*Oleh A. Fauzi Miftahur Rohman, S.Pd.
Negeri di Ujung Tanduk karya Tere Liye merupakan novel fiksi politik yang menyajikan gambaran tajam tentang dunia kekuasaan, intrik politik, dan permainan kepentingan yang dibungkus dalam alur cerita penuh ketegangan, refleksi moral, serta kritik sosial yang kuat namun disampaikan secara halus dan cerdas. Novel ini seperti membuka tirai besar yang selama ini menutup panggung demokrasi, lalu membiarkan pembaca melihat apa yang sebenarnya terjadi di belakang layar.
Novel ini bercerita tentang Thomas, seorang konsultan politik yang ahli mengatur strategi di balik layar kekuasaan. Ia terbiasa bekerja dengan cara dingin dan rasional, memoles citra, mengendalikan opini publik, serta memenangkan pertarungan politik tanpa harus tampil ke depan. Bagi Thomas, politik adalah permainan persepsi siapa yang menguasai narasi, dialah pemenangnya. Situasi semakin rumit saat orang-orang terdekatnya ikut terancam. Apa yang awalnya hanya pekerjaan profesional berubah menjadi pertarungan hidup dan mati. Thomas tidak lagi bisa bersembunyi di balik strategi ia harus turun langsung menghadapi konsekuensi dari permainan yang selama ini ia kuasai.
Cerita dimulai dengan Setahun sebelumnya, dalam penerbangan menuju ke London, Thomas bertemu JD, mantan wali kota dan gubernur yang dikenal sebagai figur muda yang bersih dan sederhana. Pertemuan itu menjadi momen terpenting dalam hidup Thomas. Percakapan dengan JD membuat Thomas terinspirasi untuk terlibat dalam dunia politik. Dalam sosok JD Thomas menemukan jawaban dari pertanyaan dalam benaknya terkait sosok politikus dengan kemuliaan dan kelurusan hati.
Maka, Thomas menawarkan diri menjadi konsultan strategi demi mewujudkan penegakan hukum yang dikehendaki JD. Dan karena presiden merupakan pemegang kekuasaan tertinggi, maka cita-cita JD hanya bisa direalisasikan dengan menjadi presiden. Menjelang konvensi partai yang akan mengumumkan secara resmi kandidat presiden, mendadak terjadi peristiwa yang tidak diantisipasi Thomas. Terjadi ekskalasi besar-besaran dari peserta konvensi yang ditandai dengan manuver raksasa dari pihak lawan JD. Situasi yang tidak terduga ini membuat JD meminta Thomas yang berada di Hongkong untuk kembali ke Jakarta. Tapi sebelum Thomas meninggalkan Hongkong, ia ditangkap satuan khusus antiteror otoritas Hongkong.
Di dalam kapal yang digunakan untuk menjemput Thomas di Makau, ditemukan seratus bubuk kilogram bubuk heroin serta setumpuk senjata api dan peledak. Tidak ada hipotesis lain yang terbentuk di benak Thomas selain bahwa kejadian ini adalah salah satu agenda serius yang dijalankan pihak lawan JD.
Ditahannya Thomas di Hongkong, membuat ia tidak bisa hadir di konvensi partai. Untungnya ada Lee, pengusaha Hongkong yang dikalahkannya dalam pertarungan di Makau. Lee berhasil meloloskan Thomas dan mengatur perjalanan pulang Thomas ke Indonesia. Setibanya di Jakarta, Thomas dikejutkan dengan berita penangkapan kliennya. JD ditetapkan sebagai tersangka korupsi megaproyek tunnel raksasa sepaka menjabat sebagai gubernur ibu kota.
Penangkapan itu tak pelak lagi disinyalir Thomas sebagai upaya pembunuhan karakter untuk mencemarkan reputasi cemerlang JD. Kemungkinan besar, JD akan didiskualifikasi dari kandidat calon presiden partai. Maka sebelum pelariannya diketahui dari Hongkong dan menyebar ke seluruh jaringan interpol dunia dan menobatkannya menjadi buruan internasional, Thomas harus bergerak cepat memperjuangkan nasib kliennya. Karena seperti dugaan Thomas, ada kelompok yang disebut mafia hukum, bergerak di belakang pada setiap kejadian itu. Apakah Thomas bisa menghadiri konvensi partai dan mengembalikan kepercayaan semua pendukung JD? Thomas, mau tak mau, mesti merancang sebuah rencana agar bisa menghadapi tekanan demi tekanan yang akan dihadapinya.
Tidak hanya berupaya membawa keluar seorang saksi mahkota dari tahanan kepolisian, Thomas juga menggandeng Komisi Pemberantasan Korupsi, untuk menjalankan rencananya. Hingga pada akhirnya ia menyadari, sesungguhnya ia sedang berhadapan dengan para pendiri benteng kekuasaan yang mampu melakukan apa saja demi pencapaian tujuan mereka. Dan sebagai pemimpinnya adalah bedebah yang menyeruak dari puing-puing masa lalu Thomas. Diakhir cerita, Thomas bisa dibilang beruntung karena memiliki teman-teman yang peduli dan peka terhadap pekerjaannya. Thomas mengakhiri dan mendapat bantuan dari teman-temannya saat sedang terpojok.
Membaca buku ini ibarat menonton action politik, baik itu pertarungan fisik maupun pertarungan taktik dalam politik. Buku ini menjadikan kita semakin membuka ingatan akan apa yang terjadi di Indonesia.
Inti dari novel Negeri di ujung tanduk, seperti judulnya. Sebuah negara yang nyaris hancur karena banyaknya tokoh-tokoh yang seharusnya memikirkan kesejahteraan rakyat tapi ternyata tampil atas nama kepentingan. Merekalah para mafia hukum. Itulah sebabnya para pemangku kepentingan tersebut tidak senang ketika ada seorang kandidat calon presiden yang tidak sealur dengan mereka dan dipastikan akan membongkar semua yang tidak sesuai dengan hukum. Di Negeri di Ujung Tanduk kehidupan semakin rusak, bukan karena orang jahat semakin banyak, tapi semakin banyak orang yang memilih tidak peduli lagi.
Di Negeri di Ujung Tanduk, para penipu menjadi pemimpin, para pengkhianat menjadi pujaan, bukan karena tidak ada lagi yang memiliki teladan, tapi mereka memutuskan menutup mata dan memilih hidup bahagia sendirian. Tapi Negeri di Ujung Tanduk setidaknya, kawan, seorang petarung sejati akan memilih jalan suci, meski habis seluruh darah di badan, menguap segenap air mata, dia akan berdiri paling akhir demi membela kehormatan.
Kelebihan buku ini gaya penulisan Tere Liye yang mendalam membuat setiap adegan terasa begitu nyata. Pembaca bisa merasakan ketegangan dan konflik yang dihadapi oleh para tokoh, serta tema politik kuat dan relevan dengan kondisi nyata. Kekuranganya terkadang penulis terlalu fokus pada detail, yang membuat beberapa bagian terasa agak lambat. Bagi pembaca yang lebih suka alur cerita yang cepat, bagian-bagian tertentu bisa terasa terlalu panjang dan sedikit mengganggu alur cerita dan Pembahasan politik cukup berat bagi pembaca awam. (ykib/fauzi).
Identitas buku
Judul : Negeri di Ujung Tanduk
Penulis : Tere Liye
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2013
Tebal : 360 halaman
Jenis : Novel fiksi
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Kalitidu

