Oleh Tsamrotul Ulum, S.P.
Buku seri pahlawan Indonesia yang ditulis oleh G. Wu (Gatot Wuryadi) dan hak cipta dari PT PGN Persero Tbk merupakan buku yang menceritakan tentang pahlawan-pahlawan yang ada di Indonesia. Buku ini diterbitkan sebagai wujud komitmen (PGN) terhadap kemajuan dunia pendidikan. Buku ini dibuat dalam bentuk cerita bergambar dan penuh warna agar menarik minat baca anak-anak sehingga lebih mudah dalam mempelajari dan memahami isi cerita serta mengenal lebih dekat para pahlawan Indonesia.
Resensi buku kali ini tentang pahlawan Sultan Ageng Tirtayasa yang berasal dari tanah Banten. Beliau berjuang dengan sepenuh tenaga hingga sampai titik darah penghabisan dalam memperjuangkan dan mempertahankan wilayah Banten karena merupakan tanah kelahiran dan tanah leluhur.
Tahun 1602, Vereenidge Oostindische Compagnie atau yang lebih dikenal dengan sebutan VOC yang merupakan kelompok perdagangan Belanda mulai datang ke Indonesia. Belanda datang dan mengadakan hubungan dagang dengan Indonesia lebih tepatnya daerah Banten karena Banten terkenal mempunyai hasil rempah-rempah yang melimpah. Awal kedatangan Bangsa Belanda ini disambut dengan baik oleh warga pribumi.
Tahun 1631 di Banten lahirlah seorang bayi laki-laki dari pasangan Sultan Abdul Ma’ali dan Ratu Martakusuma yang diberi nama Sultan Ageng Tirtayasa. Ketika menginjak usia 9 tahun Sultan Ageng Tirtayasa diberi gelar Pangeran Surya oleh ayahnya dengan harapan bahwa beliau dapat menjadi pemimpin seterusnya ketika sang ayah telah wafat kelak. Tidak berapa lama kemudian pada tahun 1650, pada suatu malam istana sedang berduka karena raja mereka yaitu Sultan Abdul Ma’ali meninggal dunia. Sultan Ageng Tirtayasa sangat sedih dan menangis tersedu tetapi sang kakek mencoba untuk terus menenangkannya. Setelah sang ayah meninggal, Sultan Ageng Tiryasa dinobatkan sebagai Sultan Muda yang bergelar Pangeran Ratu atau Pangeran Dipati. Dan menunggu sampai beliau dewasa, kekuasaan sementara ini dipegang oleh sang kakek yaitu Sultan Abdul Mufakir Mahmud Abdul Kadir.
Waktu terus berlalu, kini Sultan Ageng Tirtayasa sangat dekat dengan kakeknya. Mereka sering berjalan-jalan untuk melihat daerah dan rakyatnya. Sultan Ageng prihatin dengan beberapa keadaan rakyatnya yang miskin dan kelaparan. Saat tiba di pelabuhan Kerajaan Banten mereka melihat aktivitas yang sangat ramai di sana. Banyak kapal-kapal negara lain terlebih kapal negara Belanda yang berlabuh di sana. Tiba-tiba tak jauh dari tempat mereka berdiri ada perilaku kekerasan dan penindasan terhadap beberapa rakyatnya. Sultan Ageng Tirtayasa ingin sekali menolong rakyatnya dan menghentikan perilaku kekerasan tersebut. Tetapi kakek memilih pergi dan mengajak Sultan Ageng untuk bergegas pulang. Sultan Ageng Tirtayasa merasa bingung mengapa kita tidak bisa menolong mereka padahal kita ini adalah keluarga kerajaan. Sang kakek bersikukuh untuk mengajaknya pulang dan akan menjelaskan semuanya di istana nanti.
