*Oleh Umi Latifah, S.Pd.
Buku yang berjudul “Saat Semua Runtuh, Aku Masih Punya Diriku Sendiri” yang ditulis oleh Ujwar Firdaus merupakan cerita nonfiksi yang bergenre pengembangan diri. Melalui buku ini, penulis membagikan pengalaman pribadi di mana pada tulisan ini berkaitan dengan bagaimana menghadapi berbagai fase sulit dalam pencarian jati dirinya, di dalam buku ini penulis juga memberikan pandangan mengenai betapa pentingnya mencintai diri sendiri dan menghargai diri sendiri.
Setiap tulisan dalam buku ini, penulis mengajak pembaca untuk merefleksikan kehidupannya, berdamai dengan diri sendiri serta kembali menemukan jati dirinya yang mungkin sempat hilang, mungkin dikarenakan luka atau trauma tertentu.
Buku yang dibuka dengan pertanyaan intropeksi diri “Sejauh ini, apa penghargaaan yang pernah kamu berikan untuk dirimu sendiri?” adalah bentuk ajakan dari penulis kepada pembaca untuk melihat lebih dalam bagaimana kita memperlakukan dan menghargai diri sendiri. Melalui tulisan-tulisan dalam buku ini, penulis mengingatkan bahwa tidak seharusnya kita bersikap terlalu keras terhadap diri sendiri, serta pentingnya menghargai setiap proses dan menyadari bahwa setiap manusia itu unik dan memiliki keistimewaan yang tidak bisa dibandingkan satu sama lain.
Buku ini juga memberikan gambaran tentang proses penyembuhan batin, penerimaan diri dan ketangguhan dalam menghadapi krisis emosional. Banyak orang di masa kini, mungkin merasa hancur karena hidup tak berjalan sesuai harapan, gagal dalam meraih mimpinya, ditinggalkan orang yang dicintai, atau bahkan kehilangan arah hidup. Dalam kondisi yang seperti itu, penulis mengingatkan bahwa kita masih punya satu hal yang bisa diandalkan yakni diri sendiri.
Penulis menekankan bahwa setiap orang punya cara sendiri-sendiri, punya cerita sendiri-sendiri dan punya kebiasaan sendiri-sendiri. Maka, ketika kita sadar akan adanya perbedaan itu maka lakukanlah kehidupanmu sebagaimana mestinya. Ada salah satu tulisan dalam buku ini yakni “Jika kamu menginginkan kehidupan yang lebih baik, ciptakan kehidupan itu lewat tanganmu sendiri, jangan melepas paksa semua yang sudah Tuhan titipkan hanya karena merasa orang lain beruntung daripada kamu”.
Kadang, ucapan “ I love you” tidak selalu berarti bahwa kita benar-benar menyayangi diri sendiri, melainkan ucapan itu hadir untuk membuat kita melewatkan banyak hal. Saat tubuh dan pikiran lelah tidak apa-apa untuk berhenti sejenak, ketika ingin menangis, menangislah, jika merasa ingin menghilang, lakukan saja sementara, namun jangan lupa untuk memulai dan bangkit kembali. Cinta pada diri sendiri justru akan tumbuh lebih kuat ketika kita mau berusaha memberikan yang terbaik untuk diri kita sendiri.
Tidak ada cinta yang lebih nyata selain tindakan yang dilakukan oleh diri kita sendiri. Sesuatu yang akan terjadi di kemudian hari adalah gambaran dari apa yang kamu lakukan hari ini. Maka, daripada terus terjebak dalam bayang-bayang masa lalu, lebih baik arahkan fokus pada masa depan yang menunggu untuk dijalani. Seperti halnya seorang kekasih yang berkata, “Kalau kamu cinta, buktikan“, diri kita pun sebenarnya ingin hal yang sama: pembuktian nyata dari cinta terhadap diri sendiri.
Buku ini juga mengingatkan kita bahwa ketika kita merasa hidup ini stagnan atau berjalan di tempat, mungkin itu adalah salah satu warning atau pengingat dari diri sendiri untuk mengupayakan dan mulai bergerak. Kita harus melakukan sesuatu yang dirasa perlu untuk meningkatkan skill kita. Kita bisa melakukan kegiatan yang dirasa sangat diperlukan kita di masa depan, belajar hal baru untuk mengatasi kejenuhan dan melakukannya sesuai dengan kapasitas serta prioritas kita. jangan pernah menaruh standar hidupmu di standar hidup orang lain.
Kamu dan mereka adalah orang yang berbeda. Usaha dan hasilnya juga akan berbeda. Fokuslah pada apa yang kamu lakukan saat ini. Percayalah kamu juga bisa menggapai sesuatu yang kamu ingin meski di waktu dan tempat yang berbeda. Ada satu kalimat di akhir dalam buku ini yang menyiratkan bahwa, “Usahakan semuanya sebaik-baiknya, bersyukurlah sebanyak-banyaknya, nikmati setiap prosesnya dan turunkan ekspektasimu terhadap hasilnya, namun percayalah bahwa Tuhan tidak pernah diam terhadap usaha-usahamu, karena barangkali, belum waktunya semua itu sampai kepada yang diharapkan”.
Buku ini sangat cocok dibaca oleh siapa saja yang sedang merasa kehilangan arah, berusaha memahami dirinya sendiri, atau sedang berada dalam proses penyembuhan batin.
Buku ini memiliki gaya penulisannya yang sangat tulus dan menyentuh hati, sehingga membuat pembaca dapat ikut merasakan emosi yang dialami penulis.
Setiap bab menyampaikan pesan-pesan penyemangat yang disampaikan dengan hangat tanpa kesan menggurui, mampu merangkul dan menguatkan pembaca. Penulis berhasil menggambarkan berbagai perasaan manusia yang sering sulit diungkapkan, serta mengingatkan pentingnya bersyukur atas hal-hal kecil dalam hidup dan meyakini bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik, meski tak selalu sesuai harapan. (*ykib/umi).
Identitas buku:
Judul buku : Saat semua runtuh, aku masih punya diriku sendiri
Penulis : Ujwar Firdaus
Penerbit : PT Bukune Kreatif Cipta
Tahun Terbit : Cetakan pertama, 2023
Halaman : vi+230 halaman
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Cepu

