*Oleh Qoniatul Qismah, S.Pd
Novel ini merupakan kisah inspiratif seorang anak yang bernama Alif yang tinggal di daerah terpencil Pulau Sumatera tepatnya di Desa Maninajau Minangkabau, Sumatera Barat. Setelah lulus SMP dia ingin melanjutkan sekolah ke SMA Bukittinggi, namun ibunya ingin dia melanjutkan sekolah agama saja. Ibunya ingin Alif seperti Buya Hamka, namun Alif bercita- cita seperti B.J Habibi. Alif tak ingin dirinya hanya terus di kampung. Ia sangat ingin merantau ke kota untuk menggapai cita-citanya. Banyak orang sukses di sana sehingga membuat ia termotivasi untuk merantau ke kota.
Suatu ketika ia mendapat surat dari pamannya yang sedang kuliah di Kairo. Beliau menyarankan untuk melanjutkan sekolah di Pondok Pesantren Madani di Ponorogo, Jawa Timur. Akhirnya Alif mengikuti saran pamannya dan dengan berat hati ibu dan ayahnya melepaskannya.
Alif berangakat ke Pondok Madani diantar oleh ayahnya. Dan di sinilah kisah Alif dimulai. Hari pertamanya di pondok dia terkesima dengan mantra ajaib berbahasa arab ”man jadda wa jadda” barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Di Pondok Madani Alif berkenalan dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung, dan Baso dari Gowa. Hari-hari Alif dihabiskan dengan belajar, belajar dan belajar. Mereka bukan hanya belajar AlQuran dan kitab tapi mereka juga belajar bahasa Arab dan bahasa Inggris, kesenian, pramuka dan ilmu pengetahuan lainnya.
Setiap sore menjelang adzan maghrib Alif bersama lima temannya memiliki kebiasaan unik. Mereka berkumpul di bawah menara masjid sambil memandang ke awan. Dengan membayangkan awan itulah mereka menggambarkan impiannya. Seperti Alif mengakui jika awan itu bentuknya seperti benua Amerika, yaitu negara yang ingin ia kunjungi kelak setelah lulus nanti . Begitu juga dengan yang lainnya menggambarkan awan itu seperti negara Arab Saudi, Mesir dan Benua Eropa.
Setelah melalui lika-liku di pesantren, akhirnya usai lulus mereka dipertemukan lagi di London. Mereka bernostalgia dan telah membuktikan impian dan cita-cita yang dulu dilukis saat berdiri di bawah masjid menara. Alif bersekolah dan bekerja di Amerika, Atang sudah delapan tahun menuntut ilmu di Kairo, Baso kuliah di Arab Saudi, ia mendapat beasiswa penuh, Raja di London, Said dan Dulmajid bekerjasama mendirikan sebuah pondok di Surabaya.
Kelebihan dan kekurangan buku :
Kelebihan : Novel ini cocok dibaca oleh semua kalangan baik dari kalangan anak kecil maupun orang dewasa. Novel ini menggambarkan sebuah persahabatan sehingga dapat dijadikan contoh yang baik bagi para pembaca.
Novel ini sangat inspiratif karena dapat mendongkrak semangat anak muda untuk menggapai cita-cita dan jangan pernah takut terhadap mimpi yakinlah bahwa Alloh telah memberikan kesuksesan untuk hambanya yang mau berusaha. Ingat”manjadda wajadda’’
Novel ini mampu mengubah tentang pola pikir masyarakat yang konservatif terhadap pesantren. Mereka menilai bahwa di pesantren hanya mempelajari ilmu agama saja, namun faktanya juga mempelajari bahasa Arab, bahasa Inggris, kesenian dan ilmu pengetahuan lainnya.
Kekurangan: Ada beberapa kata bahasa Arab yang tidak diterjemahkan sehingga mempersulit orang awam dalam memahami maknanya.
Novel ini tidak memberikan gambaran tokoh lain-lainnya secara jelas di akhir cerita perjalanan hidupnya.
Identitas buku :
Penulis : A. Fuadi
Penerbit Utama : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2009
Lembar Halaman : 423 Lembar
Cetakan: Cetakan Ketiga Puluh April 2021
ISBN: 978-979-2 2-4861-6
*Penulis resensi buku adalah guru penggerak Kampung Ilmu