Tibalah Sultan Ageng Tirtayasa dan kakek di istana. Sesuai janjinya kakek akan menjelaskan semua kejadian tadi, kemudian kakek memberikan sebuah buku kepada Sultan Ageng yang ternyata berisi perjanjian antara Kerajaan Banten dengan Belanda. Inti dari perjanjian tersebut adalah tentang monopoli perdagangan rempah-rempah. Sehingga dengan adanya monopoli tersebut, Kerajaan Banten tidak dapat menjual hasil rempah-rempahnya ke negara lain dan menyebabkan banyak rakyat di Banten yang miskin dan kelaparan. Mengetahui hal tersebut Sultan Ageng tidak terima, beliau marah dan mulai berpikir keras bagaimana caranya memberikan pelajaran kepada Belanda yang licik itu. Bahkan Sultan Ageng rela jika harus terusir dari istana tetapi beliau dapat mendepak Belanda dari Bumi Banten. Sejak kejadian tersebut, sang kakek mulai sakit-sakitan. Sultan Ageng kemudian melihat kondisi kakeknya tetapi kakek telah meninggal dunia. Sultan Ageng menangis, bersedih, merasa bersalah dan ingin marah kepada kejadian yang menimpanya.
Setelah kakek wafat, maka Sultan Ageng Tirtayasa dinobatkan sebagai Raja Banten pada tahun 1651. Paman dari Sultan Ageng berpesan kepadanya untuk jangan membiarkan tanah Banten ini dikuasai orang-orang asing itu atau Belanda. Sultan Ageng pun berjanji akan menepati pesan dari pamannya meskipun harus bertaruh nyawa.
Tidak lama berselang Sultan Ageng Tirtayasa akhirnya menikah dan mereka dikaruniai dua orang putra yaitu Pangeran Gusti dan Pangeran Purbaya. Pada suatu malam Sultan Ageng merasa gelisah dengan perjanjian Kerajaan Banten dan Belanda. Sang paman lalu memberikan saran untuk melanggar perjanjian tersebut meskipun nanti resikonya besar. Dengan melanggar perjanjian tersebut artinya semua negara boleh berdagang dengan Kerajaan Banten. Kemudian Sultan Ageng membakar perjanjian tersebut dan mengumumkan perdagangan bebas di Banten. Hal tersebut membuat Belanda marah dan mulai muncul perlawanan dari pihak Belanda. Tetapi rakyat yang selama ini memendam kekesalan juga melakukan perlawanan terhadap pihak Belanda. Rakyat Banten juga membuka jalur laut yang diblokade oleh Belanda. Rakyat Banten pun juga membakar dan menghancurkan kantor perdagangan Belanda. Kemenangan pun diraih oleh rakyat Banten. Akhirnya pelabuhan Banten menjadi pelabuhan perdagangan bebas. Sultan Ageng Tirtayasa berharap semoga dengan perdagangan bebas ini dapat membuat kehidupan rakyatnya lebih makmur.
Mendengar kejadian tersebut pihak Belanda tidak terima. Mereka akan melakukan serangan balasan kepada Banten. Tidak kalah taktik, kerajaan Banten pun mulai menyusun strategi untuk menghadapi serangan balasan dari Belanda tersebut. Pertempuran pun terjadi dan akhirnya dimenangkan oleh rakyat Banten. Tidak tinggal diam Belanda melakukan politik boikot yaitu dengan menembaki setiap kapal asing yang mendekati pelabuhan Banten. Sehingga membuat kapal-kapal asing tersebut enggan berlabuh dan kembali ke negaranya. Hal tersebut membuat perdagangan di daerah Banten menjadi sepi. Sultan Ageng Tirtayasa berpikir keras untuk menghadapi hal ini. Kemudian paman datang dan memberikan saran agar Sultan Ageng Tirtayasa menggunakan teknik berunding, tetapi dengan membuat perjanjian baru yang lebih menguntungkan pihak Banten. Tetapi pihak Belanda juga mengajukan persyaratan yaitu 1. Gencatan senjata 2. Banten haru mengganti kerugian 1000 ekor sapi dan 500 kerbau 3. Belanda boleh membuka kantor lagi di Banten. Akhirnya perjanjian baru itu pun disetujui oleh kedua belah pihak.
Seiring berjalannya waktu, kedua anak Sultan Ageng Tirtayasa yaitu Pangeran Gusti dan Pangeran Purbaya mulai beranjak dewasa tetapi mereka sering bertengkar. Untuk melerai pertengkaran Sultan Ageng Tirtayasa mengirim Pangeran Gusti untuk berangkat haji, dahulu untuk pergi haji membutuhkan waktu 2 tahun. Selama Pangeran Gusti tidak berada di istana, Sultan Ageng Tirtayasa mulai melatih anak keduanya yaitu Pangeran Purbaya untuk berperang dan memimpin kerajaan nantinya. Waktu berlalu, Pangeran Gusti yang telah pulang haji kini disebut Pangeran Haji. Dan ia kaget ketika Pangeran Purbaya menggantikan sang ayah untuk menjalankan pemerintahan di kerajaan Banten. Tentu saja hal ini membuat Pangeran Haji marah dan tidak terima. Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh Belanda untuk mengadu domba keluarga kerajaan Banten.
Belanda membujuk Pangeran Haji untuk bekerja sama dengannya agar dapat mengalahkan Sultan Ageng Tirtayasa dan Pangeran Purbaya. Pada tahun 1683 Sultan Ageng Tirtayasa akhirnya berhasil ditangkap Belanda dan dibuang ke Batavia. Tidak tinggal diam, Pangeran Purbaya beserta pasukan berkali-kali mencoba membebaskan Sultan Ageng Tirtayasa, tetapi usahanya selalu gagal. Di dalam penjara Sultan Ageng Tirtayasa merenungi nasibnya, apa salahnya sehingga anak pertamanya bisa berbuat durhaka kepadanya. Beliau berharap kisahnya ini dapat dikenang oleh anak keturunanya sampai akhir jaman, tentang betapa liciknya kolonialisme Belanda itu yang menghalalkan segala cara untuk mengusai daerah jajahannya. Akhirnya pada tahin 1692 Sultan Ageng Tirtayasa wafat dan dimakamkan di pemakaman kerajaan. (*/ykib).
Kelebihan Buku :
- Ceritanya sangat menarik dan edukatif. Sehingga cocok untuk pendidikan karakter anak-anak.
- Disertai dengan gambar-gambar yang menarik, alur yang mudah dipahami dan bahasa yang ringan.
- Pada cerita juga diselingi lelucon atau bahasa kekinian yang membuat pembaca tidak tegang dan tidak kaku saat membaca cerita pahlawan ini.
- Ada beberapa pesan moral yang sangat baik yaitu:
- Kesabaran dan kerja keras akan membuahkan hasil Usaha Sultan Ageng Tirtayasa dalam menghadapi Belanda sering mendapat kemenangan.
- Jika kita menghadapi masalah, jangan emosional dan gegabah dalam mengambil keputusan.
- Jangan menjadi anak durhaka, karena akan merugikan dirimu sendiri dan orang-orang disekitarmu.
Kelemahan Buku :
- Ada beberapa alur cerita yang dilewati/dilompatii. Seperti tidak dijelaskan detail dengan siapa Sultan Ageng Tirtayasa menikah.
- Tidak perlu memunculkan gambar orang yang merokok, karena buku ini kebanyakan ditujukan untuk anak usia sekolah.
- Sebaiknya ditambah kosakata unik dari daerah asal pahlawan dalam cerita. Misalnya ditambah beberapa dialog menggunakan bahasa Banten maupun bahasa Belanda.
Identitas Buku
Judul : Seri Pahlawan Indonesia “Sultan Ageng Tirtayasa”
Penulis : G. Wu
Editor : Kum Soe, Soebagiono, Khum, Talha, Andie.
Penerbit : Balai Pustaka
Tahun Dicetak : 2016 (cetakan ketiga, Desember 2016)
Hak Cipta : PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk
ISBN : 979-690-756-9
Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

