh dua batang pohon mahoni dan di belakang rumah terdapat pohon turi yang dijadikan pijakan burung- burung berkicau kala pagi hari. Di belakang rumah tersebut juga terdapat banyak ladang milik warga sekitar.

Di rumah kecil, bisa disebut gubuk reot Sardiman kecil diasuh oleh kedua orang tuanya yang teramat miskin. Sang  ayah bekerja di ladang milik tetangganya Pak Rowi namanya.

Sedangkan sang ibu hanya membantu suaminya di ladang. Bila keluar hasil panennya Ayah Sardiman diberi 1/3 bagian dari hasil panen tersebut. Waktu itu Sardiman berumur 5 tahun. Satu- satunya teman Sardiman adalah anak Pak Rowi yaitu Suparlan. Suparlan mempunyai perangai yang tidak mau mengalah dan apapun permintaannya harus terlaksana sehingga sering kali Sardiman kena tempeleng.

Karena mengerjakan ladang hasilnya sangat jauh dari kata puas akhirnya ayah Sardiman memutuskan untuk bekerja di kota.  Suatu kebahagiaan bagi Sardiman ketika sang ayah pulang dari kota. Sardiman dibawakan permen. Begitulah saat- saat kebahagiaan Sardiman setiap dua minggu sekali. Namun hal itu tidak bertahan lama. Sewaktu ayahnya bekerja di kota tempat ia mencari nafkah, malang tak dapat ditolak mujur tak dapat diraih. Ayahnya menemui ajalnya sewaktu Sardiman membutuhkan berumur 7 tahun. Tinggal ibunya satu- satunya tempat bergantung.

Sejak ditinggal ayahnya meninggal dua tahun yang lalu, setiap hari ibunya selalu batuk- batuk saja. Sardimanlah anak satu- satunya yang diharapkan tenaganya untuk menggantikan ayahnya bekerja. Karena kondisi ibunya yang tidak memungkinkan bekerja di ladang Pak Rowi.

Meskipun ibunya Sardiman sudah sakit parah tapi ia selalu berusaha terlihat baik- baik saja di depan Sardiman. Tetap selalu membelai rambut Sardiman dan selalu bercerita ketika hendak tidur. Tetapi pada hari itu pukul 11 ibunya meninggal dunia. Bocah seusia dia harus menjadi yatim piatu, anak seusia dia masih belum paham benar masalah hidupnya.

Baru kira- kira dua jam setelah pemakaman, Sardiman duduk di atas lincak bambu di depan rumahnya dengan bertopang dagu mengenang nasibnya yang malang. Tidak berapa jauh nampak seorang wanita seusia ibunya menghampirinya dan mengajak Sardiman tinggal di rumahnya. Dia adalah Mak Rowi istri dari Pak Rowi pemilik ladang yang sering digarap oleh keluarga Sardiman.

Dengan berat hati Sardiman pun ikut Mak Rowi tinggal di rumahnya karena memang rumah yang di tempati Sardiman sudah tidak layak lagi karena sudah reot, banyak lubang dan belum lagi kalau hujan bocor di mana- mana.  Sepeninggalan ibunya, Sardiman mengalami kegoncangan dalam hidupnya. Sudah setahun lebih ia tinggal bersama Mak Rowi . Perangai suami istri itu berbeda, hanya Mak Rowi yang sedikit mengiba pada Sardiman beda dengan suaminya yang terkesan tidak menyukai Sardiman seperti Suparlan anak mereka berdua.

Suatu ketika Pak Rowi pergi ke pasar namun nahas uang di dalam dompet semua raib dicopet orang. Pak Rowi pulang dengan keadaan marah karena itu sudah menjadi tabiatnya. Tiba di dalam rumah kambingnya tidak berhenti mengembik sehingga pak Rowi merasa tambah kesal dan terganggu, di panggilan Sardiman. Sar…Sar..jawab kuping atau sungu.  Dengar tidak saya tanya? Ayo jawab! Yang dimaksud Pak Rowi Sardiman disuruh manyabit rumput di ladang dan disuruh memberi makan kambing tapi Sardiman belum paham. Sehingga dia diam saja, yang membuat Pak Rowi semakin naik pitam. Pak Rowi masih membentak dengan kasar. Untung Mak Rowi lekas mengetahui dan memberitahukan bahwa Sardiman sudah selesai menyabit rumput, keranjang rumput sudah penuh dengan makanan kambing. Anaknya baru selesai mandi, dan baru saja hendak makan sudah di marahi. Kasihan pak…kata Mak Rowi.

Mendengar suara ramai di luar, Parlan mempunyai niat buruk kepada Sardiman. Uang ayahnya yang berada di saku baju Rp 1000 diambilnya dan buat mentraktir teman- temannya. Namun ia memberi tahu ayahnya kalau yang mengambil Sardiman. Sehingga Pak Rowi terpancing dengan hasutan Parlan anaknya. Pak Rowi kembali membentak, memarahi Sardiman serta menempeleng Sardiman.

Sejak kecil Sardiman yang selalu memperoleh perlakuan hangat dan kasih sayang yang berlimpah dari kedua orang tuanya hanya bisa menangis. Mak Rowi pun yang biasanya membela Sardiman juga terbujuk hasutan Parlan sehingga ia mulai tidak percaya dengan Sardiman lagi. Dengan masih menangis menyesali kehidupannya yang sudah ditinggal mati bapak ibunya Sardiman pergi ke ladang untuk menenangkan diri.

Tak lama kemudia Mak Rowi datang dengan membawa makan dan minum karena ketika meninggalkan rumah tadi Sardiman belum makan. Dan dibawanya pulang lagi Sardiman ke rumah Mak Rowi meskipun mak Rowi masih belum mempercayai Sardiman ia hanya kasihan dan iba pada Sardiman.

Sampai tengah malam Sardiman tidak biasa tidur, dilihatnya ke atas ada lubang akibat genting yang melorot. Sardiman melihat bintang- bintang dan teringat akan mendiang bapak ibunya sampai dia menitikan air mata. Entah jam berapa ia akhirnya tertidur juga setelah kelamaan memandangi foto keluarganya sambil menangis.

Sardiman sudah mengetahui bahwa uang Pak Rowi yang hilang itu Parlan lah yang mengambilnya. Sardiman diberitahu oleh Ranto teman sekaligus tetangga pak Rowi.  Pak Suta tetangga Pak Rowi yang paling dekat, banyak mengetahui perihal Sardiman dan perlakuan Pak Rowi terhadap Sardiman.

Pak Suta sering menitipkan kambingnya untuk digembala Sardiman, karena Sardiman anak yang sangat menyayangi hewan. Dengan sering memberi imbalan uang kepada Sardiman Pak suta sangatlah kasihan kepada Sardiman yang badannya semakin kurus saja. Sardiman mempunyai teman yang bernama Ranto dan Yadi. Kedua temannya itu sering membantu Sardiman membawa makanan agar dimakan oleh Sardiman ketika mereka bertemu di ladang 

Sardiman ingin sekali bersekolah, namun biaya sekolah yang mahal dan juga membutuhkan peralatan tulis membuat Sardiman sadar bahwa ia harus menabung. Sardiman dan kedua temannya sering membantu Pak Ali menanam kedelai, lumayan hasil uang pemberian Pak Ali bisa buat tambahan menabung.

Ketika Sardiman ingat uang pemberian pak Suta, ia hendak memasukkan ke tabungnya namun alangkah terkejutnya ketika tabung tersebut sudah kosong. Selain Parlan tidak ada yang berbuat sejahat ini, pikir Sardiman. Ketika Pak Rowi masih di ladang dan Mak Rowi masih menjual hasil ladang di pasar Sardiman melihat Parlan dan hendak menanyakan uang dalam tabungnya. Parlan dan Sardiman bertengkar karena mereka saling tidak terima dengan tuduhan masing- masing. Di tariknya Sardiman dan dihentakkn sampai membentur lemari sehingga membuat kendi kesayangan  Pak Rowi jatuh pecah menimpanya. Parlan tak sampai di situ diambilnya foto kenangan ibu bapak Sardiman dan dirobeknya gambar tersebut yang membuat hati Sardiman sedih sekali.

Dalam keadaan kemelut  yang sudah berkobar inilah Pak Rowi datang dan marah- marah ketika mengetahui kendi kesayangannya pecah. Dan Parlan dengan sombongnya memutar balikkan fakta bahwa yang memecahkan kendinya adalah Sardiman. Ditariknya tangan Sardiman kemudian di tamparnya wajah Sardiman. Mendengar kegaduhan  di rumah Pak Rowi para tetangga datang untuk melihat, Mak Suta dengan membawa kain datang menghampiri Sardiman dan menyeka darah yang mengalir di dahi Sardiman. Pak Suta menasihati Pak Rowi namun Pak Rowi malah pergi dan tidak terima dengan hal itu.

Dengan berbekal uang Rp 250 Sardiman memutuskan untuk pergi ke kota karena merasa sudah tak tahan akan perlakuan Pak Rowi dan Parlan. Sampai di kota Sardiman duduk di bawah pohon dekat warung bakso pak Marto. Pak Marto yang baru saja kehilangan anaknya Andi karena sudah meninggal dunia, ia melihat Sardiman yang sangat menyedihkan keadaanya. Dipanggilnya Sardiman dan ditanyai tentang keadaannya, diberi nya makan bakso dan menawarkan pekerjaan untuk membantu mengantarkan bakso kepada pembeli dan juga mencuci piring.

Seminggu sudah Sardiman ikut pak Manto badannya sudah tidak kurus lagi karena sebelum diajak bekerja Pak Marto selalu menyuruhnya makan sampai kenyang sehingga kuat untuk bekerja seharian.

Sardiman diterima baik di keluarga Pak Marto, Mak Marto pun sangat menyayangi Sardiman  dan sudah menganggap ia sebagai anaknya sendiri sebagai pengganti Anto anaknya yang sudah meninggal.  Sardiman disekolahkan dan disuruh belajar dengan tekun supaya kelak kehidupannya layak.

Sardiman merupakan anak yang cerdas, ia menjadi teladan bagi anak yang lainnya. Pak Gunawan yang mengajarnya pun bangga dengan kecerdasan Sardiman.

Ketika Sardiman sudah kelas 3 SMP pak Marto masuk rumah sakit dan opname, dengan cekatan Sardiman mengurus segala keperluan Pak Marto, membantu Mak Marto jualan bakso dan tetap sekolah demi janjinya pada Pak Marto. Tak lama kemudian Pak Marto meninggal dunia tinggalah Bu Marto hidup berdua dengan Sardiman yang sudah berjanji tidak akan meninggalkan Bu Marto sendirian.

Sepeninggalnya Pak Marto, Sardiman selalu membantu mengurusi kedai bakso Bu Marto. Kedai bakso tersebut tidak mengalami kemunduran bahkan sudah menambah dua orang untuk membantu mengurusi kedai tersebut dengan persetujuan Mak Marto.

Waktu terus berjalan hingga waktunya Sardiman lulus SMA dan harus melanjutkan ke Universitas. Dengan berat hati Mak Marto melepas Sardiman untuk kuliah.

Pak Gunawan guru Sudirman menyarankan untuk kuliah di kedokteran mengingat kecerdasan yang dimiliki Sardiman beliau yakin bahwa Sardiman mampu lulus dan menyandang gelar dokter.

Waktu berjalan begitu cepat, Sardiman yang gigih belajar akhirnya lulus dengan gelar dokter. Ketika Sardiman sudah menjadi dokter dia ingin sekali kembali ke tanah kelahirannya dan mengabdi di sana. Menolong sesama tanpa pamrih. Sardiman juga sudah menikah dan mengajak sang istri ke tempat kelahirannya.

Sampai suatu saat Sardiman mendengar kalau Pak Rowi tengah sakit- sakitan dan tidak mempunyai biaya sehingga hanya mampu memanggil dukun saja untuk membantu penyembuhannya.

Sardiman datang ke rumah Pak Rowi tanpa memberitahukan bahwa dia adalah Sardiman yang dulu mendapatkan fitnahan dan siksaan dari Parlan dan juga Pak Rowi. Dia membantu dan mengobati Pak Rowi dengan ikhlas.

Hingga akhirnya Parlan mengetahui bahwa dokter yang memeriksa bapaknya secara gratis adalah Sardiman kecil dulu yang sering ia sakiti hatinya dengan kata- kata kasar dan fitnah. Parlan meminta maaf kepada Sardiman dengan apa yang sudah ia lakukan dulu, dan berterima kasih karena sudah tidak dendam sehingga mau menolong keluarganya. Menganggap Parlan adalah saudaranya sendiri.

Amanat cerita ini adalah jadilah orang baik, jangan menyimpan dendam meskipun ada orang yang sudah memfitnah dan menyakiti hati maupun fisik kita. Selalu giat belajar guna meraih mimpi yang sudah diimpikan.

Kelemahan buku ini adalah ceritanya kurang terperinci, cerita Sardiman menikah belum dijelaskan.

Kelebihan buku ini adalah cerita ini bagus sekali untuk para pembaca, memberikan pesan moral agar lebih sabar dalam menghadapi ujian hidup, tidak dendam kepada orang yang sudah melukai hati maupun fisik kita. (*/ykib)

Judul : Mengarungi Samudra Kehidupan

Karya : Muh. Sunardiyanto

Penerbit : Balai Pustaka

Jumlah halaman : 110 halaman

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *