Menyiapkan Ananda Menjadi Sang Juara Kehidupan

Oleh Ainun Dyan Suttie Priyadharsini, S.Pd.

Buku berjudul “Menyiapkan Ananda Menjadi Sang Juara Kehidupan” karya Nafik Palil ini sangat menarik untuk dibaca terutama bagi orang tua yang ingin mendidik anak-anaknya dengan baik. Penulis buku ini, Nafik Palil, adalah seorang pendidik, penulis buku, dan motivator yang sering diundang berbicara di berbagai pertemuan parenting di Indonesia.

Menurut Nafik Palil dalam bukunya ini, masa kanak- kanak adalah satu- satunya perjalanan paling penting dalam kehidupan. Ada kecenderungan dalam diri kita sebagai orang tua untuk melihat makhluk- makhluk kecil bernama anak- anak dengan nada kesombongan. Terkadang kita juga melihat mereka dengan sebelah mata. Menganggap mereka tak bisa serius dan hanya bermain- main. Relasi kita dengan anak- anak pun lebih didominasi oleh relasi marah- marah, menegur, menceramahi dan semacamnya. Kita hanya terfokus pada dampak perbuatan anak- anak terhadap dunia kita orang dewasa. Anak jarang kita anggap keberadaannya.

Sikap- sikap di atas yang hanya melihat anak- anak dari sudut pandang kita sebagai orang tua sesungguhnya merupakan pantulan dari masih kuatnya cara berpikir kita yang disebut oleh Jean Piaget sebagai ego- centric. Cara berpikir seperti itu tentu dianut sampai dewasa, maka itu berarti terjadi kemandekan pertumbuhan dan perkembangan dalam cara berpikir kita.

Ketika kita sering berpikir bahwa berkomunikasi dengan anak tidak begitu penting itu akan membuat anak- anak juga berpikir seperti itu.  Anak akan menjadi pribadi yang lama kelamaan tak tertarik untuk mengkomunikasikan dirinya secara total kepada orang tuanya karena anak- anak tahu bahwa orang tuanya mendengarnya dengan sebelah telinga. Dan anak yang dering mengalami itu akan tumbuh menjadi anak yang tidak ekspresif, anak yang lebih suka diam.

Ketika situasi sudah seperti itu, kita sebagai orang tua pun mengeluh dan tidak akan bisa memahami akan kemauan anaknya sendiri. Namun ketika hal sebaliknya dilakukan para orang tua. Yakni menjadi orang tua yang selalu menghargai anak- anak bukan karena kelemahan dan kepolosannya, namun karena kedahsyatan energi potensial yang terkandung di dalam diri anak.

Ibarat seorang petani ketika hendak menanam padi, ia akan memilih benih yang terbaik, merawatnya dengan pupuk pilihan dan memberikan cukup air agar nanti ketika panen hasil padinya akan tumbuh dengan baik dan hasilnya panennya bagus.

Dari satu benih yang dirawat dengan benar, akan berkembang ratusan benih yang lain dan setiap benih bisa menghasilkan ratusan benih yang baru lagi.

Perbedaan perlakuan di atas berlaku bukan hanya di level individual antara orang tua dan anak, namun juga level bangsa. Bangsa yang cerdas sangat menghargai anak- anaknya. Segala usaha dikerahkan untuk menemukan cara terbaik merawat anak- anak mereka agar kemajuan dan kemakmuran mereka sebagai bangsa terus tumbuh dan lestari.

Di negeri- negeri yang penuh dengan anak- anak yang tumbuh dengan moralitas rendah, berkembang marak berbagai permainan kotor di berbagai bidang kehidupan. Berbagai posisi dan jabatan diperoleh berkat permainan kotor, dan karena posisi dan jabatan itu diisi dengan orang- orang yang tidak berkompeten dan bermoralitas rendah. Wajar jika kekayaan bangsa yang sesungguhnya cukup bisa membuat bangsa itu hidup berkemakmuran.

Namun kalaupun ada kemakmuran, kemakmuran itu adalah kemakmuran yang bersifat rapuh karena bergantung pada ketersediaan sumber daya alam. Sepanjang sumber daya alam yang tersedia, sepanjang itu kemakmuran masih dimiliki.

Jadi, baik level individual maupun level bangsa, mereka yang lebih cerdas dalam mendidik anak akan tumbuh menjadi kekuatan yang lebih unggul dari pada mereka yang kurang cerdas. Tugas orang tua adalah mendampingi anak- anak menjalani proses perjalanannya.

Perjalanan anak- anak menuju tahapan kematangannya sebagai individu bukanlah proses yang mudah.  Meski mungkin melihat anak- anak sebagai makhluk yang ceria dan suka bermain. Ketika totalitas mereka dalam mengalami dunia bertemu dengan rentetan pengalaman buruk maka akan menggelapkan kepribadian mereka. Jika mereka tak segera menemukan cara terbaik untuk menghadapi dan mengalami pengalaman  buruk mereka maka kegembiraan yang seharusnya mereka dapatkan akan beralih menjadi kebingungan dan kepedihan.

Anak yang cerdas membutuhkan orang tua yang cerdas. Ketika orang tua memiliki wawasan pengetahuan dan pengalaman hidup  yang terbatas, maka wawasan yang terbatas itulah yang akan didapatkan seorang anak. Apa yang dianggap penting dan tidak penting akan dianggap pula seperti itu oleh anak.

Memang benar pada usia anak- anak terutama balita terjadi proses tumbuh kembang anak secara luar biasa pesat, termasuk sel- sel otaknya. Anak- anak menyerap banyak informasi dan mempelajari banyak kemampuan baru selama masa usia awal tersebut.

Orang tua yang cerdas mendidik anaknya dengan kasih sayang. Cerdas ialah kualitas mental- intelektual yang memungkinkan kita mengerti akan sesuatu dan belajar bertindak secara akurat terhadap sesuatu. Kualitas kecerdasan membuat kita mampu menyelesaikan masalah bahkan sebelum masalah itu tercipta.

Memberikan kasih sayang yang selaras dengan tahapan pertumbuhan anak. Bisa disimpulkan bahwa mendidik anak dengan pertumbuhan kasih sayang akan membantu tumbuh kembangnya kecerdasana nak secara optimal. Dari sebuah kasih sayang akan memberikan pengalaman kebahagiaan kepada anak, dan dari hati yang bahagia otak anak bisa berfungsi secara optimal.

Tiga tahapan proses tumbuh kembang kecerdasan anak yaitu :

  1. Tahap la- ibuhun ( ajaklah mereka bermain), yaitu mulai lahir sampai dengan umur 7 tahun
  2. Tahap  addibuhum ( ajarilah mereka adab), yaitu mulai dari usia 8 tahun
  3. Tahap roofiquhum ( jadikanlah mereka sahabat), yaitu mulai usia 15 tahun sampai 21 tahun

Mempersiapkan anak- anak untuk memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar dengan pendekatan tiga tahapan. Dengan kata lain, posisi anak semakin sentral dalam menentukan hidupnya sendiri. Jika semua tahapan perkembangan anak dijalani dengan baik, maka apa yang di inginkan anak akan bisa diraihnya.

Kebebasan bermain yang kita berikan kepada anak akan membuat anak mengenal berbagai peran bserta aturan- aturannya dalam dunia. Anak bisa mengeksplorasi berbagai peran yang ada di kehidupan.

Keunggulan utama anak- anak dari tahapan ini adalah munculnya kemampuan untuk meniru. Mereka mampu menirukan persis apa yang telah diajarkan kepada meraka. Kebebasan ini juga akan mendorong anak untuk berani bermain peran tanpa terhalangi, anak tidak akan merasa takut karena dimarahi atau ditegur orang tuanya.

Kesimpulan dari buku ini adalah: Ketika orang tua telah memberikan segala kebutuhan yang dibutuhkan anak dalam setiap tahapan perkembangan usianya, maka orang tua bisa dikatakan berhasil menunaikan tugas besarnya.

Kelebihan buku : Buku ini akan sangat membantu para orang tua mengetahui tahapan- tahapan perkembangan anak agar bisa memberikan pengalaman terbaik dan bisa mendampingi anak- anak mencari jati diri dengan dikelilingi rasa nyaman, aman dan kebahagiaan.

Kekurangan buku: Memberikan contoh pengalaman anak dengan menggunakan tokoh luar negeri seperti Messi pemain sepak bola terkenal.

Judul buku : Menyiapkan Ananda Menjadi Sang Juara Kehidupan

Penulis :  Nafik Palil

Halaman : 140 halaman

Penerbit : The Naff Publishing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *