Overthinking is My Hobby, and I Hate It

*Oleh Christin Nur Aisyah, S.Sos.

Overthinking is My Hobby, and I Hate It adalah salah satu deretan buku karya Alvi Syahrin tentang self healing. Buku ini ditulis setelah karyanya dalam series self healing, yakni Insecurity is My Middle Name, dan Loneliness is My Best Friend. Alvi Syahrin banyak menulis buku tentang self improvement yang mengajak para pembacanya untuk memahami apa yang menjadi kekhawatiran dan apa yang menyebabkan hingga merasa tidak pantas yang dirasakan. Buku Overthinking is My Hobby, and I Hate It yang terbit pada tahun 2023 banyak membahas tentang kebiasaan orang-orang yang sering mengalami overthingking yang berlebihan sehingga berpengaruh pada value diri sendiri. Pada buku ke tiga series self healing ini, Alvi Syahrin tidak hanya membagi pengalaman pribadinya yang tidak luput dari overthingking, dan mengkhawatirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Tetapi juga strategi-strategi yang bisa kita terapkan untuk melawan berpikir yang berlebihan dan pertanyaan-pertanyaan yang relate dengan problem kita. Mulai dari kekhawatiran masa depan, pasangan, karir, value diri sendiri, dan ekspektasi orang lain terhadap kita.

Overthinking adalah monster yang sangat manipulatif sehingga dapat menghambat apa saja yang kita harapkan. Semakin lama kamu membiarkan suara ribut di dalam kepala, akan semakin menjadi-jadi suara tersebut sehingga dapat menjatuhkan harga diri kita. Menjadikan kita terpuruk hingga merasa kita tidak layak untuk orang lain. Tidak pantas mendapatkan penghargaan dan sebagainya. Melawan hal tersebut butuh rasa tidak nyaman dan berani keluar dari zona nyaman. Apabila terus menerus kita rawat atau biarkan karena merasa dilema, maka bersiap-siaplah jika kita akan tersingkirkan dari hal-hal baik yang seharusnya kita dapatkan. Sebab, overthinking akan membuatmu merasa gampang lelah dan tidak bersemangat untuk melakukan hal-hal positif.

Seringkali kita mengiyakan apa yang menjadi suara dalam pikiran kita, seperti “Kamu tuh, nggak dibutuhkan.”… “Bagaimana kalau kamu gagal lagi?” pada strategi yang pertama kita harus berani memutar balikan dari suara overthinking kita. Mencoba melawan dengan jawaban yang dapat mengafirmasi kita, sehingga membangkitkan kembali gairah untuk melakukan hal-hal yang positif dan berujung pada keberhasilan. Tentu kita butuh perlawanan seperti itu. Apabila tidak, maka kita akan terbelenggu dengan suara-suara yang hanya ingin menjatuhkan kita.

Mungkin akan terasa berat namun, overthinking adalah cara melindungi diri kita dari rasa kecewa dan gagal. Padahal hal itu sebenarnya racun untuk kita. Sehingga, kita perlu melakukan strategi yang kedua, yaitu menilik maksud busuk overthinking. Overthinking adalah cara kita melindungi diri sendiri tetapi terlalu overprotective dan tidak akan membawa kita kemana-mana. Kita terbelai agar tidak melakukan apa-apa, padahal dari kegagalan dan kekecewaan itulah kita bisa berkembang dan belajar mengambil langkah proses yang baru. Mulai membiarkan kalimat yang negatif di kepala kita dan menerimanya, tetapi harus memberi ruang pula untuk suara yang positif. Sehingga kita adil pada diri kita dan melawan setiap kata-kata negatif dengan afirmasi positif yang kita buat.

Karena biasanya, ketika overthinking menelusuk isi kepala kita, kita hanya patuh dan menganggapnya sebagai firasat yang betul terjadi. Lantas untuk strategi yang ketiga,  memanipulasi overthinking yang manipulatif. Ketika pikiran buruk mulai mencari cara agar kita tetap diam, bahkan biasanya akan memantik luka atau trauma yang pernah terjadi. Ini adalah jurus jitu yang semakin membuat kita akan patuh pada overthinking. Sehingga kita harus berani melakukan gebrakan pada diri sendiri. Mewajarkan diri kita jatuh, merasa sakit, kecewa, lelah dan terluka. Karena semua yang kita rasakan itu tidak akan membuat kita mati.

