*Oleh Tsamrotul Ulum, S.P.
Para Pencerah Hati dan Pikiran Umat. Terdengar judul buku yang cukup menarik dan menginspirasi. Bahkan seperti sebuah angin segar di tengah polemik dan tipu daya duniawi. Kehidupan saat ini yang hampir didominasi dengan kebohongan, ketamakan, kecurangan, ketidakadilan, dan kemunafikan. Merajalelanya korupsi, kolusi, dan nepotisme yang membuat krisis kepercayaan melanda.
Buku karya Jamal Ma’mur Asmani ini memberikan sudut pandang berbeda dari “degradasi kepercayaan” kepada para pemimpin. Karena buku ini membahas tentang peran para ulama Nusantara atau pemimpin kultural yang dekat dengan rakyat yang selalu membimbing mereka supaya terbangun kedamaian hidup, keadilan sosial, moralitas agung, stabilitas politik dan harmoni sosial. Yang mana terdapat peran ganda dari para ulama Nusantara. Di satu sisi para ulama merupakan guru atau sumber ilmu agama, sumber keteladanan akhlak dan di sisi lain mereka juga ikut “turun gunung” ke gelanggang politik, ekonomi, aktivisme sosial sebagai jangkar Bangsa.
Ulama adalah orang yang memiliki ilmu dengan tujuan mendapat ridha Allah SWT. Ulama akhirat adalah ulama yang mengedepankan ilmu dalam setiap kebijakannya. Seorang ulama tidak menggunakan ilmunya untuk kepentingan duniawi ada 5 tandanya yaitu :
- Selaras antara perkataan dan perbuatannya. Menjauhi perdebatan dan kemegahan dunia.
- Tidak terperdaya oleh penguasa, justru menjadi penasihat bagi para penguasa.
- Tidak tergesa-gesa memberikan fatwa hukum sebelum mengkaji secara mendalam.
- Memiliki kompetensi sosial yaitu membaur dan menyelesaikan problematika masyarakat.
- Memiliki kompetensi renaissance, yaitu kemampuan mencerahkan pemikiran dan menginspirasi sebuah perubahan positif di tengah masyarakat.
Seorang ulama yang berperan sebagai pencerah hati dan pikiran umat juga memiliki tanggung jawab besar dalam membangun umat dan bangsa secara keseluruhan. Di antaranya yaitu:
- Tanggung jawab keagamaan. Ulama memberikan pemahaman akidah dan moralitas secara benar dan membimbing umat menuju jalan yang diridhai Allah
- Tanggung jawab keilmuan. Ulama mengajarkan ilmu Hablumminallah (hubungan manusia dengan Allah) dan ilmu Hablum minannas (hubungan dengan sesama manusia).
- Tanggung jawab pendidikan. Mengajarkan kejujuran, tanggung jawab dan persaudaraan.
- Tanggung jawab perjuangan. Yaitu berjuang dan berdakwah menyebarkan agama Islam rahmatan lil alamin.
- Tanggung jawab kaderisasi, karena perjuangan Islam membutuhkan kontinuitas sepanjang masa.
Berikut para ulama Nusantara yang menginspirasi dan sebagai pencerah di tengah kejahiliyahan yang masih ada.
- K.H. Hasyim Asy’ari (Mahaguru Kiai Nusantara)
Beliau adalah Hadratusyaikh atau mahaguru karena kiprah dan perjuangannya menembus batas-batas dinding pesantren. Beliau salah satu Pahlawan Nasional, perintis Pesantren Tebu Ireng dan pendiri Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926. NU adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia. Berkat kegigihannya dalam mengembangkan pesantren dan berhasil mencetak santri-santri luar biasa, bahkan juga berhasil menciptakan karya-karya yang masih dipakai hingga sekarang. Hal ini membuktikan bahwa K.H. Hasyim Asy’ari adalah seorang Mahaguru, pahlawan Nasional, aktivis, intelektual yang menjadi pelita pada gelapnya dunia.
- K.H. Mahfudz Anwar, pakar Astronomi NU
K.H. Mahfudz Anwar adalah seorang ulama karismatik yang menguasai 3 cabang ilmu secara mendalam yaitu Fiqih, tafsir dan ilmu Falak (astronomi). Selain itu beliau juga dikenal sebagai ahli hadist, ahli tasawuf dan ahli bahasa. Tetapi beliau memilih menekuni ilmu Falak. Momentum paling umum dalam implementasi keilmuan ini adalah ketika penetepan awal Ramadan dan 1 Syawal.
- K.H. A. Mustofa Bisri, Ulama santun yang dekat dengan umat
Beliau adalah ulama multitalenta yaitu sebagai mubaligh yang ceramahnya selalu dinanti-nanti umat baik dari dalam maupun luar negeri, sebagai kolumnis yang produk pemikirannya kerap merombak kemapanan, sebagai sastrawan dan budayawan, sebagai organisator yang jiwa kepemimpinannya teduh, santun dan melindungi umatnya. Rumahnya sudah seperti rumah rakyat karena semua orang tanpa memandang status sosial, bisa datang mengunjungi dan menemui beliau dengan membawa beragam persoalan.
Dari beberapa biografi ulama-ulama di atas, dapat membuktikan bahwa peran ulama dalam masyarakat sangat vital. Karena tugas dan tanggung jawab ulama dalam membangun peradaban Islam yang damai, berakhlak, membangun moralitas, dan menjaga harmoni sosial.
Kelebihan buku: banyak mengangkat tokoh-tokoh ulama besar yang berpengaruh dan dekat dengan budaya Indonesia. Biografi yang disajikan lengkap.
Kekurangan buku: ada kalimat yang diulang-ulang dan minim ilustrasi sehingga tampilan isi terkesan monoton. (ykib/ulum).
Identitas Buku
Judul : Para Pencerah Hati dan Pikiran Umat (Inspirasi-inspirasi dari Para Ulama Nusantara)
Penulis : Jamal Ma’mur Asmani
Penerbit : Diva Press
Jenis buku : Nonfiksi / Keislaman / Biografi inspiratif
Ketebalan buku : 290 halaman, 14 x 20 cm
ISBN : 978-623-189-222-5
*Penulis resensi buku adalah Kepala Kampung Ilmu Purwosari

