Oleh Tsamrotul Ulum, S.P.
Buku seri Legenda Nusantara yang ditulis oleh G. Wu (Gatot Wuryadi) dan hak cipta dari PT PGN Persero Tbk merupakan buku yang menceritakan tentang legenda Nusantara dari berbagai provinsi yang ada di Indonesia. Buku ini disajikan sebanyak 33 judul yang diambil dari 33 provinsi yang ada di Indonesia. Buku ini dibuat dalam bentuk cerita bergambar dan penuh warna agar menarik minat baca anak-anak sehingga lebih mudah dalam mempelajari dan memahami budaya dan legenda Indonesia.
Bulan lalu penulis meresensi seri legenda nusantara “Si Pahit Lidah” yang berasal dari Provinsi Sumatra Selatan. Pada kesempatan kali ini, penulis akan meresensi cerita dari provinsi Sumatera Barat yang berjudul “Nagari Koto Nan Ampek & Koto Nan Gadang”.
Nagari Koto Nan Ampek adalah sebuah daerah yang terletak di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat. “Tuah Sakato” merupakan motto dari daerah ini, yang berarti untuk melaksanakan mufakat (musyawarah) merupakan suatu langkah yang bertuah bagi masyarakat. Tanah Minangkabau terkenal dengan rumah Gadangnya yaitu sebuah tempat yang melambangkan semangat demokrasi karena di sanalah tempat rakyat bermusyawarah.
Konon daerah tersebut dulunya merupakan kawasan hutan lebat, yang kemudian oleh masyarakat sekitar dijadikan pemukiman dan diberi nama Nagari Koto. Nagari artinya negeri sebagai sebutan kota atau daerah. Di daerah Minangkabau terdapat sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang bergelar Baginda mulia nan arif bijaksana, karena memang raja tersebut sangat arif dan bijaksana, sehingga rakyatnya pun dapat hidup aman, tentram dan makmur.
Sang Raja begitu peduli dengan rakyatnya, beliau membantu rakyatnya dalam bidang peternakan dan pertanian. Ternak-ternak dan hasil ladang dari masyarakat sebagian dijual ke negeri-negeri sekitarnya dengan harga yang cukup menguntungkan. Sehingga keadaan negeri dan rakyatnya sejahtera. Sang raja memiliki seorang permaisuri dan tiga orang putri yang masih kecil. Raja selalu meluangkan waktu untuk keluarganya. Raja juga sering mengajak putri sulungnya untuk berjalan-jalan ke pelosok desa untuk meihat kondisi rakyatnya, sehingga putri sulung mengetahui masalah yang dihadapi oleh kerajaan.
Waktu terus berjalan. Ketiga putri raja tumbuh menjadi gadis yang cantik dan cerdas. Terlebih putri sulung raja yang sudah berpikiran jauh lebih dewasa dan bijaksana dibanding adik-adiknya, sehingga membuat raja merasa sudah waktunya untuk menikahkannya. Tetapi raja belum memiliki calon yang sepadan, raja pun ingin memancang gelanggang di depan istana. Kemudian raja memanggil putri sulung untuk menemuinya di ruang keluarga dan menjelaskan rencananya. Keadaan sempat hening beberapa saat tetapi putri akhirnya menundukkan kepala dan menyetujui rencana tersebut.
Setelah membicarakan segala hal yang menyangkut penyelenggaraan gelanggang tersebut, para pengawal istana mulai menyebarkan pengumuman ke kerajaan-kerajaan dan penjuru negeri. Para pemuda banyak yang berminat mengikuti acara di gelanggang dan mulai giat berlatih setiap harinya. Sedangkan raja dan para pembesar kerajaan sibuk bermusyawarah untuk acara pembukaan. Pembukaan acara akan diisi dengan pemberian jamuan makanan yang enak dan lezat untuk para tamu undangan, raja pun mengadakan sayembara siapa yang dapat menangkap 5 ekor kerbau yang besar di hutan sebelah timur sana akan diberi hadiah. Para pengawal istana mulai menyebarkan informasi tersebut.
Rakyat sangat antusias, beberapa rakyat mulai berjalan menuju hutan yang dimaksud. Mereka mulai keluar-masuk hutan, menahan dingin, menahan panas, dan menyeberangi sungai. Hutan timur adalah hutan yang subur dan lebat, yang dipenuhi oleh binatang buas. Setelah beberapa hari perjalanan, akhirnya mereka sampai di tempat yang dimaksud tetapi mereka belum menemukan kerbau besar. Walaupun sampai sore hari mereka belum menemukan kerbau besar, mereka tetap bersemangat karena sangat menghormati Baginda mulia. Keesokan harinya mereka mulai melanjutkan perjalanan, beberapa sungai besar telah diseberangi dan beberapa binatang buas telah ditemui.
Akhirnya salah satu rombongan berteriak “Koto nan Ampek, Koto nan Ampek. Ini dia yang empat” benar saja mereka menemukan empat kerbau yang besar, sehat dan bersih. Untuk mengenang perjuangan mereka dan daerah tersebut, mereka memberinya nama “Koto nan Ampek” yaitu daerah yang subur seperti keempat kerbau itu. Karena masih kurang satu ekor kerbau, mereka melanjutkan pencariannya. Setelah menyusuri hutan dan bertarung dengan binatang-binatang buas, salah seorang berteriak “Koto nan Gadang, Koto nan Gadang, Inilah yang besar”. Untuk mengenang penemuan ini, maka mereka memberi nama daerah tersebut dengan naman “Koto nan Gadang yaitu tempat ditemukannya kerbau terbesar”. Mereka pun kembali ke istana dengan membawa 5 kerbau besar. Raja dan rakyat yang lainnya pun merasa senang dengan hal ini. Rombongan penetua dan pemuda itupun mendapat hadiah dari raja.
Acara di gelanggang akan segera dimulai. Semua rakyat merasa senang, para tamu juga mulai berdatangan. Suasana hari itu penuh suka cita, acara pembukaan dengan hidangan daging kerbau yang lezat dan dilanjutkan dengan pementasan tari-tarian. Kemudian dilanjutkan ke acara inti, Raja mengajak para tamu untuk menuju ke gelanggang. Pertandingan dimulai dan peserta mulai berjatuhan. Salah satu peserta yang mengikuti acara pertandingan di gelanggang adalah seorang putra mahkota yang tampan, dan sepertinya putri juga tertarik. Putra mahkota tersebut dapat mengalahkan lawannya dan dialah yang menjadi pemenangnya yang sekaligus akan menjadi suami putri sulung. Dan hubungan dua kerajaan berbeda daerah akan terjalin. Akhirnya putri sulung dan putra mahkota menikah, raja pun menggelar acara pesta rakyat sebagai hiburan atas pernikahan anaknya.
Kelebihan Buku :
- Ceritanya sangat menarik dan edukatif. Sehingga cocok untuk pendidikan karakter anak-anak.
- Disertai dengan gambar-gambar yang menarik, alur yang mudah dipahami dan bahasa yang ringan. Disertai tentang informasi daerah dari legenda tersebut berasal.
- Ada beberapa pesan moral yang sangat baik yaitu:
- Pentingnya seorang pemimpin yang arif dan bijaksana sehingga ia dihormati dan dicintai oleh rakyatnya.
- Sifat tidak mudah putus asa
- Kesabaran dan kerja keras akan membuahkan hasil manis.
Kelemahan Buku :
Ada gambar peperangan dan terluka. Lebih baik disamarkan atau diceritakan melalui tulisan (tidak perlu gambar) agar tidak ditiru oleh anak-anak.
Identitas Buku
Judul : Seri Legenda Nusantara “Nagari Koto Nan Ampek & Koto Nan Gadang”
Penulis : G. Wu
Editor : Kum Soe, Soebagiono, Khum, Talha, Andie.
Penerbit : Balai Pustaka
Tahun Dicetak : 2016 (cetakan kedua, Desember 2016)
Hak Cipta : PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk
ISBN : 979-690-756-9
EAN : 978-979-690-756-4

