Ronggeng Dukuh Paruk

Oleh Puguh Prianggoro, S.Pd.

Novel Ronggeng Dukuh Paruk merupakan sebuah novel karya Ahmad Tohari. Ahmad Tohari Lahir di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah pada 13 Juni 1948. Ahmad Tohari adalah sastrawan  yang terkenal dengan novel triloginya Ronggeng Dukuh Paruk yang ditulis pada tahun 1981. Dalam penggabungan trilogi ini ada beberapa judul yaitu Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dinihari, dan Jantera Bianglala. Novel Ronggeng Dukuh Paruk ini pertama kali terbit pada tahun 1982 dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Novel ini juga telah diadaptasi ke dalam sebuah film dengan judul Sang Penari. Dalam film Sang Penari yang diadaptasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk ini menceritakan persis seperti yang ada dalam novel dan mampu membawa penonton lebih menikmati alur cerita yang disuguhkan walau dalam filmnya sendiri memiliki ending yang tidak setragis dalam novelnya.

Novel Ronggeng Dukuh Paruk ini menceritakan seorang ronggeng  bernama Srintil yang berada dari Dukuh Paruk yang terpencil, miskin dan tersisih dari peradaban yang lebih maju. Dukuh Paruk sendiri merupakan sebuah dukuh yang sangat memegang erat kepercayaan yang telah diwariskan oleh leluhurnya tentang ronggeng. Seluruh warga Dukuh Paruk memiliki sebuah kebanggan yang tinggi akan nilai seorang ronggeng yang dapat menyanyi dan menari dengan indah. Banyak hal menarik yang dapat kita temui dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk ini, mulai dari nilai-nilai kemanusiaan, penghormatan kepada perempuan, HAM dan nilai moral yang sangat kental dalam ceritanya.

Novel Ronggeng Dukuh Paruk ini pertama kali diceritakan tentang sebuah dukuh yang bernama Dukuh Paruk. Dukuh Paruk merupakan sebuah dukuh yang terpencil dan miskin, warga Dukuh Paruk sendiri merupakan orang-orang yang kurang dalam hal pendidikan namun mereka dapat hidup dengan damai bersama alam. Warga Dukuh Paruk sangat memegang erat kepercayaan dari leluhurnya Ki Secamenggala yang sudah menjadi Bromocorah di sana. Seluruh warga meyakini leluhurnya memberkati Dukuh Paruk dengan seorang ronggeng yang pasti akan terkenal, bahkan dapat dikatakan Dukuh Paruk tanpa ronggeng merupakan Dukuh Paruk yang kehilangan identitasnya.

Suatu hari ada seorang anak perempuan berusia sekitar sebelas tahun yang bernama Srintil yang terlihat pandai menyanyi dan menari di bawah pohon nangka bersama ketiga temannya Rasus, Warta, dan Dasun. Ketiga teman Srintil ini bersamaan mengiringi Srintil menari dengan menirukan suara calung yang khas dalam pementasan ronggeng. Srintil merupakan cucu dari Sakarya. Saat itu Sakarya tidak sengaja melihat kebolehan Srintil dalam menyanyi dan menari. Sakarya beranggapan bahwa kali ini cucunya telah dimasuki indung dari ronggeng Dukuh Paruk dan menceritakan apa yang dilihatnya kepada Kertareja seoarang dukun ronggeng di Dukuh Paruk yang bertugas melatih ronggeng supaya dapat bernyanyi dan menari dengan lebih bagus. Singkat cerita Srintil telah menjadi seorang ronggeng kebanggan Dukuh Paruk, namun berbagai macam masalah mulai muncul dalam kehidupan Srintil, mulai dari ritual-ritual yang sulit untuk dilakukannya supaya bisa menjadi ronggeng dan kisah cinta Srintil yang mulai tumbuh pada teman masa kecilnya yaitu Rasus dan harus kandas karena Rasus tidak setuju dengan pilihan Srintil untuk menjadi seorang ronggeng yang pada saat itu merupakan menjadi perempuan yang harus dapat memuaskan hasrat dari para laki-laki. Banyak hal dilalui Srintil mulai dari kesenangan dan kesedihan saat menjadi ronggeng, puncak dari kesedihan atau kesengsaraannya adalah saat Srintil dan Dukuh Paruk terseret dalam kerusuhan Parta Komunis yang saat itu ingin berkuasa. Saat kerusuhan itu rumah-rumah di Dukuh Paruk dibakar dan banyak orang yang ditahan karena dicurigai warga Dukuh Paruk terlibat dalam kampanye-kampanye dan kerusuhan kala itu tanpa terkecuali Srintil. Dari semua warga Dukuh Paruk Srintil telah ditahan dalam penjara selama 2 tahun. Selama dalam penjara Srintil telah merasakan kesengsaran hidup seperti dalam neraka. Walau sudah dibebaskan pun Srintil masih mengalami trauma yang mendalam tentang pengalamannya 2 tahun tersebut.

Dua tahun telah berlalu dan Srintil sudah bisa pelan-pelan memulai kehidupannya seperti biasa namun masih tetap dibayang-bayangi oleh rasa trauma. Srintil mencoba memberanikan diri untuk kembali membuka hatinya terhadap seorang laki-laki bernama Bajus, Bajus adalah seorang yang memiliki sifat baik hati dan peduli kepada Srintil dan orang-orang terdekatnya namun dibalik semua kebaikan Bajus ini dia memiliki sifat maksud yang buruk, di mana suatu ketika Srintil yang sudah mulai yakin dengan Bajus diajaknya ke kota dan menemui bosnya Bajus, saat menemui bosnya ternyata Bajus memiliki niat untuk memberikan Srintil kepada bosnya untuk dijual suapaya dia bisa memenangkan tender sebuah proyek. Bagai petir menyambar Srintil yang sebelumnya sudah mulai melupakan trauma kehidupannya namun sekarang dia mendapatkan pengalaman hidup yang lebih menyakitkan yang membuat Srintil menjadi linglung dan tidak sadarkan diri dalam artian menjadi gila. Rasus yang kini telah menjadi seoarang tentara telah kembali pulang ke Dukuh Paruk setelah tugasnya di Kalimantan selesai kaget melihat keadaan Srintil yang memprihatinkan dan memilih untuk merawat Srintil.

Dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk ini memiliki beberapa kelebihan yaitu cerita yang kental akan nilai kemanusiaan, HAM, dan penghormatan pada perempuan. Dalam novel ini juga mengajarkan kita hendaknya selalu sadar dan mengingat tentang adanya Tuhan dan tidak seharusnya hanya mempercayai hal-hal negatif atau takhayul. Untuk kekurangan novel ini, dari pembawaan cerita yang sedikit bertele-tele dalam menggambarakan suasana desa. Karena novel ini merupakan novel dewasa juga memiliki kata-kata yang kasar dan tidak sepatutnya untuk ditiru. (*/ykib)

Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Kalitidu

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *