Oleh M. Agus Miftah Farid, S.Pd
Novel yang berjudul Musafir Cinta ini bergenre novel Islami, mengisahkan tokoh yang bernama Iqbal Maulana. Dimana dia harus pergi meninggalkan pesantren Tegal Jadin yang menjadi tempatnya menimba ilmu karena ia telah dituding oleh para sahabatnya bahwa ia telah berkhalawat dengan Aisyah. Tudingan tersebutlah yang menjadi bagian dari fitnah yang mengadilinya sehingga ia harus meninggalkan Tegal Jadin dan berkelana mencari kesejatian cinta ilahi. Kemudian dengan kata basmalah, ia pun melangkah pergi menjadi seorang musafir. Dengan kepercayaan dirinya ia mulai melangkah dan naik bus jurusan Solo-Purwokerto. Namun, ia tidak tahu kemana arah tujuannya.
Di dalam bus, ia berkenalan dengan seorang pria bernama Anton. Mereka mendikusikan tentang ajaran agama Islam. Tidak lama kemudian tiba-tiba bus yang dinaikinya mogok. Ia dan para penumpang lainnya pun turun dan menunggu bus lagi. Pada saat itulah ia melihat segerombolan pengamen menyanyikan lagu religi, namun mereka minum-minuman keras. Dan kemudian ia menghampiri segerombolan pengamen tersebut dan berkenalan. Setelah berkenalan, salah seorang gerombolan pengamen (Firman) meminta uang kepada Iqbal untuk membeli minuman namun salah seorang sahabat Firman yaitu Parno melarangnya. Akhirnya, Iqbal akan memberikan uang tetapi dengan syarat, uang tersebut harus digunakan untuk hal yang bermanfaat. Iqbal menawarkan kepada mereka bahwa ia akan membelikan dua gitar untuk mengamen. Firman dan sahabat-sahabatnya pun takjub akan keikhlasan Iqbal yang ingin memberikan mereka dua buah gitar.
Beberapa jam kemudian, Firman mengajak Iqbal untuk beristirahat di rumahnya. Setibanya di rumah Firman, ia terkejut bahwa Firman adalah seseorang dari keluarga yang berkecukupan. Firman berubah menjadi seperti itu karena adiknya diperkosa dan dibunuh. Sehingga Firman menganggap rumahnya adalah rumah kemaksiatan. Setelah itu Iqbal pun menjalankan salat subuh sebagaimana kewajibanya sebagai seorang muslim. Pada saat itulah ayah dan ibu Firman melihat Iqbal salat. Mereka merasa senang karena baru pertama kali ini melihat sahabat Firman salat di rumah mereka. Tanpa rasa canggung mereka meminta Iqbal untuk tinggal di rumah mereka, Iqbal pun menyetujuinya. Mereka beranggapan bahwa Iqbal akan membawa perubahan yang baik untuk anaknya Firman. Selama Iqbal tinggal di sana ia memutuskan untuk menghafalkan Alquran.
Suatu hari Iqbal berseteru adu mulut dengan firman yaitu mengenai Islam sehingga membuat Firman kabur dari rumah. Iqbal merasa bahwa perkataan Firman ada benarnya, Iqbal pun mulai ragu akan agama Islam. Pada sore harinya, dengan cuaca hujan yang begitu deras Iqbal pergi mencari sebuah gereja. Ia pun berdoa layaknya seorang umat Kristen berdoa kepada Tuhannya. Tanpa ia sadari seorang pendeta datang menghampirinya. Ia langsung meminta maaf kepada pendeta tersebut karena telah mengunjungi rumah Tuhan umat Kristen yang memang bukan rumah Tuhannya. Ia mengatakan kepada pendeta bahwa ia seorang Muslim dan menceritakan semua hal yang telah ia hadapi. Sang pendeta menasehati Iqbal untuk tidak berputus asa, pendeta pun meyakinkan Iqbal untuk percaya kepada Tuhannya (Allah) dan meminta ampunan kepada Allah.
Keesokan harinya, Indri pacar Firman datang ke rumah Firman. Iqbal pun menasehatinya agar kembali ke ajaran Allah dan menjaga kesucianya sebagai wanita. Indri pun langsung pulang dan menangis dan Iqbal pun merasa bersalah kepada Indri atas apa yang telah ia katakan kepada Indri. Setelah beberapa hari kemudian, Indri kembali datang menghampiri Firman dengan wajah yang ceria menemui Iqbal. Indri pun mengajak Iqbal untuk mencari Firman yang belum pulang. Setelah mencari Firman kesana kemari, mereka merasa lelah dan beristirahat sebentar. Pada saat itulah Indri mencoba merayu Iqbal agar merasa risih dan pulang. Setelah itu, sahabat-sahabat Firman datang menemui Iqbal. Mereka menemukan Firman tertidur di tempat imam di sebuah musala. Mereka menanyakan kepada Iqbal apa yang telah terjadi kepada Firman. Iqbal mengatakan kepada mereka bahwa Firman sedang berusaha mendekatkan diri kepada Allah. Dan tidak lupa Iqbal juga mengingatkan kepada mereka untuk kembali ke ajaran Allah. Tanpa Iqbal sadari mereka sudah berniat untuk mendekati ajaran Allah dan menjauhi kemaksiatan yang telah mereka lakukan.
Masalah baru pun terjadi, pada saat Iqbal berada di kamar Firman tiba-tiba Indri masuk ke dalam kamar tersebut. Indri kembali merayu dan ingin memeluk Iqbal. Iqbal langsung menolaknya, tanpa ia sadari Firman melihat kejadian tersebut. Firman marah kepada Iqbal dan mengusirnya. Firman menantang dan menungu Iqbal di alun-alun. Saat mereka bertemu, Firman mengajak berkelahi Iqbal disaksikan sahabat-sahabatnya. Saat Iqbal terjatuh, Firman menyiramkan semangkuk sambal kemata Iqbal. Iqbal tak sadarkan diri dan dibawa ke rumah sakit. Saat ia sadar, ia tidak bisa membuka kedua matanya. Suatu hari, Parno datang menghampiri Iqbal dan menceritakan kepada Iqbal bahwa Firman telah menyesali perbuatanya dan ingin bunuh diri di kuburan. Iqbal langsung mencari Firman di sekitar kuburan. Di sana sudah banyak kerumunan warga dan wartawan, Iqbal mencoba merayu Firman agar tidak bunuh diri. Setelah berdialog lama, akhirnya Firman tidak jadi bunuh diri dan kembali ke ajaran Allah.
Setelah kejadian tersebut, beberapa minggu kemudian akhirnya kedua mata Iqbal sembuh dan pada saat itu pula Iqbal membentuk sebuah kelompok bersama dengan sahabat dan pengamen lainnya yang bernama Ashabul Kahfi. Seiring dengan berjalannya waktu Iqbal pun kini telah menghafal Alquran dan ia pun memutuskan untuk kembali ke pesantren Tegal Jadin.
Judul novel : Musafir Cinta
Pengarang : Taufiqurrahman Al-Azizy
Penerbit : Dive Press tahun 2007
Tebal halaman : 331 halaman
Penulis adalah guru Bimbel Gugusan Bintang YKIB

