Sang Pemimpi

*Oleh Oktavia Eka Darnawati, S.Pd.

Pada kesempatan kali ini, saya akan meresensi novel yang berjudul “Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata. Sang Pemimpi merupakan novel kedua setelah Laskar Pelangi, yang melanjutkan kisah Ikal. Pada novel Sang Pemimpi ini, penulis menceritakan tentang mimpi, perjuangan, dan perjalanan tiga orang sahabat yaitu Ikal, Arai, dan Jimbron.

 Ikal yang merupakan narator dari cerita Sang Pemimpi ini. Ikal digambarkan sebagai seorang remaja yang penuh keraguan, tetapi memiliki semangat untuk belajar dan berkembang. Ia sering merasa minder karena keadaan keluarganya yang miskin, tetapi kejadian yang menimpa bapaknya dipermalukan di depan orang banyak serta dukungan dari Arai membuatnya berani bermimpi dan bertekad untuk mengejar impiannya.

Arai si simpai keramat, sepupu jauh dari Ikal yang sudah menjadi yatim piatu. Disebut simpai keramat karena ia merupakan satu orang yang tersisa di keluarganya, ibunya meninggal saat melahirkannya, kemudian disusul bapaknya yang meninggal saat ia kelas enam. Setelah kehilangan kedua orang tuanya, Arai tinggal bersama keluarga Ikal. Ia dikenal sebagai sosok yang penuh optimisme, berani, dan memiliki visi besar untuk masa depannya. Arai adalah simbol dari semangat juang yang tidak pernah padam dan menjadi salah satu penginspirasi untuk Ikal agar mewujudkan impiannya.

Selanjutnya,Jimbron yang juga sahabat Ikal sekaligus sahabat yang memiliki kepribadian unik. Ia sangat fanatik kepada kuda, ia sering menceritakan tentang berbagai kuda. Meskipun sering dianggap aneh, Jimbron memiliki hati yang tulus dan setia kepada teman-temannya.

Sang Pemimpi, cerita ini dimuali dari Ikal yang merupakan anak dari anak buruh tambang dari pulau Tanjong, sebuah pulau pelosok yang di mana pendidikan di pulau itu masih sangat cukup rendah, tak jarang anak di sana dapat melanjutkan ke SMP ataupun SMA, karena kebanyakan anak di sana setelah bisa membaca dan menulis akan mengikuti jejak orang tua mereka yaitu menjadi buruh tambang.

Mata pencaharian di Pulau Tanjong sebagian besar adalah buruh tambang termasuk bapak Ikal yang juga bekerja sebagai buruh tambang. Hingga datang suatu kejadian di mana bapak Ikal dipermalukan di depan pegawai buruh lainnya dan warga di pulaunya karena kesalahan pemberian surat kenaikan pangkat dari mandor tempat bapaknya bekerja. Sebelum kejadian itu, bapak Ikal sangat senang, karena setalah lama bekerja, akhirnya ia akan naik pangkat.

Setelah tiba di lapangan, ia duduk di antara para buruh yang menerima suarat kenaikkan pangkat lainnya. Namun setelah semua buruh dipanggil hanya tersisa satu orang yaitu bapak Ikal. Kemudian bapak Ikal berjalan meninggalkan tempat itu, banyak orang melihatnya tampak aneh, serta pembicaraan yang tidak mengenakkan didengar.

Mendengar kejadian itu, Ikal lari bersama Arai ke lapangan memeluk bapaknya. Kemudian datanglah Mandor dari tempat bapaknya bekerja meminta maaf atas kekeliruan yang ia buat, dan menjelaskan bahwa buruh yang tidak memiliki ijazah tidak akan menerima kenaikan pangkat, bapak Ikal memang tidak pernah bersekolah. Beliau buta huruf, tidak bisa membaca dan selamanya hanya akan menjadi buruh terendah yang tidak akan pernah dipromosikan untuk kenaikan pangkatnya. Sejak hari itu Ikal berjanji untuk sekolah setinggi- tingginya dan membuat bapaknya bangga.

Sejak SMP Ikal selalu masuk lima peringkat teratas, Ikal memang cukup pintar. Namun, Arai sahabatnya jauh lebih cerdas. Arai berhasil mendapatkan peringkat di SMP yang sama dengan Ikal. Arai dan Ikal tidak pernah bertengkar karena berebut sesuatu, Arai selalu mengalah pada Ikal dan Arai merupakan anak yang baik, dia tak segan memberikan miliknya kepada orang lain yang membutuhkan atau yang menyukai barang miliknya. Setelah menyelesaikan pendidikan SMP, Ikal dan Arai melanjutkan pendidikannya ke SMA dan tentunya setelah mendapat izin dari bapak dan ibunya. Ikal dan Arai sangat senang karena bapak mengizinkan Ikal dan Arai sekolah lagi, tak jarang orang tua di pulau Tanjong menyekolahkan anaknya sampai SMA.