Kemudian, strategi keempat adalah berhenti sejenak memberi afirmasi dan mewawancarai diri sendiri. Kita mulai mengenali rasa trauma kita, apa yang menjadi sumber luka kita di masa lalu. Memberi afirmasi positif juga akan percuma jika kita tidak mengenal diri sendiri. Ketika kita sudah mengenal siapa kita, maka rasa takut, malu, dan cemas yang berlebihan tidak terlalu besar kita rasakan. Mungkin saja overthinking ini muncul sebab kita kurang diapresiasi dan sering dibanding-bandingkan. Orang-orang yang tidak pernah mengapresiasi serta membuat merasa kita cukup sejak awal, tidak akan pernah mengapresiasi dan membuat kita merasa cukup hingga akhir.

Strategi kelima adalah tantang overthinking dengan membuat tamparan pada diri sendiri. Membuat pertanyaan-pertanyaan apakah dengan rebahan kita bisa sukses? Lebih memilih lelah berjuang atau nyaman rebahan? Meskipun nantinya hasil tidak sesuai dengan apa yang kita perjuangkan dan ekspektasikan, melalui strategi keenam, yaitu berprasangka baik kepada Allah. Overthinking bisa datang kapan saja, tetapi dengan berhusnuzan kita mampu membunuhnya. Sebab, memilih berhusnuzan pada Allah kita tidak akan mempercayai lagi overthinking.

 Overthinking bukan takdir, firasat, dan pengontrol hidup kita. Strategi ketujuh jangan mau kalah. Kita adalah generasi yang terbiasa instan sampai melupakan progres. Progres itu pelan, kecil, dan tidak terlihat. Seperti ketidakmampuan kita melihat setiap inci pertumbuhan tubuh kita. Dan hanya karena tidak terlihat, kita tidak mempercayai progres. Strategi kedelapan, berani melepaskan keinginan yang membelenggu hati. Overthinking muncul ketika kita terlalu menginginkan sesuatu bahkan tidak rela kehilangan seseorang. Seperti pada strategi yang keenam, boleh kita menginginkan dan memperjuangkan sesuatu, tetapi lepaskan dan serahkan, percayalah bahwa Allah akan memberikan apa yang kamu butuhkan sesuai kebutuhanmu.

Strategi kesembilan kita harus lebih kejam dari overthinking. Membalas dendam dengan versi kita yang lebih baik. Bukan soal siapa yang menang dan kalah, tetapi tentang aku yang dulu vs aku yang sekarang. Sering kita terlalu memahami orang lain, sampai-sampai kita lupa untuk memahami diri kita sendiri. Ketika overthinking berkata “ Kayaknya dia sudah gak peduli, deh..” Cobalah untuk mengatakan, “Apakah aku bakal mati? Apakah hidupku akan kehabisan takdir-takdir baik hanya karna dia nggak peduli?”

Selanjutnya strategi kesepuluh, jika sebelum kita disuruh untuk kejam dan melawan. Pada strategi ini kita disuruh untuk menghadapi overthinking itu dengan lembut, dengan cara menerima dan jujur pada diri kita sendiri. Menerima bahwa setiap pertemuan ada perpisahan, menerima bahwa kehadiran sosok yang kita cinta juga akan pergi. Jujur atas rasa kecewa atau perasaan yang kurang enak kita rasakan. Dengan demikian, kita bisa mencoba tidak berlebihan dalam menghadapi kemungkinan yang tidak diinginkan.

Tidak ada salahnya untuk menerima dan mengakui kekesalan serta ketidak berdayanya diri, sebab ini adalah awal agar kita tidak menuntut diri sendiri untuk menjadi manusia yang sempurna. Selalu menghakimi kesedihan tanpa sadar kebahagiaan juga pernah kita rasakan. Ini sejalan dengan strategi kesebelas, yakni mengakui kekalahan. Seperti harus mengikuti alur manipulatif overthinking. Semisal contoh, kita memutuskan untuk berpisah dari kekasih yang memang membawa pengaruh buruk untuk kita dan overthinking berkata, “Gimana kalo aku nggak bisa lupain dia?” tetapi coba ingat pada strategi keenam dan katakana, “Allah tidak pernah kekurangan hamba-hambaNya yang lebih baik, lebih menghargai, lebih penyayang.” Semakin aku berjuang untuk diriku sendiri, semakin aku merasa layak untuk dicintai. Semakin kamu berjuang untuk mendapatkan cinta Allah, semakin kamu akan merasa dicintai.

Strategi kedua belas ingatlah kisah-kisah orang yang pernah melalui kesedihan yang begitu pelik dan panjang, lalu lihat bagaimana kisah itu berakhir. Jadi ketika overthinking mulai menyebabkan angin ribut di dalam kepala, dan di dalam angin tersebut muncul kalimat, “Gimana kalau nggak ada lagi kebahagiaan yang tersisa untukku?” kita bisa memberi contoh kisah-kisah seseorang yang pernah melalui hal-hal yang berat dalam hidupnya dan melihat juga bagaimana akhirnya. Bisa mengambil kisa ujian kehidupan Nabi Yusuf yang dibuang oleh kakaknya, Maryam yang menjadi buah bibir karena hamil tanpa disentuh laki-laki, dan mungkin orang-orang terdekat kita. Jika Allah mampu menyelamatkan mereka bagaimana mungkin jika Allah tidak mampu menolong kita. Bukankah Allah telah berjanji bahwa bersama kesulitan ada dua kemudahan.

Strategi ketiga belas, lakukan hal-hal yang menurut overthinking itu berbahaya, padahal tidak berbahaya. Ketika kita terlalu memupuk overthinking, akan semakin menjalar pada hal yang sepele. Contoh, “Aku takut berenang, nanti kalau aku tenggelam, lalu mati gimana?” Ingat bahwa overthingking adalah cara kita terlalu overprotective pada diri sendiri. selai itu tidak berbahaya, maka lakukan. Jika kita taku berenang maka jawabannya, “Aku celupkan diriku ke kolam renang, melihat dunia di bawah air tapi, tetap ada teman yang mengawasi.” Bila takut kehujanan, ya, kita terima dan lawan. Hitung-hitung meromantisasi melangkah di bawah hujan, sekaligus merealisasikan masa kanak-kanak.  

Strategi terakhir adalah jangan pernah sama sekali menyisipkan rasa bangga atas apa yang pikiran kita telah skenariokan sebelumnya. Jadi ketika apa yang dikhawatirkan terjadi, jangan pernah patuh pada overthinking. Sehingga menjadikan hal itu sebuah firasat. Coba tanamkan dalam pikiran bahwa kejadian itu memang butuh terjadi dan itu bukan akhir kisah. Kegagalan ini yang membuat kisahnya lebih menarik untuk diikuti, karena ada perjuangan di situ.

Jadi, overthinking adalah anomali setiap manusia yang dapat berdampak buruk seperti menghambat langkah untuk berkembang. Namun, kadang kita juga butuh benar-benar mendengarkannya, meniliki kepada diri sendiri, “Kenapa suara ini datang?” Sebab, terkadang dia punya opini yang kita butuhkan. Contoh overthinking yang perlu kita perhatikan, ingin meninggalkan pekerjaan karena setelah diselidiki, ternyata ada unsur keharaman. Meninggalkan circle pertemanan yang membawa pengaruh buruk dan menyimpang. Dan muncullah juga keraguan pengambilan keputusan. Kita harus memikirkan pro dan kontra dengan bertanya kepada orang-orang terpercaya, berdoa kepada Allah. Tidak ada salahnya mengambil keputusan, sebab dari situ kita akan menemukan banyak pelajaran.

Dari overthinking dan 14 strategi yang diberikan, kita dapat mengenali, melawan, hingga berdamai dengan pikiran negatif yang manipulatif. Buku ini menekankan pentingnya afirmasi positif, mengenal diri, dan berserah kepada Tuhan sebagai kunci melawan overthinking, sekaligus mengajak kita untuk tidak takut gagal dan terus bertumbuh. Mari kita mulai menerima kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, jangan membuat kita tertahan untuk melangkah, namun sebaiknya kita coba analisis apa baik dan buruknya. Sehingga kita tidak terkalahkan dengan pikiran kita sendiri. (ykib/christin).

Identitas Buku

Judul buku      : Overthinking is My Hobby, and I Hate It

Penulis             : Alvi Syahrin

Penerbit           : Alvi Ardhi Publishing

Tahun terbit     : 2023

Tebal halaman : 268 halaman

 

*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Padangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *