*Oleh Eka Kurnia Mareta, A.Md.
Buku ini mengangkat tema perjalanan hidup dan proses meraih impian, menekankan perjuangan, refleksi diri, dan ketekunan. Buku Menggapai Impian berisi 35 bab pendek yang mengajak pembaca untuk merenungi arti kehidupan, kesabaran, perjuangan, dan pentingnya mimpi. Panji Ramdana menuliskan refleksi-refleksi sederhana namun dalam, dengan gaya bahasa yang puitis dan motivasional.
Bab 1 – 5: Penulis mengajak pembaca untuk mengenali diri dan berani bermimpi. Hidup dipandang sebagai anugerah berharga yang harus dijalani dengan tujuan. Di sini ditekankan bahwa setiap orang punya kesempatan untuk menggapai cita-citanya asal berani memulai.
Terdapat kutipan favorit: “Kegagalan bukan akhir, melainkan tanda bahwa ada cara yang belum tepat. Setiap jatuh, sesungguhnya kita sedang belajar untuk bangkit.” Hal ini memberikan pesan bahwa “Jangan takut bermimpi besar walau banyak yang meragukan”.
Bab 6 – 10: Berbicara tentang perjuangan dan kegagalan. Panji Ramdana mengingatkan bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan bagian dari proses belajar. Kesabaran, ikhtiar, dan semangat untuk bangkit kembali adalah kunci utama.
Pada Bab ini terdapat kutipan favorit : “Hidupmu sangat berharga. Maka beranikanlah dirimu untuk melawan arus yang kuat, meski banyak orang meremehkanmu.” Hal ini memberikan pesan bahwa “Gagal itu wajar, asal jangan berhenti mencoba.”
Bab 11 – 15: Membahas arti kesendirian produktif. Penulis menekankan bahwa sendiri tidak selalu berarti kesepian. Justru dalam kesendirian, seseorang bisa merenung, memperkuat diri, dan menemukan jati diri.
Kutipan favorit pada Bab ini yaitu: “Sendiri bukan berarti sepi. Sendiri adalah waktu terbaik untuk menata hati, membangun mimpi, dan menguatkan diri.” Hal ini mengajarkan kita bahwa Kesendirian bisa jadi kekuatan, bukan kelemahan.
Bab 16 – 20: Fokus pada nilai spiritual dalam meraih impian. Doa, tawakal, dan syukur dipandang sebagai kekuatan batin. Penulis mengingatkan bahwa perjalanan menggapai cita-cita akan lebih bermakna bila dibarengi dengan kedekatan kepada Tuhan.
Bab 21 – 25: Mengangkat pentingnya keberanian untuk berbeda. Penulis menulis bahwa kadang kita harus “melawan arus” demi mewujudkan impian. Tidak semua orang akan mendukung, tapi justru keberbedaan itulah yang bisa menjadi kekuatan.
Bab 26 – 30: Membahas tentang hubungan dengan orang lain. Menggapai impian tidak selalu dilakukan sendirian, ada peran orang-orang di sekitar kita. Menghargai, memberi manfaat, dan bekerja sama juga bagian dari perjalanan sukses.
Kutipan favorit saya yaitu : “Impian bukan hanya tentang sampai ke tujuan, tapi tentang siapa dirimu selama perjalanan itu berlangsung.” Hal ini mengajarkan kita bahwa kita harus menikmati proses, karena itulah yang membentuk kita.
Bab 31 – 35: Bab penutup berisi refleksi tentang konsistensi, semangat, dan pentingnya menikmati proses. Impian bukan hanya tentang hasil, melainkan tentang siapa diri kita menjadi selama proses itu berlangsung
Buku ini menggunakan bahasa yang sederhana namun penuh muatan emosional. Banyak kalimat yang terasa seperti kutipan motivasi, misalnya:
- “Kegagalan bukan akhir, melainkan tanda bahwa ada cara yang belum tepat.”
- “Sendiri adalah waktu terbaik untuk menata hati, membangun mimpi, dan menguatkan diri.”
- “Impian bukan hanya tentang sampai ke tujuan, tapi tentang siapa dirimu selama perjalanan itu berlangsung.”
Bahasa yang puitis menjadikan buku ini mudah diingat, walaupun bagi sebagian pembaca bisa terasa agak repetitif karena beberapa gagasan diulang dalam bab yang berbeda.
Kelebihan buku :
- Bahasa yang puitis dan menyentuh: banyak kalimat yang bisa dijadikan kutipan motivasi.
- Bab yang pendek dan ringan: membuat pembaca tidak mudah bosan.
- Inspiratif: cocok dibaca ketika sedang merasa gagal atau kehilangan arah.
Kekurangan buku :
- Ada beberapa pengulangan ide, misalnya tentang sabar dan ikhtiar yang diulang di banyak bab.
- Bagi sebagian pembaca, gaya bahasanya bisa terasa terlalu “puitis” sehingga makna praktisnya agak samar.
Secara keseluruhan, buku Menggapai Impian terasa seperti teman yang mengingatkan kita dengan lembut. Ada saat-saat ketika kata-kata di dalamnya seperti menegur langsung, terutama bagian tentang “kegagalan bukanlah akhir, tapi tanda bahwa ada cara yang belum tepat.”
Saya pribadi paling suka bab tentang kesendirian produktif. Sering kali orang menganggap sendiri itu lemah, padahal penulis menunjukkan bahwa sendiri bisa jadi momen untuk menemukan jati diri. Buku ini juga membuka mata bahwa perbedaan bukan sesuatu yang harus ditakuti, tapi justru bisa menjadi kekuatan.
Walaupun ada bagian yang menurut saya terlalu berulang, tetap saja buku ini menyisakan banyak pelajaran. Setelah membaca, saya jadi lebih yakin bahwa impian memang tidak bisa digapai dalam semalam, perlu doa, usaha, kegagalan, bahkan air mata.
Buku Menggapai Impian cocok untuk siapa saja yang sedang butuh suntikan motivasi. Tidak menawarkan “jalan pintas” menuju sukses, tetapi mengingatkan kita bahwa perjalanan itu sendiri yang membuat mimpi terasa bernilai. (ykib/nia).
Identitas buku
Judul : Menggapai Impian
Penulis : Panji Ramdana
Penerbit : MDP Media
Tebal : 236 halaman
Tahun terbit : 2018
Jumlah Bab : 35 bab
*Penulis resensi buku adalah Wakil Kepala Kampung Ilmu Padangan