Di SMA inilah Ikal dan Arai bertemu dengan Jimbron yang menurut anak lain aneh karena Jimbron sangat suka sekali dengan kuda. Ikal dan Arai selalu diceritakan tentang kuda dari berbagai negara, kebiasaannya, perawatan kuda, dll. Jimbron tidak bisa berhenti bercerita tentang kuda. Di SMA, Ikal berhasil meraih juara kedua dan tentunya juara pertama didapatkan oleh Arai. Ikal sangat rajin belajar ketika SMA karena dia sadar bahwa dia tak secerdas Arai, disempatkannya belajar setelah pulang sekolah dan selesai kerja. Arai, ikal, dan Jimbron bekerja serabutan di pasar untuk meringankan beban bapak agar dapat sekolah di SMA. Hingga suatu hari Arai menggambar peta di dinding kamarnya, kemudian Arai berkata, “Inilah perjalanan kita ke awal dunia, kita akan ke Jakarta mencari kerja dan beasiswa kemudian kuliah ke Eropa dan menjelejahai dunia.” Ikal pun menyetujui ide Arai yang sebenernya dia tidak terlalu yakin mengingat ia hanyalah anak dari buruh pabrik miskin, tetapi sekali lagi Arai menyakinkan bahwa mereka pasti bisa.

Setelah lulus dari SMA, Arai dan Ikal meminta izin kepada bapak pergi ke Jakarta untuk mencari kerja dan beasiswa, sesuai rencana awal mereka. Bapak pun mengizinkan mereka. Di Jakarta Arai dan Ikal sulit mendapat pekerjaan. Sudah berapa kali melamar kerja dan beasiswa hasilnya selalu sama, kegagalan yang mereka dapatkan. Mereka juga sempat diusir dari kos – kosan karena tidak mempunyai uang untuk membayar biaya sewa sehingga mereka menjadi gelandangan. Karena uang yang dipunyainya tak ada, dan hanya tersisa uang celengan yang diberi Jimbron, maka Ikal dan Arai segera membukanya dan mengambil uang dari celengan kuda punya Jimbron. Jimbron memang memiliki tingkah yang aneh tetapi dia sangat tulus dan baik, sebelum Ikal dan Arai berangkat ke Jakarta, ia memberikan celengan yang ia miliki ke Arai dan Ikal untuk tambahan uang selama di Jakarta.

Melihat kondisi itu, Arai pergi meninggalkan Ikal dan selembar surat yang berisikan ucapan maaf karena telah pergi dan di surat itu, ia menuliskan bahwa alasan pergi karena jika mereka masih bersama uang yang diberikan Jimbron tak akan cukup untuk menghidupi mereka selama sebulan, sehingga Arai pergi agar Ikal dapat makan setidaknya sebulan sebelum mendapatkan pekerjaan baru. Ikal menjalani hari demi hari sendirian di Jakarta. Hingga suatu hari ia mendapat pekerjaan yaitu menjadi tukang sortir koran dan melihat Ikal informasi dibukanya beasiswa ke Eropa. Kali ini, setelah mengikuti tes ia tampak pesimis karena sudah 14 kali ia mencoba mengikuti tes beasiswa selalu gagal. Setelah tes ia pulang ke kampung karena mendengar bahwa bapak sedang sakit.

Di kampung, ia menghabiskan waktu dengan ibu dan bapak serta ia juga sempat mengunjungi Jimbron. Jimbron menjadi pengurus kuda kebun binatang di desanya. Setelah beberapa hari pulang, Ikal menerima surat dari penyelenggara beasiswa Eropa. Dibukanya surat itu pelan- pelan bersama ibu dan bapak. Kali ini, Ikal diterima, mendapat informasi tersebut, ibu dan bapak juga ikut senang. Esok harinya, Ikal bergegas pergi ke Jakarta untuk mengkonfirmasi, tak sangka ia akan bertemu dengan Arai, si simpai keramat itu. Ia sangat bahagia dapat melanjutkan kuliah bersama Arai sahabatnya sesuai yang mereka rencanakan, dan berkeliling Eropa bersama.

Keunggulan novel:

  1. Cerita yang Inspiratif

Sang Pemimpi adalah novel yang memberikan nilai-nilai kehidupan. Cerita ini mengajarkan pembaca untuk tidak pernah berhenti bermimpi, meskipun keadaan hidup terasa sulit.

  1. Penggambaran Karakter yang Kuat

Setiap karakter dalam novel ini digambarkan dengan sangat baik. Pembaca dapat merasakan perjuangan, harapan, dan emosi yang dirasakan oleh Ikal, Arai, dan Jimbron

  1. Pesan Moral yang Dalam

Novel ini menyampaikan pesan moral yang kuat tentang pentingnya pendidikan, persahabatan, dan keberanian untuk melawan keterbatasan hidup.

  1. kata- kata yang puitis

Bahasa di novel ini puitis sehingga kalimatnya menjadi indah dan menarik, pembaca tidak menjadi bosan saat membacanya.

Kekurangan novel:

Cover novel “Sang Pemimpi” menurut saya kurang menarik, alangkah baiknya jika diberi warna terang agar sesuai dengan isinya yang berisi semangat- semnagat untuk meraih mimpinya sehingga pembaca lebih tertarik untuk membacanya. Terdapat kata- kata seperti naik pitam, hibah, dll yang mungkin akan membingungkan pembaca seperti anak SD.

Kesimpulan

Sang Pemimpi adalah novel yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan inspirasi dan motivasi bagi pembaca. Novel ini sangat cocok bagi siapa saja yang membutuhkan dorongan untuk bermimpi lebih besar dan berani menghadapi tantangan hidup. (ykib/okta).

 

Identitas buku :

Judul buku : Sang Pemimpi

Pengarang : Andrea Hirata

Penerbit : PT. Bentang Pustaka

Tahun terbit : 2006

Jumlah halaman : 266

ISBN : 978-602-291-663-5

*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Kalitidu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *